Menemukan Tuhan Melalui Perasaanmu

Menemukan Tuhan Melalui Perasaanmu Tano Shirani Self Management, Faith and Spirituality

“Coba pilih satu kata sifat untuk menggambarkan perasaanmu.” Kalimat ini sering dikatakan oleh seorang pembimbing retret menurut inspirasi Latihan Rohani St. Ignasius. Maksudnya adalah untuk membantu orang yang sedang melaksanakan retret itu agar bisa lebih mendalam lagi memahami pengalaman batinnya.


Tidak jarang, orang yang sedang retret akan mengatakan, misalnya, “Saya merasa bahwa Tuhan telah meninggalkan saya.” Lalu, pembimbing retret mengatakan, “Kamu menggunakan kata kerja untuk menggambarkan sebuah tindakan atau aksi. Coba gunakan satu kata sifat untuk menggambarkan perasaanmu.” Setelah beberapa kali menjawab dan ditantang lagi, peserta retret akhirnya menyebutkan, misalnya, “Sedih. Takut. Marah. Kecewa.” … dan entah kata sifat apa lagi.

Mengalami Rasa

Dalam sebuah retret Ignasian, dan karenanya juga dalam penghayatan hidup sehari-hari dalam terang spiritualitas Ignasian, rasa adalah unsur penting. Itu adalah tanggapan paling asli terhadap apa pun yang kita alami dalam konteks hubungan dengan Tuhan. Melalui rasa dalam bentuknya yang paling mentah itu, sebelum ada usaha untuk memolesnya dengan kata-kata yang dianggap lebih santun, terjadilah sebuah gejolak reaksi kita sebagai manusia terhadap Roh Tuhan yang sedang bergerak dalam hati kita.


Semua rasa ini penting untuk membawa orang masuk lebih dalam daripada sekadar sebuah fakta objektif. Untuk pembanding, mari kita ambil suhu ruangan sebagai contoh. Perasaan satu orang mungkin adalah “panas,” sementara perasaan orang lain adalah “dingin.” Ini bukan perkara benar atau salah. Data objektif suhu ruangan 23 derajat Celcius belum bisa  menggambarkan pengalaman orang secara subjektif.


Hal yang sama berlaku dalam pengalaman doa kita. Mengatakan “Saya merasa bahwa Tuhan meninggalkan saya” memuat sebuah deskripsi tindakan “Tuhan meninggalkan saya.” Satu peserta retret mengatakan hal yang sama, tetapi kemudian mengatakan, “Saya merasa sedih.” Peserta lain mengatakan hal yang sama, tetapi lalu mengatakan “Saya merasa marah.” Dua kata sifat, “sedih” dan “marah”, tersebut menggambarkan pengalaman subjektif yang lebih dalam daripada deskripsi tentang pengalaman tindakan Tuhan yang telah meninggalkan mereka.

Berani Jujur dalam Merasakan

Memilih kata sifat yang tepat untuk memberi nama pada perasaan kita ternyata tidaklah mudah. Seringkali, kita sudah merasa takut untuk memilih satu kata sifat. Dalam lubuk hati kita bahkan ada ketakutan, kalau-kalau dengan memberi nama pada perasaan itu, semakin terlihatlah kita seperti apa adanya. Mungkin karena kita beranggapan tidak seharusnyalah kita merasa “marah” terhadap Tuhan, kita mengatakan bahwa kita merasa “sedih”. Jika kita melakukan itu, kita bukan hanya tidak jujur terhadap diri kita sendiri, tetapi kita menolak tawaran dari Tuhan untuk masuk ke ruang yang paling jujur dan paling otentik dalam perjumpaan dengan Tuhan.

Bagaimana Perasaan Tuhan?

Langkah yang lebih lanjut yang perlu kita biasakan adalah juga bertanya, “Bagaimanakah perasaan Tuhan?” Sama halnya, di sini pun kita bisa secara jujur menyentuh ruang paling intim hati Tuhan sendiri. Kadang, misalnya, dalam doa kita mendengar bisikan Tuhan, “Kamu harus mengampuni orang itu.” Yang lebih dalam daripada ini adalah mengenali bagaimana perasaan Tuhan ketika mengatakan itu kepada kita. Apakah Tuhan merasa “marah”, “sedih”, “kecewa”, “bahagia”, “tenang”, atau apa? Masing-masing kata sifat yang menggambarkan perasaan Tuhan memperlihatkan keunikan tawaran Tuhan untuk masuk dalam cara yang paling otentik apa adanya ke dalam hati Tuhan sendiri.


Pilihlah kata sifat untuk menggambarkan perasaanmu, dan itulah pintu yang terbuka bagimu untuk berjumpa Tuhan.


Sumber: Inspire.com

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply