Mengemban Tanggung Jawab Ala Daud (1)

Ayat bacaan: 1 Samuel 17:34-35==========================”Tetapi Daud berkata kepada Saul: “Hambamu ini biasa menggembalakan kambing domba ayahnya. Apabila datang singa atau beruang, yang menerkam seekor domba dari kawanannya, maka aku mengejarnya, meng…

Ayat bacaan: 1 Samuel 17:34-35
==========================
“Tetapi Daud berkata kepada Saul: “Hambamu ini biasa menggembalakan kambing domba ayahnya. Apabila datang singa atau beruang, yang menerkam seekor domba dari kawanannya, maka aku mengejarnya, menghajarnya dan melepaskan domba itu dari mulutnya…”

Ada seorang musisi yang pernah berkata: “Saya merasa bahwa adalah tanggungjawab saya untuk menyampaikan musik yang bermutu.” Ia menyadari panggilannya dan tahu apa yang menjadi tanggung jawabnya. Saya mengenal anak muda ini dengan sangat dekat. Pada mulanya ia tidak mendapat dukungan dari orang tuanya yang menginginkan ia kuliah dan bekerja seperti layaknya banyak orang, bukan hidup tidak jelas sebagai musisi. Karena ia bersikukuh dengan pilihan hidupnya, orangtuanya pun tidak lagi bisa memaksa. Tapi ia harus berjuang sendirian tanpa dibantu. Pada awal karirnya ia sempat morat marit dan tidak jarang harus menjual beberapa benda miliknya untuk memenuhi kebutuhan hidup. Bukan menjadi kaya dalam waktu instan yang ia cari, tetapi bagaimana agar ia bisa menjalankan apa yang menjadi panggilannya dan berkomitmen penuh kepada tanggung jawab yang ia emban. Beberapa tahun bergumul, hari ini ia berhasil membuktikan kepada orang tuanya bahwa pilihannya tidaklah salah. Ia sukses bukan saja di negaranya sendiri tapi berdiri sejajar dengan para musisi senior di luar sana.

Dari pengalaman hidup musisi muda tadi kita bisa melihat bahwa tanggung jawab memerlukan pengorbanan dan keberanian. Seberapa jauh kita rela berkomitmen menjalankan tanggung jawab terhadap sesuatu yang dipercayakan kepada kita akan sangat menentukan sejauh mana kita bisa memenuhi tanggung jawab yang kita pikul. Banyak orang yang belum apa-apa sudah menyerah dan meninggalkan tanggung jawab kalau sudah mulai terasa berat. Lantas banyak pula yang mau menerima dengan senang hati sebuah tanggung jawab kalau disertai imbalan yang besar pula. Tapi bagaimana jika imbalannya kecil atau bahkan tidak ada sama sekali? Kebanyakan orang akan mengerjakannya asal-asalan dan tidak lagi menganggap penting sebuah tanggung jawab. Itupun masih untung kalau masih bersedia mengerjakan. Apakah kita memang harus mengukur keseriusan kita bekerja, menggantungkan tanggung jawab kepada tinggi rendahnya kompensasi atau upah saja?

Pengalaman Daud dalam mengatasi Goliat memiliki banyak pelajaran yang sangat baik buat hidup kita. Hari ini kita bisa belajar mengenai keseriusan dalam mengemban tanggung jawab ala Daud. .

Apa yang saya ambil sebagai ayat bacaan hari ini merupakan jawaban Daud kepada Saul saat Saul meragukan kemampuannya mengatasi Goliat. Ketika Daud maju dan mengatakan bahwa ia siap mewakili bangsa Israel untuk menghadapi Goliat, Saul berkata: “Tidak mungkin engkau dapat menghadapi orang Filistin itu untuk melawan dia, sebab engkau masih muda, sedang dia sejak dari masa mudanya telah menjadi prajurit.” (1 Samuel 17:33). Kalau hanya memakai logika, kita pun akan berkata sama seperti Saul. Sebab, bukankah Goliat dan pasukannya sudah berhari-hari mencemooh tentara Israel yang merasa takut untuk maju berperang? Logikanya, kalau tentara dengan perlengkapan dan kemampuan untuk berperang saja sudah tidak berani, bagaimana mungkin Daud belia yang masih kemerah-merahan bisa mengatasi raksasa dan bala tentaranya itu?

Daud merespon seperti ini. “Tetapi Daud berkata kepada Saul: “Hambamu ini biasa menggembalakan kambing domba ayahnya. Apabila datang singa atau beruang, yang menerkam seekor domba dari kawanannya, maka aku mengejarnya, menghajarnya dan melepaskan domba itu dari mulutnya. Kemudian apabila ia berdiri menyerang aku, maka aku menangkap janggutnya lalu menghajarnya dan membunuhnya. Baik singa maupun beruang telah dihajar oleh hambamu ini. Dan orang Filistin yang tidak bersunat itu, ia akan sama seperti salah satu dari pada binatang itu, karena ia telah mencemooh barisan dari pada Allah yang hidup.”Pula kata Daud: “TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu.” Kata Saul kepada Daud: “Pergilah! TUHAN menyertai engkau.” (ay 34-37).

Apa yang menjadi dasar Daud untuk berani tampil di depan? Dari jawaban panjang Daud ini kita bisa melihat bahwa tidak ada keraguan sedikitpun dalam dirinya bukan karena ia hebat dalam berkelahi, punya otot baja tulang kawat, pintar membidik dengan senjata dan lain-lain, tetapi semata-mata karena pengalamannya bersama Tuhan. Ia percaya bahwa mengandalkan Tuhan itu luar biasa hasilnya. Kalau beruang dan singa saja bisa ia kalahkan dengan adanya penyertaan Tuhan, kenapa Goliat dan pasukannya tidak?

Selain itu kita bisa pula melihat bahwa Daud sangat bertanggung jawab akan pekerjaannya, meski hanya sebagai gembala kambing domba milik ayahnya. Apakah ia dibayar untuk itu? Saya yakin tidak. Mungkin sekedar terima kasih pun tidak. Tapi perhatikan bagaimana besarnya komitmen Daud dalam melakukan tanggungjawabnya, dan disana Tuhan ternyata menyertainya dan menjaganya dari berbagai bahaya. Berkaca dari hal itulah ketika melihat Goliat Daud tidak perlu merasa takut. Kalau Tuhan ada bersamanya dan sudah berulang kali memberinya kekuatan untuk mengatasi hewan-hewan pemangsa yang buas, tentu Tuhan pun akan berbuat sama ketika ia harus berhadapan dengan Goliat.

Seandainya Daud tidak serius dalam bekerja, ia tidak akan pernah punya pengalaman bersama Tuhan. Kalau dia tidak serius mengemban tanggung jawabnya dalam menggembala, ia tidak akan pernah merasakan hebatnya penyertaan Tuhan dalam mengatasi kemustahilan. Jika itu yang terjadi, maka kisah Daud dan Goliat mungkin tidak akan pernah ada.

(bersambung)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply