Mengagumi Perempuan Terbang?

August 12, 2017Mengagumi Perempuan Terbang? Tano Shirani Self Management, Faith and Spirituality

Ada dua ayat yang berurutan dalam Kitab Wahyu, yakni ayat terakhir dalam bab 11 (Wahyu 11:19), dan ayat pertama dalam bab 12 (Wahyu 12:1). Wahyu 12:1-12 berkisah tentang perempuan yang bertempur melawan naga. Ini figur Bunda Maria yang bertarung menaklukkan kekuatan kejahatan. Wahyu 11:1-19 berkisah tentang penglihatan yang terkait dengan Bait Allah.


Menurut iman Katolik, kedua ayat tersebut mengisahkan satu penglihatan berkelanjutan: “Maka terbukalah Bait Suci Allah yang di surga, dan kelihatanlah tabut perjanjian-Nya di dalam Bait Suci itu dan terjadilah kilat dan deru guruh dan gempa bumi dan hujan es lebat” (Wahyu 11:19). “Maka tampaklah suatu tanda besar di langit: Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya” (Wahyu 12:1).


Kata Yunani untuk “di surga” dan “di langit” adalah sama. Kita bisa mengatakannya: “nun jauh di atas sana.” Pertanyaannya, dalam apa yang dilihat “nun jauh di atas sana” itu, apa hubungan antara Bait Allah yang di dalamnya ada tabut perjanjian dan perempuan itu yang menunjuk pada figur Bunda Maria?

Tabut Perjanjian dan Bunda Maria


Dalam Surat kepada Orang Ibrani dikatakan: “di dalam tabut perjanjian itu tersimpan buli-buli emas berisi manna, tongkat Harun yang pernah bertunas dan loh-loh batu yang bertuliskan perjanjian” (Ibrani 9:4b). Manna adalah roti yang turun dari langit. Tongkat Harun melambangkan peran imamatnya. Pada loh-loh batu itu tertulis sabda Tuhan. Demikianlah, ketiganya menunjuk pada roti, imam, sabda.


Apa hubungan antara ketiganya ini dan Bunda Maria? Dalam rahim Bunda Maria ada Yesus Sang Sabda yang menjadi manusia, ada Yesus Sang Imam Agung, ada Yesus Sang Roti Hidup. Penglihatan akan tabut perjanjian di dalam Bait Allah yang ada “nun jauh di atas sana” itu menjadi jelas maknanya setelah terlihatlah seorang perempuan, Bunda Maria, yang “nun jauh di atas sana” bertarung menaklukkan segala kekuatan yang melawan Allah.

Dogma Maria Diangkat ke Surga dan artinya bagi hidup kita

Kuasa mengajar Gereja (Magisterium) tidak menambahkan sesuatu yang baru, tetapi  menjalankan tanggung jawab untuk membuat semakin jelas apa yang sudah ada dalam Kitab Suci. Mewakili seluruh Gereja, pada 1 November 1950, Paus Pius XII menetapkan dogma tentang Maria yang diangkat ke surga dengan mulia dengan tubuh dan jiwanya. Ini adalah sebuah bentuk konkret ketaatan penuh Gereja pada wibawa Kitab Suci. Kita sungguh taat pada makna penglihatan akan tabut perjanjian dan perempuan itu.


Ini bukan pesta untuk mengagumi seorang perempuan yang seolah terbang diangkat ke surga seperti yang banyak digambarkan dalam berbagai lukisan. Pesta ini mengingatkan, bahwa karena rahmat Allah, seorang manusia seperti Maria bisa mencapai kekudusan penuh. Ini adalah sebuah pesta harapan bagi setiap orang dari antara kita.


Mari bertanya, apa yang memenuhi hati kita? Apakah sabda Tuhan sungguh kita beri ruang bebas untuk terus menata hidup kita? Apakah kita menjadi perantara antara sesama kita dan Tuhan sebagaimana halnya seorang imam, atau kita justru asyik sengaja menghalangi agar orang lain tidak bisa berkontak dengan Tuhan? Apakah kita dikuatkan oleh Ekaristi, dan dikenyangkan oleh hal-hal yang baik, benar, dan indah (verum, bonum, pulchrum; true, good, beautiful), atau secara impulsif kita melepaskan lapar dengan yang mudah, tak bernilai, bahkan bertentangan dengan martabat kita sebagai manusia?


Sumber: Inspire.com

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply