Menemui Raja di TahtaNya

Ayat bacaan: Ibrani 4:16
=================
“Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.”

tahta raja

Membaca fakta sejarah selalu menyenangkan buat saya. Hari ini saya membaca sebuah penggalan sejarah dunia ketika Versailles ditetapkan sebagai ibukota Perancis pada tahun 1682 oleh Raja Louis XIV. Versailles tetap menjabat sebagai pusat pemerintahan sampai tahun 1789 sebelum akhirnya dipindahkan ke Paris, yang menjadi ibukota Perancis sampai sekarang. Di Versailles pada masa itu terdapat Galerie des glaces alias Hall of Mirrors, sebuah aula besar dan mewah yang panjangnya mencapai hampir 100 meter. Aula mewah ini masih bisa dilihat hingga sekarang di istana Versailles. Ada banyak jendela besar yang mengarah ke kebun indah di luar dan patung-patung indah disana. Pada masa itu apabila orang hendak menemui raja Louis XIV, mereka harus membungkuk setiap lima langkah sepanjang Galerie des glaces itu hingga sampai di tahta raja. Dan itu berlaku untuk siapapun, termasuk bagi utusan-utusan negera lain yang berkunjung kesana. Begitu pentingnya posisi Perancis pada abad itu sehingga para utusan terhormat ini harus rela melakukan itu demi memperoleh kebaikan dari kerajaan Perancis. Kalaupun tidak harus menunduk, tidaklah mudah bagi kita untuk bisa berjumpa dengan raja atau kepala negara, bahkan presiden di negara sendiri. Cobalah kirim surat kepada Presiden dan minta dijadwal bertemu dengan anda, apakah beliau mau melakukannya? Kecuali anda orang yang sangat terkenal dan berpengaruh, anda tidak akan ditanggapi. Ada begitu banyak urusan yang menyita waktu dari kepala negara sehingga tidaklah mungkin baginya melayani satu per satu dari tiga ratus juta lebih penduduk Indonesia.

Sekarang bayangkanlah Sosok Raja diatas segala raja yang duduk di tahtaNya di Surga. Ternyata untuk bertemu dengan Allah kita justru tidak perlu membungkuk-bungkuk sepanjang 5 meter sekali, dan tidak perlu membuat janji temu terlebih dahulu. Raja di atas segala raja selalu siap membuka tahtaNya lebar-lebar kepada siapapun. Dia tidak pernah terlalu sibuk untuk mengurus kita, Dia tidak pernah membeda-bedakan orang dan akan menerima siapapun yang datang kepadaNya dengan sukacita yang besar. Seperti itulah Allah yang berkuasa di atas semua yang paling berkuasa di dunia ini. Dari mana kita tahu akan hal ini? Mari kita lihat ayatnya seperti yang kemarin sudah saya tuliskan. “Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.” (Ibrani 4:16). Ini adalah sebuah anugerah yang kita terima lewat Kristus. Dialah Sang Imam Besar atau Imam Agung yang telah memungkinkan anugerah luar biasa besar ini untuk bisa kita nikmati. Secara simbolis hal itu tergambar jelas ketika Yesus mati di atas kayu salib. “Lalu berserulah Yesus dengan suara nyaring dan menyerahkan nyawa-Nya. Ketika itu tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah.” (Markus 15:37-38). Itulah saat ketika hubungan manusia dan Tuhan dipulihkan. Tidak ada lagi sekat apapun yang merintangi. Setelah itu siapapun kita bisa datang menghadap takhta kudus kasih karunia Tuhan kapan saja dan dimana saja dengan penuh keberanian. Jika sebelumnya manusia hanya bisa berhubungan dengan Tuhan melalui perantaraan para nabi atau pemuka agama yang terpilih, setelah penebusan Kristus hubungan kita dengan Tuhan tidak lagi dibatas oleh sekat apapun. Kita bisa menemui Raja di atas segala raja, lalu menerima rahmat dan kasih karuniaNya, demikian juga pertolonganNya yang begitu indah.

Belakangan Paulus menyingkap hal ini secara lebih jelas dan eksplisit.

“Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu “jauh”, sudah menjadi “dekat” oleh darah Kristus. Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan, sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera, dan untuk memperdamaikan keduanya, di dalam satu tubuh, dengan Allah oleh salib, dengan melenyapkan perseteruan pada salib itu. Ia datang dan memberitakan damai sejahtera kepada kamu yang “jauh” dan damai sejahtera kepada mereka yang “dekat”, karena oleh Dia kita kedua pihak dalam satu Roh beroleh jalan masuk kepada Bapa.” (Efesus 2:13-18). 

Ini adalah sebuah anugerah luar biasa yang sudah sepantasnya kita syukuri. Bagaimana tidak? Tuhan sendiri telah mengundang kita melalui Kristus. Itulah sebabnya Penulis Ibrani mengatakan bahwa kita bisa menghampiri tahta kasih karunia dengan penuh keberanian.

Semua tergantung dari kita. Apakah kita sudah atau mau menanggapi undangan terbuka dari Tuhan atau masih menolak atau menyia-nyiakannya? Tidakkah bodoh jika kita mengabaikan kesempatan sebesar itu? Apabila kepala negara atau kepala daerah membuka diri dan kita bisa menemui mereka dengan bebas dan dekat, apakah kita akan menolaknya? Lalu bagaimana dengan undangan dari Raja yang berada di atas mereka. Ini adalah undangan yang sangat terhormat yang seharusnya tidak kita buang begitu saja. Oleh karena itu, datanglah dengan penuh hormat, rasa kagum dan dengan ucapan syukur. Temuilah Allah di tahta kasih karuniaNya yang kudus. Dia tidak pernah terlalu sibuk untuk menerima anda di tahtaNya. Dia selalu dengan senang hati mendengar bagaimana anda mengasihiNya, dan akan selalu peduli utnuk mendengar setiap permohonan kita setiap saat.

Pintu tahta Allah selalu terbuka bagi anda dan saya kapan saja, karenanya jangan sia-siakan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: