Mengedepan Kasih Persaudaraan, Membangun Rumah Kasih

Senin, 16 Juni 2014: Hari Biasa Pekan X
1Raja 21:1-16; Mazmur 5:2-3.5-6.7; Matius 5:38-42

“Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.” (Matius 5:39)

ANAK-anak dunia dikuasai hukum balas dendam. Mata ganti mata. Gigi ganti gigi. Anak-anak Tuhan dituntut menghayati hukum alternatif. Bukan balas dendam melainkan hukum kasih, bahkan mengasihi orang yang berbuat jahat kepada kita. Itulah yang disabdakan Yesus kepada para murid-Nya dan kepada siapa pun yang membaca Injil secara utuh.

Ini tidak mudah. Namun ini menjadi satu tantangan kita. Di tengah dunia yang sering dicekam kecemasan, ketakutan, kekhawatiran, dan kegalauan oleh karena kekerasan, ketidakadilan dan kebencian; kita diundang untuk mengedepankan kasih dan kemurahan hati. Itulah yang disebut rumah kasih.

Rumah kasih adalah rumah tempat Allah bersemayam. Ketika Allah bersemayam di dalam rumah kasih, hidup pun diwarnai dan ditandai oleh kelemahlembutan, keterbukaan, ketulusan, kejujuran dan kerendahan hati!

Di dalam rumah kasih terjadilah koneksitas, keterhubungan sinyal hati kita dengan sinyal Hati Tuhan yang penuh damai-sejahtera.

Suatu kali, salah seorang sahabatku yang kepadaku mengaku diri sebagai seorang ateis berkata begini. “Waktu saya masih mahasiswa, saya mencoba masuk ke berbagai gereja tertentu, rasanya kok panas ya.
Tetapi begitu saya masuk di gereja Katolik, rasanya kok adem. Sejuk.”

Kebetulan teman saya yang seorang ateis itu bekerja di satu toko yang berurusan dengan perangkat komunikasi seperti Blackberry, Android, dan sejenisnya. Saya pun menjawab kepadanya, “Seperti halnya saat BB kita menjadi panas ketika sedang proses pencarian sinyal tetapi tidak nyambung, bahkan membuat baterai pun cepat habis; demikianlah bisa jadi hidup kita. Namun, begitu perangkat kita mendapat sinyal yang pas dan baik, maka BB atau HP kita jadi adem, tidak panas. Kiranya, sinyal di hatimu memang nyambung dan cocok dengan gereja Katolik!”

Rumah kasih menjadi rumah yang bisa memberi rasa teduh bukan gaduh, rasa damai bukan rasa ramai, rasa tenang bukan rasa gamang. Rumah kasih itu ditandai sikap ramah bukan sikap marah, suasana persaudaraan bukan permusuhan, keakraban bukan keakuan apalagi keangkuhan.

Dewasa ini, Kapel Adorasi Ekaristi Abadi menjadi salah satu rumah kasih yang menawarkan keteduhan. Dalam sembah sujud di hadirat Sakramen Mahakudus, kita memperoleh asupan rohani yang membuat hati kita dibebaskan dari rasa sakit, kebencian, apalagi balas dendam. Bahkan, nutrisi-nutrisi rohani yang kita timba dalam keheningan yang suci itu pun mendorong kita untuk selalu bersikap murah hati kepada siapa pun.

Tuhan Yesus Kristus, berkat daya Roh Kudus-Mu, persaudaraan dan kerukunan selalu menjadi kerinduan para bangsa. Roh Kudus mengubah kebencian dan balas dendam menjadi cinta-kasih dan pengampunan, perselisihan menjadi persatuan, perpecahan menjadi pemulihan dan perdamaian.

Semoga dunia ini menjadi rumah kasih bagi semua orang tanpa diskriminasi apa pun suku, agama, ras dan ideologinya, kini dan sepanjang masa. Amin.

Photo credit: Ilustrasi (Courtesy of Dean Bowen)

Artikel lain yang banyak dibaca:

5 pencarian oleh pembaca:

  1. renungan singkat Matius 5 : 38 - 42
Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: