Menerima Masukan

Ayat bacaan: Keluaran 18:24
=======================
“Musa mendengarkan perkataan mertuanya itu dan dilakukannyalah segala yang dikatakannya.”

menerima masukan, nasihat

Manusia sejatinya adalah mahluk yang penuh dengan keterbatasan. Tidak ada satupun manusia di dunia ini yang tahu segalanya. Kita bisa hebat di satu sisi, tapi kita bisa buta di sisi lain. Masing-masing dari kita punya keahlian sendiri-sendiri. Kita tidak akan pernah bisa maju jika hanya bergantung pada kemampuan diri sendiri, tidak peduli seberapa hebatnya kita. Karena itulah manusia memang pada hakekatnya merupakan mahluk sosial yang harus selalu berinteraksi dengan sesama untuk bisa terus maju dan mencapai sukses. Bayangkan seorang pemimpin tanpa penasehat, atau pemimpin yang tidak mau menerima masukan sama sekali dari bawahan. Sulit membayangkan model pemimpin yang seperti ini bisa memajukan apa yang ia pimpin. Pada kenyataannya kita seringkali merasa gengsi untuk mendengar masukan orang lain. Mendengar saja gengsi, apalagi melakukan. Padahal mungkin ada masukan atau nasihat yang akan lebih memudahkan pekerjaan kita, membantu kita untuk bisa meningkatkan kinerja mencapai hasil yang lebih baik. Selalu ada hal yang bisa kita pelajari dari orang lain, selalu saja ada masukan yang berharga, selalu saja ada hal-hal yang luput dari pengamatan kita. Karena itulah keterbukaan menerima nasihat atau masukan menjadi hal yang penting bagi setiap orang tanpa terkecuali. Kita bisa belajar dari sikap Musa mengenai hal ini.

Musa dipilih Allah secara langsung untuk membebaskan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir dan ditunjuk untuk menuntun mereka mencapai tanah terjanji yang telah dijanjikan Tuhan kepada Abraham. Dalam proses itu Musa menjadi penyambung lidah Tuhan untuk menyampaikan petunjuk-petunjuk Tuhan kepada bangsa yang ia pimpin, sementara jumlah bangsa yang harus ia pimpin tidaklah kecil. Agaknya Musa terlalu fokus kepada penunjukan Tuhan atas dirinya, sehingga ia langsung terjun mengurus segalanya sendirian dan lupa akan pentingnya sebuah struktur yang lebih efektif dalam melayani. “Keesokan harinya duduklah Musa mengadili di antara bangsa itu; dan bangsa itu berdiri di depan Musa, dari pagi sampai petang.” (Keluaran 18:13). Musa bertindak sendirian menjadi hakim mengatasi perselisihan yang terjadi di antara sesama orang Israel. Kapan selesainya kalau seperti ini terus? Dalam ayat tersebut kita membaca bahwa Musa seharian duduk mengadili berbagai masalah yang dialami bangsa Israel yang tidak ada habisnya. Yitro, mertua Musa melihat itu dan tahu bahwa apa yang dilakukan Musa itu tidaklah efektif. Dia pun menanyakan “Apakah ini yang kaulakukan kepada bangsa itu? Mengapakah engkau seorang diri saja yang duduk, sedang seluruh bangsa itu berdiri di depanmu dari pagi sampai petang?” (ay 14). Musa pun menyatakan bahwa sebagai yang ditunjuk Tuhan, ia harus memberitahukan ketetapan dan keputusan Allah kepada masing-masing orang. Yitro kasihan melihat menantunya harus bekerja sendirian menghadapi segalanya. “Engkau akan menjadi sangat lelah, baik engkau baik bangsa yang beserta engkau ini; sebab pekerjaan ini terlalu berat bagimu, takkan sanggup engkau melakukannya seorang diri saja.” (ay 18). Yitro mengatakan bahwa bekerja sendirian seperti itu dalam mengelola masalah bangsa Israel yang begitu banyak adalah tidak baik. (ay 17). Lalu Yitro pun memberi masukan kepada Musa. Dia memberikan usul agar Musa bisa memakai strategi yang lebih baik, menyusun struktur kepemimpinan yang akan bisa membantu Musa dalam menyelesaikan setiap permasalahan secara lebih cepat, efektif dan efisien. “Di samping itu kaucarilah dari seluruh bangsa itu orang-orang yang cakap dan takut akan Allah, orang-orang yang dapat dipercaya, dan yang benci kepada pengejaran suap; tempatkanlah mereka di antara bangsa itu menjadi pemimpin seribu orang, pemimpin seratus orang, pemimpin lima puluh orang dan pemimpin sepuluh orang. Dan sewaktu-waktu mereka harus mengadili di antara bangsa; maka segala perkara yang besar haruslah dihadapkan mereka kepadamu, tetapi segala perkara yang kecil diadili mereka sendiri; dengan demikian mereka meringankan pekerjaanmu, dan mereka bersama-sama dengan engkau turut menanggungnya.” (ay 21-22). Sungguh menarik melihat usulan Yitro agar Musa membentuk kelompok-kelompok yang bertingkat dengan pemimpin masing-masing. Ini akan jauh lebih mempermudah Musa dalam menjalankan perintah Tuhan. Musa adalah pribadi yang rendah hati dan mau menerima masukan. “Musa mendengarkan perkataan mertuanya itu dan dilakukannyalah segala yang dikatakannya.” (ay 24). Yitro pun bisa melihat langsung bagaimana menantunya memperbaiki sistem pelayanannya dengan melibatkan orang-orang yang cakap sebagai rekan sekerja sebelum ia pulang kembali ke negerinya. (ay 27).

Alangkah indahnya jika seseorang mau mendengarkan dan menerima masukan atau nasihat yang baik dari orang lain seperti apa yang kita lihat dari kisah Musa dan Yitro di atas. Seringkali kita terlalu cepat diliputi perasaan gengsi untuk mendengar dan menerima masukan dari orang lain. Mendapat mandat sedikit saja kita cepat merasa sombong dan menganggap orang lain tidak sebaik kita. Padahal masukan atau nasihat itu bisa membuat kita lebih baik lagi. Musa langsung mendapat penugasan dari Tuhan, bukan dari manusia. Musa bisa saja menyombongkan hal itu, tapi apakah Musa memilih untuk berlaku seperti itu? Tidak. Ia masih terbuka untuk menerima masukan dan melakukannya. Ini sebuah keteladanan yang sangat baik dari sikap Musa. Kadang kala ada hal-hal yang luput dari perhatian kita karena sibuknya kita fokus kepada sesuatu, dan untuk itulah kita seharusnya bersyukur ketika ada masukan dari orang lain yang bisa meningkatkan kinerja kita agar lebih baik lagi.

Amsal Salomo berkata “Rancangan gagal kalau tidak ada pertimbangan, tetapi terlaksana kalau penasihat banyak.” (Amsal 15:22). Sangatlah penting bagi kita untuk memiliki banyak masukan sebagai dasar untuk membuat pertimbangan-pertimbangan dalam mengambil sebuah keputusan. Karena itu “Dengarkanlah nasihat dan terimalah didikan, supaya engkau menjadi bijak di masa depan.” (19:20). Hilangkanlah perasaan-perasaan egois, kesombongan dan gengsi agar kita bisa terus maju. Sikap-sikap seperti ini tidak akan pernah membawa manfaat apapun. Apa yang dicontohkan Musa bisa kita terapkan pula dalam berbagai sisi kehidupan kita, mulai dari keluarga, dalam pekerjaan maupun pelayanan. Sudahkah kita menjadi orang-orang yang mau memperhatikan masukan dan nasihat orang lain dengan rendah hati? Atau kita masih sering merasa gengsi dan terusik dengan nasihat orang, sehingga langsung menolaknya mentah-mentah meski nasihat itu baik adanya? Janganlah terburu-buru menolak saran yang masuk. Nasihat yang baik bisa datang dari siapa saja. “Dengarkanlah didikan, maka kamu menjadi bijak; janganlah mengabaikannya.” (8:33). Kita bisa menjadi lebih bijak ketika menerima nasihat, bahkan pengetahuan kita pun akan bertambah. (9:9). Tanpa bimbingan kita akan kacau balau, tanpa tuntunan, petunjuk dan nasihat cepat atau lambat kita akan tersesat. Jadilah pribadi yang rendah hati dan terbuka untuk menerima masukan. Dengan hati yang terbuka kita akan bisa melihat banyaknya pertolongan datang dari mana saja demi kemajuan usaha kita.

Terbukalah menerima nasihat dan masukan yang baik agar kita bisa lebih baik lagi

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply