Mengejar Kekayaan Sebagai Motivasi Bekerja (1)

Ayat bacaan: Amsal 23:4===================”Jangan bersusah payah untuk menjadi kaya, tinggalkan niatmu ini. Kalau engkau mengamat-amatinya, lenyaplah ia, karena tiba-tiba ia bersayap, lalu terbang ke angkasa seperti rajawali.””Kalau bukan untuk kaya, b…

Ayat bacaan: Amsal 23:4
===================
“Jangan bersusah payah untuk menjadi kaya, tinggalkan niatmu ini. Kalau engkau mengamat-amatinya, lenyaplah ia, karena tiba-tiba ia bersayap, lalu terbang ke angkasa seperti rajawali.”

“Kalau bukan untuk kaya, buat apa bekerja?” Demikian kata seseorang pada suatu kali. Secara umum bekerja diasosiasikan sebagai kegiatan untuk mencari nafkah, memenuhi kebutuhan-kebutuhan dalam hidup mulai dari makan, pakaian, perumahan sampai hal-hal lainnya baik yang memang penting maupun yang kurang atau tidak penting. Tapi selain untuk memenuhi kebutuhan hidup, ada banyak pula tujuan atau motivasi yang mendorong seseorang untuk bekerja. Misalnya demi gengsi, agar punya aktivitas atau sekedar melakukan sesuatu, untuk memenuhi keinginan orang tua, atau bahkan agar mendapat lampu hijau dari calon mertua, seperti yang kerap saya dengar dari banyak orang. Ada banyak hal yang menjadi dasar bagi orang untuk bekerja, termasuk untuk memperoleh hasil yang lebih dari sekedar memenuhi atau menafkahi kebutuhan yaitu untuk mengejar kekayaan seperti yang diucapkan seseorang di awal ilustrasi tadi.

Menjadi kaya. Itu boleh jadi menjadi motivasi orang dalam bekerja, tapi sesungguhnya bukanlah merupakan tujuan yang baik dan mendatangkan manfaat bagi kita. Sepintas mungkin terlihat benar, karena dengan kekayaan kita bisa membeli apapun yang kita mau tanpa harus banyak pertimbangan. Namun bukankah ada banyak hal-hal yang justru mendatangkan kerugian, menjadi sumber masalah atau bahkan menjadi awal kehancuran dari apa yang kita miliki? Bukan berarti kita tidak boleh menjadi kaya ; Tuhan pun ingin kita ada dalam kondisi berkelimpahan; tetapi kekayaan tidak akan pernah baik untuk dijadikan motivasi dalam bekerja. Keinginan untuk menjadi kaya cepat atau lambat akan menggoda orang untuk melakukan korupsi, mulai dari sedikit-sedikit sampai dengan mengemplang uang jutaan miliaran atau trilunan. Motivasi untuk menjadi kaya akan membuat orang yang mengadopsi pemikiran ini menghalalkan segala cara termasuk kalau memang harus, mengorbankan orang lain. Jalan untuk memperoleh lebih dari upah resmi pun ada banyak. Ada yang memilih jalan okultisme. Ada yang jadi kecanduan judi. Ada yang akhirnya merampok, mencuri, bahkan membunuh demi harta. Ada yang jatuh dalam dosa perzinahan karena hal ini. Masalahnya berapa banyak yang harus dikumpulkan untuk mencapai sebuah status kaya? Faktanya, manusia punya kecenderungan untuk sulit puas. Bukankah secara alami manusia akan berpikir bahwa apabila bisa mendapatkan penghasilan 2 kali lipat, kenapa harus puas dengan nominal standar? Tidak akan ada angka final yang bisa membuat kita mencapai kepuasan jika kita terus memandang hidup dari sisi ini. Tidak heran jika dikatakan akar dari segala kejahatan adalah cinta akan uang. (1 Timotius 6:10). Bermula dari mengejar harta, orang bisa terjerumus ke dalam berbagai dosa yang semakin lama akan semakin parah.

Pertanyaannya, apakah kekristenan melarang jemaat untuk kaya? Apakah kekristenan mengharamkan bekerja keras untuk mencari penghasilan? Tentu saja tidak. Seperti yang saya bilang diawal, Tuhan sendiri justru ingin kita berada dalam kondisi yang berkelimpahan, bukan berkekurangan atau pas-pasan. Yang dipermasalahkan bukanlah uangnya, tetapi motivasinya. Bukan uang, tetapi cinta uang. Menjadi kaya boleh saja dan tentu baik sepanjang diperoleh dengan cara-cara yang benar dan dipergunakan untuk menjadi saluran berkat dan memperluas Kerajaan Allah di muka bumi ini, tetapi itu tidak akan pernah baik apabila dijadikan dasar motivasi dalam bekerja.

Pengkotbah menulis panjang lebar mengenai betapa sia-sianya kekayaan sebagai motivasi hidup. Lihat ayat berikut ini: “Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Inipun sia-sia. Dengan bertambahnya harta, bertambah pula orang-orang yang menghabiskannya. Dan apakah keuntungan pemiliknya selain dari pada melihatnya? Enak tidurnya orang yang bekerja, baik ia makan sedikit maupun banyak; tetapi kekenyangan orang kaya sekali-kali tidak membiarkan dia tidur.” (Pengkotbah 5:11). Miskin bikin orang tidak bisa tidur, tapi kaya pun bikin sulit tidur juga. Pengkotbah mengatakan apa yang bisa membuat kita tidur nyenyak adalah mensyukuri apa yang kita peroleh sebagai hasil kerja kita tanpa memandang besarannya. “There is a serious and severe evil which I have seen under the sun..” kata Pengkotbah, “riches were kept by their owner to his hurt”. (ay 12). Mati-matian mengejar harta dengan motivasi yang salah adalah seperti orang yang berlelah-lelah menjaring angin, alias sia-sia. Semua itu bisa habis dalam sekejap mata. Yesus mengatakan bahwa niat mengumpulkan harta di dunia akan sia-sia, karena setiap saat ngengat dan karat bisa merusakkannya, pencuri pun bisa membongkar dan mencurinya. (Matius 6:19). Penulis Amsal mengingatkan demikian: “Jangan bersusah payah untuk menjadi kaya, tinggalkan niatmu ini. Kalau engkau mengamat-amatinya, lenyaplah ia, karena tiba-tiba ia bersayap, lalu terbang ke angkasa seperti rajawali.” (Amsal 23:4) Ia berkata: kalau pikiran kita mulai mengarah kepada niat untuk menjadi kaya, tinggalkanlah niat itu segera, karena sesuatu yang fana seperti itu setiap saat bisa lenyap tak berbekas. Mencari jalan pintas untuk menjadi kaya dalam sekejap mata tidak akan pernah membawa kebaikan.

(bersambung)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply