Mengasihi dan Mengampuni

Ayat bacaan: 1 Yohanes 2:10
======================
“Barangsiapa mengasihi saudaranya, ia tetap berada di dalam terang, dan di dalam dia tidak ada penyesatan.”

mengasihi dan mengampuni

Perselisihan atau pertengkaran terjadi lebih banyak di antara teman akrab, pasangan, saudara atau keluarga dibandingkan dengan orang yang tidak atau kurang kita kenal. Itu adalah fakta yang sulit untuk dibantah. Percikan-percikan api kecil bisa timbul setiap saat, dan kekecewaan yang berlebihan bisa membuat kita cepat tersinggung. Kita cenderung mengharapkan orang-orang yang terdekat sebagai manusia yang sempurna, yang menurut kita tidak boleh sedikitpun membuat kesalahan. Kita lupa bahwa sedekat apapun mereka tetaplah manusia yang bisa berbuat salah pada suatu ketika. Tersinggung, lalu sakit hati, tidak jarang menjadi dendam dan sulit untuk memaafkan. Seorang Pendeta pernah bercerita bahwa ia sudah menjumpai begitu banyak kasus kepahitan yang berasal dari perselisihan dengan orang-orang terdekat. Suami dan istri bercerai, orang tua tidak mau lagi mengakui anaknya, anak yang meninggalkan orang tuanya, sesama saudara kandung yang ingin saling menghancurkan dan mencelakakan, itu semua semakin tidak sulit kita lihat akhir-akhir ini. Bukannya semakin baik, tetapi manusia justru semakin menjadi orang-orang eksklusif, absolut, tidak mau kalah dan selalu merasa benar. Semakin lama manusia semakin menikmati kebencian, semakin sulit mengampuni, cenderung lebih memilih memperpanjang perbedaan dan terus bertikai ketimbang mencari jalan penyelesaian dan berdamai. Bahkan tidak jarang pula kita mendapati pertumpahan darah justru di kalangan keluarga atau saudara sendiri. Ini adalah hal yang memprihatinkan. Bisakah anda bayangkan betapa sedihnya hati Tuhan melihat perilaku-perilaku seperti ini?

Ada banyak orang mengaku bahwa mereka ada dalam terang. “Tentu saja saya dalam terang. Bukankah saya menerima Yesus? Itu artinya saya ada dalam terang, dong…” itu ada dalam benak banyak orang tanpa berpikir panjang atas cara hidup atau sikap hati mereka. Bersama Terang Dunia, memang kita seharusnya pun berada dalam terang. Bukan cuma berada dalam terang, tetapi seharusnya kita pun menjadi terang bagi banyak orang. Seperti itulah kita seharusnya, seperti yang dikatakan Yesus dalam Matius 5:14-16. Tetapi perhatikanlah bahwa Yohanes menyinggung hal ini dengan tegas. Tolok ukur apakah kita berada dalam terang atau tidak sesungguhnya tergantung dari satu hal penting, yaitu sejauh mana kita mengasihi saudara kita. Perhatikanlah ayat berikut ini: “Barangsiapa mengasihi saudaranya, ia tetap berada di dalam terang, dan di dalam dia tidak ada penyesatan.” (1 Yohanes 2:10). Hal ini ia katakan melanjutkan sebuah seruan yang mungkin kontroversial bahkan bagi sebagian orang hari ini: “Barangsiapa berkata, bahwa ia berada di dalam terang, tetapi ia membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan sampai sekarang.” (ay 9).  Jangan mengaku dalam terang jika masih menyimpan kebencian atau dendam terhadap saudaramu sendiri. Seperti itulah kira-kira seruan Yohanes. Mari kita lanjutkan satu ayat lagi setelahnya: “Tetapi barangsiapa membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan dan hidup di dalam kegelapan. Ia tidak tahu ke mana ia pergi, karena kegelapan itu telah membutakan matanya.” (ay 11).

Mengapa Yohanes bisa berkata seperti itu? Alasannya jelas. Waktu-waktu yang ia jalani bersama Yesus telah membuktikan sendiri bagaimana Yesus mengasihi manusia tanpa pamrih, tanpa batas. Dari situ ia tahu betul bahwa Allah bukan saja penuh kasih, tetapi Allah adalah kasih itu sendiri. Oleh sebab itulah Yohanes bisa berkata dengan tajam bahwa “Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.” (1 Yohanes 4:8). Tidak mengenal Allah, itu artinya berada di dalam gelap. Kita mengaku percaya kepada Kristus, tetapi kita tidak mengenal pribadiNya sebagai kasih, itu artinya kita tidak berada di dalamNya. Dengan kata lain, tidak mengasihi berarti kita tidak berada di dalam terang, melainkan masih terkurung jauh di dalam gelap. Dan jelas, berada dalam kegelapan akan membuat kita terus terpengaruh terhadap banyak penyesatan.

Berulang kali Yesus sudah mengingatkan kita akan pentingnya mengasihi saudara-saudara kita dan berhenti menabur atau mempertahankan kebencian. Lihat bagaimana jawaban Yesus dalam menanggapi pertanyaan Petrus akan jumlah maksimal dalam memberi pengampunan terhadap perbuatan dosa yang dilakukan oleh saudara sendiri. “Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Yesus berkata kepadanya: “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.” (Matius 18:21-22). Tujuh puluh kali tujuh kali, menunjukkan jumlah yang tidak terbatas dalam memberi pengampunan. Lebih lanjut bahkan dikatakan bahwa adalah percuma buat kita berdoa apabila masih menyimpan ganjalan, sakit hati, kebencian atau dendam terhadap orang lain. “Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu.” (Markus 11:25). Tidak mau mengampuni orang lain, maka Tuhan pun tidak akan mau mengampuni kita. (ay 26).

Seringkali kita berdalih dan mengatakan, “untuk apa saya mengampuni sementara ia tidak juga mengakui kesalahannya?” Soal mengampuni sesungguhnya berasal dari kita, bukan tergantung dari orang lain. Apabila kasih Kristus benar-benar mengalir dalam hidup kita, itu akan mendatangkan terang yang membuat kita bisa memberi pengampunan. Ada pula yang berdalih, “tetapi ia sudah sangat keterlaluan, bagaimana mungkin bisa dimaafkan?” Itupun tidak cukup menjadi alasan bagi kita untuk mendendam. Kurang apa penderitaan yang dialami Yesus? Penyiksaan di luar batas perikemanusiaan, yang dilakukan oleh manusia yang katanya beradab, dipaku kaki dan tangannya, dipasangi mahkota duri hingga mati di atas kayu salib, itu merupakan sebuah siksaan dengan hinaan yang luar biasa kejinya. Tapi apa yang dilakukan Yesus? Di atas kayu salib itu Yesus masih meminta pengampunan buat para penyiksanya! “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” (Lukas 23:34).  Apakah pada saat itu mereka sudah menyadari kesalahan mereka dan mohon ampun? Tidak. Tapi Yesus tetap menyerukan pengampunan. Ini adalah hal luar biasa yang seharusnya bisa menjadi teladan untuk kita semua. Tidak satupun kita ingin binasa. Kita mungkin telah berbuat dosa yang sangat besar, tetapi Tuhan tetap mau mengampuni meski kesalahan kita sudah sedemikian buruknya sekalipun. Jika Tuhan saja mau berbuat demikian, siapakah kita yang merasa punya hak lebih untuk bisa tidak mengampuni?

Adalah penting bagi kita untuk menjaga kondisi hati kita setiap saat. Mengapa hati? “sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan.” (Markus 7:21-22). Dan, “Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang.” (ay 23). Mengampuni itu merupakan kewajiban bagi kita dan bukan sesuatu yang bisa kita pilih-pilih. Mengasihi saudara kita, terlepas dari kekurangan-kekurangan mereka, itulah yang membuktikan apakah kita berada di dalam terang atau tidak, apakah kita masih di jalan yang benar untuk memperoleh segala janji Allah atau tidak. Adakah orang yang masih anda ikat dengan kebencian di dalam hati anda? Adakah orang yang anda anggap belum layak untuk anda ampuni? Berikan pengampunan sekarang juga. Jika anda tidak sanggup, berdoa dan mintalah Roh Kudus untuk memampukan anda. Jangan  biarkan diri anda terus berada dalam kegelapan. Terang tengah menanti kehadiran anda saat ini juga. Masuklah segera ke dalamnya.

Kita tidak akan pernah hidup dalam terang selama kebencian masih ada


Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: