Mengajak 80 Ibu Mencintai dan Memelihara Bumi Kalimantan di Bukit Lait, Banuah Ambawang (1)

Mengajak Para Ibu Mencintai dan Memelihara Bumi Kalimantan di Bukit Lait, Banuah Ambawang. (Ist)

INI forum rekoleksi bersama 80-an ibu-ibu anggota Perkumpulan Santa Monika se-Keuskupan Agung Pontianak.


Rekoleksi bersama para ibu ini berlangsung di Gereja Stella Maris di Bukit Lait, Banuah Ambawang, sedikit di luar Kota Pontianak, Minggu 4 Maret 2018 lalu.


Tema rekoleksi mengadopsi Tema APP 2018 yang berbunyi “Mewujudkan Sukacita Seluruh Ciptaan di Bumi Kalimantan”.


Penulis didapuk menjadi narasumber forum rekoleksi para ibu Perkumpulan Santa Monika ini.


Dengan tema besar itu, penulis mengambil sub-sub tema dengan melontarkan pertanyaan reflektif sebagai berikut:

Bagaimana kita mewujudkan sukacita seluruh ciptaan di bumi Kalimantan?Apa yang perlu kita lakukan dalam Masa Prapaskah ini sebagai ungkapan ‘pertobatan’?

Dalam rekoleksi bersama para ibu ini, kami dibantu oleh Sr. Ida CP yang sehari-hari menjadi pendamping rohani Perkumpulan Santa Monika di Ambawang ini.


 Dari sembilan paroki


Para ibu peserta rekoleksi yang berjumlah 80 orang itu datang dari sembilan paroki di Kota Pontianak dan Singkawang. Yakni, Ambawang, Keluarga Kudus, Katedral, Bunda Maria Jeruju, MRPD, Agustinus, Stella Maris, Sesilia, Supadio, dan Singkawang.


Kali ini, tidak ada utusan perwakilan dari Paroki Bengkayang, karena bersamaan waktu ada kegiatan acara di paroki tersebut.



Penulis bersama Sr. Ida CP dan sebgaian peserta rekoleksi di Ambawang. (Ist)


80 peserta itu terdiri dari 76 partisipan dan empat orang suster pendamping.


Menurut ingatan penulis, baru kali ini jumlah peserta rekoleksi bisa mencapai angka yang lumayan banyak.  Sebelumnya, tidak pernah mencapai angka di atas 70.  “Biasanya hanya berjumlah 60-an saja, itu pun sudah ada tambahan utusan dari Paroki St. Monika Bengkayang yang ikut bergabung,” tutur Ibu Natalia Poon, peserta rekoleksi.


Tiga kata kunci


Dalam rekoleksi bersama kaum ibu ini, penulis memaparkan tiga kata kunci yakni berpuasa, beramal dan berdoa.


Ini pemahaman biblis atas masing-masing kata kunci di atas: 


Puasa


Yesus mengajarkan seperti ini: “Apabila kamu berpuasa, Janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa”.


Kata Jesus “Minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat orang bahwa engkau sedang berpuasa…”


Itu berarti, puasa merupakan kesediaan hati untuk bertobat dan merendahkan diri di hadapan Allah.


Beramal


Yesus mengajarkan seperti ini: “Hendaklah kamu murah hati, sebagimana Bapamu adalah murah hati.”


Orang yang bermurah hati tidak akan memegahkan diri, tidak sombong, tidak mendendam dan tidak mencari keuntungan sendiri.


Berdoa


Yesus mengajarkan hal ini: “Apabila kamu bedoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi.”


Ini berarti apa? Itu agar kita tidak jatuh dalam kesombongan rohani, karena menjalankan perintah agama tetapi tidak disertai dengan perubahan hati dan tindakan yang baik sebagai ungkapan iman.


Kita harus hidup berdasarkan satu kata, sama perbuatan: terjadi keseimbangan dan kesesuaian antara iman dan perbuatan.


Penambangan di Bumi Kalimantan. (Ilustrasi/Ist)

Realitas hidup


Kami bersama lalu bicara tentang realitas hidup sosial dalam keseharian. Karena itu, peserta rekoleksi lalu diajak untuk peka, berbagi, berbela asa, peduli terhadap mereka yang  telantar dan kurang mendapat perhatian.


Semua diajak punya motivasi memberi  perhatian pada orang kecil.


Injil tidak bicara tentang syarat masuk surga yang dikaitkan dengan terpenuhinya kegiatan seperti berdoa novena, beribadat, dan seterusnya.


Demi kemuliaan Allah


Semua yang kita lakukan itu bukan demi diri sendiri, melainkan kegiatan itu kita lakukan demi memuliakan nama Tuhan. Kita mesti menjadikan semua kegiatan rohani itu sebagai aktivitas memuliakan Tuhan sekaligus menjadi sumber kekuatan rohani untuk menjalani aktivitas sehari-hari.


Itulah rasa sukacita yang mesti kita bagikan kepada orang lain. Ingatlah bahwa Yesus pernah mengatakan hal ini: “Apa yang engkau lakukan bagi orang kecil ini, engkau lakukan bagi-Ku.” 


Doa mestinya semakin bisa mendekatkan kita dengan Tuhan. Berbagi membuat kita mengalami rasa sukacita.  Akhirnya, doa membuat kita ada-bersama-dengan  Allah.


Berbagi adalah menyatakan bahwa  Allah ada dalam diri kita. 


Ladang di Bumi Kalimantan sudah tidak seproduktif dulu. (Ilustrasi/Ist)

Memelihara alam ciptaan


Bagaimana kita mewujudkan sukacita seluruh ciptaan di bumi Kalimantan?


Menurut kamus, arti kata ‘sukacita’ adalah seperti ini: rasa-merasa yang timbul karena mendapat atau mengharapkan hal–hal yang baik; keadaan hati yang berbahagia.


Karena itu, para peserta dihadapkan pada tantangan dengan melihat kondisi nyata di Bumi Kalimantan yang kini banyak tertancap aksi penambangan, meluasnya  areal perkebunan kelapa sawit yang tidak ekologis.


Perkebunan kelapa sawit yang banyak menyerap air dan tidak ekologis. (Ilustrasi/Ist)

Mengajak kawanan anjing untuk berburu babi hutan di kawasan pedalaman. (Ilustrasi/Ist)

Melihat realitas sosial seperti itu, para peserta rekoleksi diajakmengikuti puasa terbaik menurut Paus Fransiskus sekaligus mengacu pada Surat Gembala Uskup Agung Pontianak sebagai berikut:



Surat Gembala Masa Prapaskah 2018 Mgr. Agustinus Agus – Uskup Agung Dioses Pontianak

Puasa mengeluarkan kata kata yang menyerang dan ubahlah dengan kata–kata manis  dan lembut.Puasa kecewa, tidak puas, dan penuhilah dirimu dengan rasa syukur.Puasa marah, dan penuhilah dirimu dengan sikap taat dan sabar.Puasa pesimis. Penuhilah dengan optimisPuasa khawatir, dan penuhilah dirimu dengan percaya penuh pada Tuhan.Puasa meratap, mengeluh dan nikmatilah hal–hal sederhana dalam kehidupan.Puasa stres dan penuhilah dirimu dengan doa.Puasa dari kesedihan dan kepahitan. Penuhilah hatimu dengan sukacita.Puasa egois dan gantilah dengan belarasa pada yang lain.Puasa dari sikap tidak bisa mengampuni dan balas dendam. Gantilah dengan perdamaian dan pengampunan.Puasa ngomong banyak, dan penuhilah dirimu dengan keheningan dan siap sedia mendengarkan orang lain. (Berlanjut)

Para peserta rekoleksi dengan mengambil bahan tema APP 2018 di Ambawang, Pontianak, Kalbar, Minggu 4 Maret 2018. (Ist)

Sr. Kresentia Yati SMFA

Suster biarawati SMFA (Suster Misi Fransiskan Santo Antonius) Pontianak, kelahiran Sungai Uluk, Putussibau; sekarang belajar di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Program Studi Manajemen dan Bendahara Pengelola Pertukangan Santo Yusup, Keuskupan Agung Pontianak.

Sumber: Sesawi

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: