Mengalami “Community Service Learning”

INI adalah catatan reflektif atas pengalaman mengikuti pelatihan Pengembangan Kepribadian Mahasiswa Beranjak dari sebuah kegiatan yang diselenggarakan oleh PGSD yaitu PPKM II, saya menjadi paham akan beberapa kebiasaan yang acap kali mungkin saya lakukan dan terjadi dalam relasi keseharian saya dengan orang lain. Namun hal itu belum saya sadari bahwa itu merupakan kebiasaan-kebiasaan yang ada […]

INI adalah catatan reflektif atas pengalaman mengikuti pelatihan Pengembangan Kepribadian Mahasiswa

Beranjak dari sebuah kegiatan yang diselenggarakan oleh PGSD yaitu PPKM II, saya menjadi paham akan beberapa kebiasaan yang acap kali mungkin saya lakukan dan terjadi dalam relasi keseharian saya dengan orang lain. Namun hal itu belum saya sadari bahwa itu merupakan kebiasaan-kebiasaan yang ada dalam setiap pribadi.

Sungguh kegiatan yang sangat bermanfaat dan memberi petunjuk bahwa inilah saya sebagai pribadi yang unik yang tidak dimiliki oleh orang lain.

Nah, jika di lihat dari pengalaman saya selama melaksanakan Community Service Learning (CSL) ada banyak kebiasaan yang muncul dari masing-masing kami; baik dalam berdinamika dalam kelompok ataumpun dengan orang-orang yang ada di tempat dimana saya melaksanakan CSL.

Kebiasaan berpikir menang-menang (win-win solution). Kebiasaan ini merupakan kebiasaan yang dominan muncul dalam kelompok saya. Ketikan saat akan menentukan hari untuk melakukan CSL, teman-teman mengemukakan banyak terkendala saat akan ditentukannya hari pelaksanaan CSL.

Seperti salah satu teman dalam kelompok. Ia katakana, di saat hari akan dilaksanakannya CSL ternyata berbarengan dengan kegiatan probaling. Namun dengan pertimbangan sangat baik, dia akhirnya memilih CSL, namun juga tidak mengabaikan probaling.

Dengan kata lain, bahwa ia harus mencari hari pengganti. Ini merupakan salah satu kebiasaan win-win. Dalam artian bahwa keduanya bisa dilakukan. Tidak hanya itu saja, saya pun melakukan kebiasaan win-win saat melaksanakan kegiatan CSL. Yakni, hari pelaksanaan kegiatan ini berbarengan dengan turnamen futsal.

Saya pun mengambil kebijakan bahwa saya izin terlebih dulu untuk mengikuti pertandingan futsal, setelah itu balik lagi dan kembali melanjutkan kegiatan CSL. Dan sebagai gantinya, saya dan teman-teman kelompok menambah jam kegiatan. Dan kegiatan itu pun berlangsung dari pukul 07.00 wib sampai pukul 19.00 wib.

Dari pengalaman tersebut, saya pribadi mendapat banyak pandangan akan pentingnya melihat peluang dan prioritas dalam melakukan sebuah kegiatan.

Beberapa kebiasaan lain juga terjadi saat berdinamika dalam kelompok. Seperti bersikap empati. Bersikap empati ini, dapat saya rasakan ketikan akan merencanakan kegiatan CSL. Kami semua saling terbuka dan tidak memaksakan kehendak sendiri. Antara kami pun saling mengerti dan dimengerti. Dan pengalaman yang saya dapat dari kebiasaan ini ialah bahwa dalam berelasi denan orang lain hendaknya kita harus terbuka dan tidak egois.

Sinergi
Kebiasaan berikutnya ialah bersinergi. Ini terlihat ketika dalam melakukan kegiatan yang sudah direncanakan bersama, tiba-tiba dari teman-teman muncul ide yang bagus dalam melakukan kegiatan.

Sebenarnya kalau melihat situasi dan kondisi, kami hanya melakukan kegiatan bakti sosial dalam bentuk pelayanan dan mengikuti kegiatan yang bersifat membantu karyawan panti. Namun melihat anak-anak panti yang sudah pulang sekolah dan mereka sangat akrab dan suka diajak main, maka muncullah ide tambahan. Salah satu dari kami mengusulkan untuk melakukan permain (game banana) di sela-sela waktu luang. Itu sangat memberikan efek tersendiri bagi anak-anak panti yang ada disana.

Contoh lain terjadi saat hendak berpamitan pulang. Di saat yang sama juga ada kegiatan doa rosario. Salah satu dari teman saya mengusulkan alangkah baiknya sebagai ucapan syukur kita berdoa rosario bersama anak-anak panti. Bagi saya pribadi, ini merupakan bentuk sinergi yang sangat baik dalam berdinamika kelompok.

Meski tidak begitu kelihatan, namun kebiasaan yang satu ini pasti ada dalam setiap pribadi. Meski kebiasaan mengasah gergaji ini tidak saya rasakan dalam kegiatan CSL namun kebiasaan ini ternyata muncul dalam kehidupan saya sehari-hari.

Dan hal itu tidak saya sadari. Contohnya ini. Dalam menjalani kehidupan saya sebagai mahasiswa, di tengah kesibukan yang padat, saya menyempatkan diri untuk berolahraga untuk menyehatkan diri. Untuk mental: saya juga menjadikan buku sebagai teman keseharian saya.

Sedangkan emosi: saya suka menonton film yang dapat memberikan motivasi hidup seperti film Negeri Lima Menara, film India Three Idiots, dan film lain tentang anak disleksia). Kebiasaan baik yang masih saya tekuni adalah saya selalu menyempatkan diri untuk berdoa sebelum tidur.

Dan kebiasaan terakhir ini, yakni melampaui efektivitas dan menggapai yang agung. Kebiasaan ini saya rasakan ketika, akan berpamitan pulang dari panti. Saya dan teman-teman merasa, kegiatan kami sudah berhasil dan kami masing-masing sudah sangat puas dan mendapat banyak pengalamman baru dari kegiatan CSL.

Dan terbukti kami mendapat apresiasi dan pujian dari Ibu Maya selaku fasilitator saat mempresentasikan semua kegiatan yang sudah kami lakukan di panti. Dan secara keseluruhan saya merasa mendapat petunjuk dari kegiatan ini.

Saya menjadi sadar dan lebih percaya diri untuk melakukan langkah demi langkah dalam menjalani keseharian saya sebagai mahasiswa. Sebagai penutup, ucapan terimakasih kepada prodi yang sudah menyelenggarakan kegiatan ini.

Harapan saya, kegiatan ini akan tetap berlanjut terus dan akan lebih baik dari tahun ke tahun.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply