Mengapa Tuhan Tidak Mendikte Penulis Alkitab?

September 20, 2017Mengapa Tuhan Tidak Mendikte Penulis Alkitab? Tano Shirani Self Management, Faith and Spirituality 0

Abad pertama Masehi. Jumlah pengikut Yesus makin bertambah. Kisah tentang Yesus makin luas diceritakan. Dari mulut ke telinga. Banyak orang terlibat sebagai pencerita. Banyak versi beredar. Baru setelah empat puluh tahun berlalu, sekitar tahun 70, muncullah sebuah tulisan agak lengkap tentang hidup Yesus. Biografi Yesus itu dikenal sebagai “Injil.”


Kata ini berasal dari kata Yunani, euaggelion, yang berarti “kabar baik.” Yesus tidak hanya membawa “kabar baik” dalam arti memperkenalkan jalan keselamatan. Yesus sendiri juga adalah “kabar baik.” Seluruh diri-Nya, hidup, tindakan, ucapan-Nya, adalah “kabar baik.”


Penulis itu, siapa pun dia, menghasilkan sebuah Injil yang dikenal sebagai Injil Markus. Sementara itu, dihasilkan pula tulisan yang berisi kumpulan perkataan Yesus. Istilah teknis untuk sumber yang berisi kumpulan perkataan Yesus itu adalah Q (dari Bahasa Jerman Quelle, yang berarti “sumber”).


Kira-kira dua puluh tahun kemudian, seorang lain menulis sebuah biografi Yesus. Jauh lebih panjang, dengan lebih banyak perkataan Yesus. Penulis Injil Matius, siapa pun dia, menggunakan Injil Markus dan Q, serta sumber khas yang ia punya.


Seorang lain, kurang lebih pada masa yang sama, menulis pula sebuah biografi Yesus. Ia juga melanjutkannya dengan kisah tentang perkembangan para pengikut Yesus. Biografi Yesus yang ditulisnya kemudian dikenal sebagai Injil Lukas, sementara kisah lanjutannya adalah Kisah Para Rasul. Penulis ini, siapa pun dia, menggunakan pula Injil Markus dan Q, serta sumber khas yang ia punya.


Baru sekitar dua puluh tahun kemudian, ada seorang lain yang menulis biografi Yesus, dengan ajaran yang lebih mendalam. Sangatlah mungkin bahwa penulis ini, siapa pun dia, menggunakan Injil Markus, Injil Matius, Injil Lukas, dan sumber-sumber lain. Biografi Yesus ini kemudian dikenal sebagai Injil Yohanes.


Demikianlah, ada empat biografi Yesus, dengan sudut pandang khas masing-masing. Para penulisnya tidak pernah saling berdiskusi. Tidak pula mereka berpikir bahwa biografi Yesus yang mereka tulis itu pada suatu hari akan menjadi bagian Alkitab, Kitab Suci Kristiani. Masing-masing digerakkan oleh dorongan Roh Allah sendiri, seturut konteksnya.

Kelemahan manusiawi tidak membuat Tuhan khawatir atau gentar.

Kisah yang disampaikan secara lisan tidak berhenti dengan munculnya biografi Yesus. Salinan-salinan tulisan biografi Yesus dilakukan dengan tangan. Kesalahan penulisan dalam proses itu pun tak terhindari. Pihak yang gemar mencari kesalahan dalam Kekristenan, akan mengggunakan ini sebagai bukti bahwa kebenaran Alkitab harus dipertanyakan.


Sebaliknya, dari sudut pandang sejarah Kekristenan, proses semacam ini justru memperteguh kebenaran Alkitab. Dengan ini diperlihatkan kekhasan cara bertindak Tuhan. Tuhan tidak mendiktekan kata demi kata kepada penulis suci. Tuhan menghormati kemerdekaan mereka. Tuhan tahu bahwa secara manusiawi sangatlah mungkin ada kesalahan dalam proses itu. Pada saat yang sama, Tuhan sangat percaya bahwa dalam diri para penulis suci itu sudah Ia tanamkan kemampuan untuk mengenali-Nya, termasuk mengenali apa yang Ia kehendaki supaya dituliskan.

Tuhan berani ambil risiko menggunakan manusia sebagai sarana pewahyuan diri-Nya.

Tuhan menggerakkan daya batin mereka untuk menuliskannya. Kuasa Roh Tuhan menjamin bahwa dengan segala keterbatasan manusiawi para penulis suci itu, tidak ada kesalahan dalam penyampaian kebenaran yang berkaitan dengan iman dan moral. Konsekuensinya, iman Kristiani yang percaya akan kebenaran Alkitab memang hanya diperuntukkan bagi mereka yang mendapat anugerah keberanian untuk percaya akan keberanian Tuhan yang semacam itu.


Sumber: Inspire.com

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply