Menerima dan Mengimani Yesus Kristus

St Bonaventure

Selasa 15 Juli 2014, PW St. Bonaventura, Uskup dan Pujangga Gereja
Yes 7:1-9; Mzm 48:2-3a,3b-4,5-6,7-8; Mat 11:20-24

“Yesus mulai mengecam kota-kota yang tidak bertobat, sekalipun di situ Ia paling banyak melakukan mujizat-mujizat-Nya” (Matius 11:20)

KALIMAT  ini terasa tidak sedap di telinga dan rasa-perasaan hati kita. Masak iya sih, Yesus yang penuh belas kasih dan kesabaran diwartakan “mulai mengecam kota-kota yang tidak bertobat, sekalipun di situ Ia paling banyak melakukan mujizat-mujizat-Nya…”

Benarkah Yesus “mengecam” atau apa arti “mengecam” di sini?

Mari kita pahami teks ini dalam konteks Injil Matius. Matius yang menulis Injil tentang Yesus Kristus tampaknya hendak menegaskan betapa pentingnya sosok Yesus Kristus dalam sejarah kehidupan manusia. Bahkan Yesus membuat banyak tanda mujizat untuk menyatakan kuasa kasih Allah bagi manusia. Karena itu, kebangeten kalau sampai orang tidak mau percaya kepada-Nya, apalagi menolak Dia!

Itulah kira-kira yang hendak diwartakan Matius. Karena itulah, Matius menempatkan kata-kata “kecaman” dengan kata “celakalah” kepada Khorazim dan Betsaida. Dua kota ini adalah kota-kota yang didiami oleh orang Yahudi yang meskipun menyaksikan banyak tanda mujizat yang dilakukan oleh Yesus, toh mereka tidak mau percaya.

Lain dengan kota-kota yang dianggap kafir yakni Tirus dan Sidon yang juga disebut kota-kota berhala. Kota-kota ini dikontraskan dengan Khorazim dan Betsaida sebagai yang lebih terbuka menerima pewartaan Yesus!

Maka, kita yang membaca warta ini boleh bertanya pada diri sendiri, “Sepenting apakah Yesus Kristus bagiku? Apakah aku sungguh menerima Dia atau menolak Dia dalam hidup kita?”

Menerima Yesus Kristus adalah bagian dari iman yang berbuah keselamatan, bukan kecelakaan. Inilah kiranya pesan yang dapat kita petik dari warta Injil hari ini.

Adorasi Ekaristi Abadi adalah bagian dari tanda-tanda mujizat-Nya. Adorasi Ekaristi Abadi adalah bagian dari mujizat Ekaristi, yakni perubahan roti dan anggur menjadi Tubuh dan Dara Kristus yang diserahkan dan ditumpahkan demi keselamatan kita.

Itulah yang selalu kita kenang setiap kali kita merayakan Ekaristi, kata-kata Yesus, “Inilah Tubuh-Ku yang diserahkan bagi-Mu dan inilah Darah-Ku, Darah perjanjian baru yang ditumpahkan bagimu dan bagi semua orang sebagai pengampunan dosa. Lakukanlah ini untuk mengenangkan Daku!” Adorasi Ekaristi Abadi adalah kelanjutan dari perayaan Ekaristi dalam sikap sembah sujud yang tiada henti, silih berganti, terus-menerus, setiap saat, setiap hari.

Tuhan Yesus Kristus, anugerahilah kami iman kepada-Mu. Kami ingin menerima Engkau agar selamat, kini dan selamanya. Amin.

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

Girli Kebon Dalem
(rmabudippr)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: