Mengapa Yesus Tidak Pernah Berkata bahwa Ia adalah Allah?

September 24, 2017Mengapa Yesus Tidak Pernah Berkata bahwa Ia adalah Allah? Tano Shirani Self Management, Faith and Spirituality 0

Kamu datang ke sebuah pertemuan bersama sahabatmu. Sebut saja namanya Joni. Berkenalan dengan beberapa orang. “Saya Dokter Joko.” “Saya Dokter Jono.” “Saya Dokter Jatmiko.” Kamu heran. Mungkin bertanya-tanya. Sungguhkah mereka ini dokter? Lalu ada satu orang lagi. “Saya Joshua.” Pikirmu, ada satu yang bukan dokter.


Tiba-tiba Joni sesak napas. Langsung limbung. Jatuh. Tergeletak. Joko, Jono, Jatmiko hanya saling berpandangan. Joshua langsung bangkit. Mengeluarkan dari tasnya sebuah stetoskop. Ia memeriksa Joni. Wajahnya tegang. Joni semakin pucat. Joshua mengeluarkan alat-alat lain dan segera membedah dada Joni. Selang kecil dimasukkan. Joni kembali bernapas. Nah, menurutmu, siapakah dokter yang sesungguhnya?

Bayangkan kamu hidup di abad pertama Masehi.

Entah sudah berapa kali kamu mendengar orang berkata “Saya Mesias,” “Saya Pembebas yang dinantikan,” “Saya utusan Allah,” dan entah apa lagi. Kamu tidak mudah percaya. Lebih serius lagi, orang yang secara terang-terangan berkata, “Saya Allah,” akan langsung diciduk dan dijatuhi hukuman mati karena ia telah menghujat Allah.


Yesus bukan orang bodoh. Tidak mungkin Ia berkata, “Saya Allah.” Ia bisa langsung dihukum mati. Ia memilih strategi khusus. Misalnya, dengan rumusan “Aku adalah…” yang menggemakan pewahyuan diri Allah kepada Musa “Aku adalah Aku.” (Kel 3:14)


Namun demikian, kata-kata-Nya yang selalu memancing reaksi adalah: “Dosamu diampuni.” Di zaman ketika penyakit kerap dipahami sebagai akibat dosa, Yesus melihat dengan jelas, bahwa itulah pintu yang terbuka.


Kepada orang lumpuh yang ingin sembuh, Yesus berkata: “Dosamu diampuni” (baca kisahnya, misalnya, dalam Markus 2:1-12). Orang langsung kebakaran jenggot. Gila! “Mengapa orang ini berkata begitu? Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri?” (Markus 2:7).


Yesus justru menantang. “Manakah lebih mudah, mengatakan kepada orang lumpuh ini: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalan? Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa”—berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu—: “Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!” (Markus 2:9-11).


Ketika orang lumpuh yang diampuni dosanya itu tiba-tiba sembuh, semua orang dihadapkan pada sebuah bukti tak terbantahkan. Yesus memilih untuk tidak mengatakan bahwa Ia adalah Allah, tetapi Ia secara tajam dan jeli membuktikan bahwa memang Ia adalah Allah.

“Di manakah dalam Alkitab Yesus berkata bahwa Ia adalah Allah?”

Jawabnya jelas: “tidak ada.” Pihak yang ngotot bahwa segalanya harus didasarkan pada ayat eksplisit dalam Alkitab menggunakan ini untuk membuktikan bahwa Yesus bukanlah Allah.


Pertanyaan yang lebih cerdas adalah: “Mengapa Yesus tidak berkata terus terang bahwa Ia adalah Allah?” Jawabnya jelas: Yesus adalah orang cerdas yang memilih strategi pewartaan dan pewahyuan diri-Nya secara jitu. Untunglah, Yesus tidak pernah berkata, “Saya Allah.” Dengan itu, Ia bisa melanjutkan misi-Nya hingga saat akhir-Nya tiba.


Tuduhan “Ia menghujat Allah karena menyamakan diri dengan Allah” adalah senjata yang dipakai oleh musuh-musuh-Nya. Kuasa-Nya untuk mengampuni dosa diperlihatkan secara menohok untuk membuktikan bahwa Ia adalah Allah yang datang untuk mengampuni manusia.


Bahkan saat tergantung di salib, Yesus membuktikannya sekali lagi. Kepada penjahat yang disalibkan di sebelah-Nya, Ia berkata: “Pada hari ini juga engkau akan bersama-Ku di Firdaus.” Artinya, “Dosamu diampuni!”


Smart move, Jesus!


Sumber: Inspire.com

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply