Mengapa Penting Ada Corpus (Tubuh) Yesus pada Salib?


Mengapa Penting Ada Corpus (Tubuh) Yesus pada Salib? Tano Shirani Self Management, Faith and Spirituality


Sesudah menciptakan alam semesta dan makhluk-makhluk lain dengan kuasa sabda-Nya, Allah berhenti dan memandang dengan teliti realitas diri-Nya sendiri. Allah ingin menciptakan manusia seperti diri-Nya sendiri. Maka, diciptakanlah manusia, laki-laki dan perempuan. Demikianlah, tubuh manusia, laki-laki dan perempuan, menyuarakan realitas diri Allah.


Tubuh laki-laki dan tubuh perempuan berada di taman dalam keadaan telanjang. Mereka sungguh merdeka, mampu saling memandang tubuh telanjang mereka dan sedikit pun tidak merasa malu. Cara mereka saling memandang tubuh sungguh murni, tanpa sedikit pun ada kehendak untuk menguasai, tanpa sedikit pun ada rasa terancam akan digunakan secara sepihak oleh yang lain.

Segalanya tiba-tiba berubah.

Buah terlarang mereka ambil dari pohon. Satu gigitan cukup. Mata terbelalak. Tubuh telanjang yang sama kini mereka pandang berbeda. Ada rasa malu. Tubuh telanjang harus dilindungi dari cara memandang yang telah keruh oleh nafsu. Daun-daun pohon dirajut jadi pakaian. Muncul rasa terancam. Muncul rasa takut. Muncul hasrat untuk memanfaatkan yang lain.


Alur kisah dosa terus bergulir. Bertambah banyak. Bertambah parah. Bertambah suram. Tubuh dianggap sebagai musuh. Banyak orang terjerat dalam dosa. Tubuh yang kasat mata dinilai lebih rendah daripada sisi manusia yang tidak terlihat. Keterpecahan dalam diri manusia semakin pedih. Semakin tak berdaya manusia melepaskan diri dari dosa.

Semua terlihat jelas di mata Allah. Tidak ada cara lain.

Untuk menyelamatkan manusia, arti sejati tubuh manusia harus dipulihkan seperti pada awal mula. Allah sendiri harus mewujud dalam tubuh manusia. Inkarnasi, menjadi daging, Allah memeluk tubuh manusia. Dengan memandang tubuh insani Yesus, manusia kembali diingatkan: seperti itulah keluhuran tubuh laki-laki dan perempuan pada saat diciptakan.

Tiga tahun berlalu.

Dalam tahun-tahun itu, banyak manusia diberi kesempatan untuk memandang Allah yang hadir di tengah mereka dalam wujud tubuh insani Yesus. Sayangnya, pesan yang dibawa-Nya dihadapi secara beringas. Banyak yang merasa terancam. Siasat licik dilancarkan. Hingga akhirnya, Yesus ditangkap, diadili, dihukum mati. Tubuh insani Yesus ditelanjangi. Diremehkan. Dilukai. Dihancurkan.


Di Golgota, satu tubuh insani itu sungguh berbeda dari dua tubuh insani penjahat yang juga disalib di sana. Di salib itu, tubuh insani Yesus menyuarakan kembali secara lantang arti asali tubuh laki-laki dan perempuan: “Pandanglah tubuh-Ku yang tersalib ini. Kayu hina ini punya nilai berbeda karena ada tubuh-Ku ini. Seperti inilah kesungguhan-Ku untuk memulihkan tubuh insanimu, agar kembali pada keluhurannya.”

Sekian abad dan sekian generasi telah berlalu sejak peristiwa itu.

Tradisi Katolik melanjutkan pentingnya tubuh insani Yesus yang tergantung pada salib. Keyakinan yang dipegang dan tersebar menjadi salah satu identitas Katolik menegaskan, bahwa sangatlah penting ada corpus pada salib.


Uskup Agung Fulton J. Sheen pernah mengatakan bahwa salib adalah “ranjang pengantin”. Di sana, Sang Mempelai Laki-Laki, Yesus, menyerahkan tubuh-Nya kepada Gereja sebagai Sang Mempelai Perempuan. Tanpa adanya corpus pada salib, Gereja kehilangan Sang Mempelai Laki-Laki yang menyerahkan diri di “ranjang pengantin” itu. Dari cinta Sang Mempelai Laki-Laki yang sedemikian total itulah mengalir berkat kehidupan tanpa henti.

Pandanglah tubuh Yesus pada Salib

… dan dengarkanlah jeritan tubuhmu sendiri, sebagai laki-laki dan sebagai perempuan, dan izinkan rahmat ilahi mengalir ke dalam dirimu.


Selamat Pesta Salib Suci!


Sumber: Inspire.com

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply