Renungan Harian

Kumpulan Renungan Iman Kristiani

Renungan Harian - Kumpulan Renungan Iman Kristiani

Menengok ke Belakang: Sejarah Komsos KWI (1)

Sejarah berdirinya

PASTORAL di bidang komunikasi sosial sudah menjadi bagian dari kebutuhan Majelis Waligereja Indonesia (MAWI) sejak 1924. MAWI pada saat itu memiliki dua lembaga yang menanggani bidang komunikasi sosial yakni Panitia Waligereja Indonesia Komsos (PWI Komsos) serta bagian Dokumentasi dan Penerangan (DOKPEN).

Bidang Garapan

Para Uskup yang menggagas berdirinya MAWI pada masa pemerintahan Belanda bersepakat untuk memiliki sebuah surat kabar katolik dalam bahasa melayu yang didistribusikan untuk seluruh wilayah Indonesia. Namun karena keterbatasan tenaga, sarana komunikasi dan perizinan, maka harapan ini sulit terwujud. Solusi yang diambil adalah dengan memberi suport bagi perkembangan koran lokal seperti “Bintang Timoer” untuk wilayah Nusa Tenggara, “Swara Tama” di Jawa Tengah dan ”Gereja Katolik” untuk Sulawesi Uatara. Sedangkan bagi orang katolik yang bisa berbahasa Belanda, tersedia “De Java Post”; “Social Leven en Streven” dan “Het Katholiek Schoolblad”.

Secara khusus untuk Jawa, di tahun 1929 diterbitkan “leestrommels”  yakni kumpulan buku-buku dan majalah-majalah yang dibagikan kepada keluarga-keluarga katolik. Pada tahun yang sama terpenuhi harapan para uskup untuk memiliki majalah “Soeara Katolik” yang  diterbitkan dalam bahasa Melayu dengan jangkauan untuk seluruh Indonesia. Majalah ini terbit dua kali dalam sebulan dengan tujuan penyebaran informasi dan juga memperkokoh ikatan persaudaraan serta menumbuhkan semangat kekatolikan umat.

 Romo Rochadi Pr dalam Misa Penutupan Sidang Tahunan KWI 2013

Imam di altar adalah ujung tombak pewartaan iman Gereja Katolik. Awam menjadi mitra kerja yang andal untuk misi pewartaan iman. Ilustrasi foto ini mengisahkan bagaimana Pastur Kepala Paroki Kristus Raja Pejompongan di Jakarta Pusat — Romo Rochadi Pr– berbagi informasi tentang sejarah revitalisasi Gereja Pejompongan di hadapan para Bapak Uskup se Indonesia usai Sidang Tahunan 2014 KWI. (Mathias Hariyadi)

Terbentuknya Sekretariat KOMSOS

Pada tahun 1973, MAWI mengangkat Mgr. Joseph Soudant SCJ  Uskup Palembang sebagai ketua PWI Komsos. Sejak saat itu PWI Komsos dan DOKPEN menjadi dua bidang kerja yang terpisah.

Dalam sidang di tahun 1974, MAWI menyetujui rencana kerja dari PWI Komsos sebagai berikut:

  • Supaya membangkitkan pengertian terhadap mass media, baik di kalangan umat katolik sendiri, maupun dalam masyarakat pada umumnya, digunakan PWI Komsos bagian radio/TV/film.
  • Supaya setiap kesempatan yang diberikan untuk mengisi acara radio/TV digunakan.
  • Supaya kepada umat diumumkan, kapan siaran katolik diselenggarakan, umpama melalui bulletin paroki.
  • Supaya KWI Dokpen lebih memperhatikan hubungan dengan pers, baik dalam maupun luar negeri.
  • Supaya dalam pendidikan para calon imam, kaidah-kaidah yang tercantum dalam instruksi pastoral “Communio et Progressio” diperhatikan dan diajarkan, umpama dengan mengadakan lokakarya, kuliah kerja, dsb.
  • Supaya hari komunikasi sedunia dimanfaatkan agar umat menjadi lebih “Communication minded”, hendaknya kolekte pada hari tersebut dikhususkan untuk membiaya siaran katolik lewat RRI 

Program kerja ini menjadi program kerja tetap selama masa kepemimpinan Mgr. Soudant SCJ sampai tahun 1979.Komsos KWI

Sejak 1979, Ketua PWI Komsos dipercayakan kepada Mgr. Vitalis Djebarus SVD, Uskup Keuskupan Ruteng. Selama masa kepemimpinan Mgr. Vitalis, ada usaha untuk membangun jaringan komunikasi dengan aktivis Komunikasi Sosial yang ada di setiap wilayah Keuskupan. Dan juga beberapa kegiatan animasi seperti kursus singkat tentang komunikasi sosial untuk Seminari Tinggi, pemberian pembekalan kepada para aktivis Komunikasi sosial di setiap wilayah keuskupan.

Pembicaraan mengenai kolekte hari komunikasi sedunia disepakati oleh MAWI pada tahun 1982, dengan anjuran kepada para uskup untuk diadakan kolekte pada hari komunikasi sedunia dan sebagian dari kolekte itu diserahkan kepada komisi untuk melayani kegiatan-kegiatannya.

Selanjutnya MAWI mulai berpikir tentang adanya sekretariat untuk PWI Komsos. Maka atas persetujuan MAWI, mengundang suster “Daughters of St. Paul” dari Filipina, untuk menangani sekretariat komisi dan kegiatan kerasulan media komunikasi.

Pada tahun pergantian nama dari MAWI ke KWI, disetujui pengangkatan seorang sekretaris purnawaktu Komisi KOMSOS dengan pembagian tugas yang jelas antara KOMSOS KWI dengan DOKPEN.

Setahun kemudian (1987) Presidium KWI mengesahkan badan pengurus Harian Komisi KOMSOS KWI untuk masa bakti 1987-1990:

  • Ketua: Mgr. A. Henrisoesanto SCJ
  • Wakil ketua: P. A.S. Brotodarsono SJ
  • Sekretaris:P. J. Bosco Beding SVD
  • Ahli: Dr. J. Riberu, Marcel Beding, Rm. JVS Tondowijoyo CM
  • Anggota:P. F. Subroto Wijoyo SJ,P. RWM. Van Leeuwen SCJ,  Rm. A. Budyapranata Pr, Ph. B. Piem Priharto

Tautan: Menengok ke Belakang: Sejarah Komsos KWI (2)

 

0saves
If you enjoyed this post, please consider leaving a comment or subscribing to the RSS feed to have future articles delivered to your feed reader.
Category: Sesawi

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*