Mengatasi Mood

Ayat bacaan: Markus 6:31b
=================
“Sebab memang begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi, sehingga makanpun mereka tidak sempat.”

Saya membawahi beberapa anggota yang sebenarnya punya kemampuan sangat baik, tetapi seringkali mereka tidak maksimal dengan alasan mood. “Maaf, mood saya sedang jelek, mas..”  atau “maaf, waktu itu saya sedang tidak mood…” itu sangat sering saya dengar dipakai sebagai excuse atas hasil kerja yang tidak maksimal tersebut. Karena itulah setiap saya mengajar, saya selalu mengajak siswa-siswi saya untuk tidak bergantung dengan mood dalam melakukan yang terbaik. Saya sendiri butuh proses bertahun-tahun untuk bisa mengatasi mood yang terkadang bisa sangat mengganggu. Dengan usaha yang giat, saya akhirnya mampu mengatasi hal yang saya anggap sebagai salah satu kendala terbesar penghalang kesuksesan ini. Bayangkan jika saya tunduk terhadap mood, bagaimana saya bisa terus menulis renungan setiap hari selama bertahun-tahun? Seperti anda dan orang-orang lainnya, saya pun terkadang berada dalam situasi tidak mood untuk menulis karena kelelahan, tidak fit dan sebagainya. Tetapi ketika saya terus fokus dalam menjalani tugas-tugas saya, inspirasi mengalir juga dengan sendirinya. Mood bisa naik turun, itu lumrah, tetapi alangkah sayangnya apabila kita membiarkan mood yang naik turun ini dalam bekerja. Ada banyak orang yang saya kenal punya potensi besar, tetapi apa yang menjadi kendala adalah betapa seringnya mood menghalangi mereka untuk mengeluarkan yang terbaik dari diri mereka. Mereka berpikir bahwa mereka tidak bisa melakukan apa-apa dalam mengatasi mood yang tidak stabil ini, tetapi sesungguhnya kita bisa menundukkan atau bahkan menciptakan mood untuk memberi hasil yang terbaik dari segala sesuatu yang kita kerjakan.

Kita bisa belajar lewat Yesus sendiri dalam masa-masa pelayananNya di muka bumi ini. Dalam menjalani itu, seringkali Dia dan murid-muridNya dikerubungi ribuan orang sekaligus dengan permasalahan sendiri-sendiri. Betapa beratnya tugas itu, dan bisa dibayangkan seandainya Yesus punya sikap yang gampang tunduk terhadap mood ini. Kita bisa mengambil contoh dalam Markus 6 ketika Yesus dan murid-muridNya tengah melayani begitu banyak orang. Yesus menyadari murid-muridNya bisa mengalami kelelahan apabila terus menerus melayani ribuan orang tanpa henti.Alkitab mencatat: “Sebab memang begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi, sehingga makanpun mereka tidak sempat.” (Markus 6:31b). Seperti itulah sibuknya. Karena itu Yesus pun mengajak mereka untuk pergi ke tempat sunyi sejenak untuk beristirahat. (ay 31a). Apa yang terjadi selanjutnya? Ketika mereka berangkat dengan perahu untuk menyendiri sejenak, ribuan orang itu masih terus berlari mengikuti mereka lewat jalan darat. (ay 33). Yesus dan para murid sudah sangat lelah. Tetapi melihat begitu banyaknya manusia yang butuh pertolongan, “maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka.” (ay 34). Yesus memilih untuk mengatasi moodnya dengan rasa belas kasihan sehingga Dia terus melanjutkan pelayanannya. Dan selanjutnya dari kisah ini kita bisa melihat datangnya mukjizat lewat lima roti dan dua ikan yang sudah sangat kita kenal.

Yesus menunjukkan sikap yang fokus kepada tugas dan tidak tunduk kepada mood dalam menjalankannya. Bagaimana Yesus bisa seperti itu? Caranya adalah dengan mengetahui garis tugas atau panggilan dan kemudian terus memfokuskan diriNya secara penuh terhadap tugas yang dibebankan Bapa kepadaNya itu, dan tentu saja itu akan sangat didukung oleh rasa belas kasihan yang Dia miliki atas manusia. Kita bisa melihat bahwa Yesus tahu betul apa yang menjadi tugas atau ‘makananNya’, seperti yang dicatat dalam ayat berikut: “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.” (Yohanes 4:34). Belajar dari hal ini, kita pun perlu benar-benar tahu terlebih dahulu apa yang menjadi panggilan dan tugas kita agar kita mampu mengatasi masalah mood ini. Tanpa tahu panggilan kita maka akan sangat sulit bagi kita untuk tetap fokus dalam mengeluarkan yang terbaik dari diri kita.

Para murid dan Rasul pewarta kabar gembira setelahnya pun sama. Meski apa yang mereka hadapi sangatlah sulit, mereka tidak patah semangat dalam melakukannya. Lihatlah ‘curhat’ an Paulus berikut ini: “Apakah mereka pelayan Kristus? –aku berkata seperti orang gila–aku lebih lagi! Aku lebih banyak berjerih lelah; lebih sering di dalam penjara; didera di luar batas; kerap kali dalam bahaya maut. Lima kali aku disesah orang Yahudi, setiap kali empat puluh kurang satu pukulan, tiga kali aku didera, satu kali aku dilempari dengan batu, tiga kali mengalami karam kapal, sehari semalam aku terkatung-katung di tengah laut. Dalam perjalananku aku sering diancam bahaya banjir dan bahaya penyamun, bahaya dari pihak orang-orang Yahudi dan dari pihak orang-orang bukan Yahudi; bahaya di kota, bahaya di padang gurun, bahaya di tengah laut, dan bahaya dari pihak saudara-saudara palsu. Aku banyak berjerih lelah dan bekerja berat; kerap kali aku tidak tidur; aku lapar dan dahaga; kerap kali aku berpuasa, kedinginan dan tanpa pakaian, dan, dengan tidak menyebut banyak hal lain lagi, urusanku sehari-hari, yaitu untuk memelihara semua jemaat-jemaat.” (2 Korintus 11:23-28). Lihatlah betapa mahalnya harga yang harus dibayar Paulus untuk menyampaikan berita keselamatan bagi manusia. Atas segala penderitaan itu, bukankah Paulus punya lebih dari cukup alasan untuk berhenti melakukannya? Tapi kita bisa melihat bagaimana sikapnya untuk terus fokus dan tidak tunduk kepada mood dalam menjalankan panggilannya, dan itu semua ia katakan untuk memelihara semua jemaat-jemaat yang diberikan Tuhan kepadanya, menyampaikan berita keselamatan dan menjaga mereka semua untuk tetap berada pada jalan tersebut. Apabila Paulus tergantung pada mood dalam menjalankan tugasnya maka ia tidak akan pernah bisa berhasil dengan luar biasa seperti yang kita ketahui.

Jangan biarkan mood mempengaruhi kinerja kita. Kita tidak boleh tergantung pada mood tetapi justru harus mampu mengendalikan atau bahkan menciptakan mood positif dalam bekerja. Mungkin anda butuh proses seperti saya, tetapi mulailah sekarang juga agar jangan lebih banyak lagi waktu yang terbuang sia-sia. Kemampuan, bakat, tingginya pendidikan, ketrampilan dan sebagainya memang sangat penting, tetapi mood seringkali menjadi penghalang terbesar kita untuk sukses. Jangan pakai alasan mood untuk membenarkan minimnya produktifitas kerja kita, atasilah segera agar anda bisa memberikan hasil yang terbaik dalam segala sesuatu yang anda kerjakan.

Overcome your mood before it overcomes you

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: