Menembus Alam dan Leher Dicengkeram, OMK Rayakan Paskah di Villa Masin, OKUT, Sumsel

19 OMK berani menembus tantangan alam untuk sekedar merayakan Paskah di kawasan pedalaman Stasi St. Stefanus Villa Masin, Kabupaten OKUT, Sumsel.

PAGI itu, Senin (2/4/18) lalu, cuaca di langit Martapura, Ibukota Kabupaten OKU Timur terlihat cerah. Matahari terang bersinar. Tampak 11 sepeda motor berbagai merek terparkir acak di halaman Kapel Stasi St. Martinus Srimulyo, Martapura, Kab. Ogan Komering Ulu Timur (OKUT), Sumatera Selatan.


Ada 19 orang yang didominasi oleh Orang Muda Katolik (OMK) bersiap untuk memulai petualangan sekaligus Paskahan bersama umat di Villa Masin.  Mereka adalah OMK dari Wilayah Batumarta dan OMK dari Wilayah Martapura, dua wilayah yang menjadi bagian dari pelayanan pastoral Paroki Sang Penebus Batuputih, Kab. Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan.


Villa Masin adalah nama sebuah kampung di Kecamatan Jayapura, Kab. OKUT, Sumatera Selatan, dengan posisi lokasi berjarak  85 Km dari Batuputih, pusat Paroki Sang Penebus. Nama daerah ini membuat banyak umat di paroki ini, khususnya di kalangan OMK menjadi begitu penasaran untuk berkunjung ke Stasi St. Stefanus Villa Masin.


Stasi ini mulai mendapat pelayanan pastoral dari Romo Stefanus Supardi, pastor Paroki Sang Penebus Batuputih saat itu, pada pertengahan Oktober 2010.


Menembus tantangan alam


Tepat pukul 09.30 WIB, setelah berdoa bersama, rombongan pun mulai bergerak meninggalkan Srimulyo menuju Villa Masin. Tergambar wajah-wajah orang muda yang penuh semangat dan siap menaklukkan tantangan.


Setelah melintasi jalanan beraspal, rombongan pun mulai memasuki lintasan berbatu terjal dengan lobang-lobang menganga khas jalanan yang konon dulu pernah dilapisi aspal. Tak berapa lama trek pun berganti dengan jalanan berlumpur, tampak jalanan becek dengan adonan lumpur cokelat kental siap memberi sensasi perjalanan bagi para pelintas. Motor-motor tampak sejenak harus berhenti dan bergantian memasuki medan lumpur, sesekali meliuk zig-zag memilih jalanan yang tanahnya tampak relatif keras.


Truk terjebak dalam kobangan lumpur pekat di jalanan menuju kawasan pedalaman di Kabupaten OKUT, Sumsel.

Hamparan kebun jagung yang hijau dan kokohnya batang pohon karet bergantian memanjakan mata kami. Semakin jauh ke dalam tampak tumpukan karung-karung putih berisi jagung yang baru di panen dari ladang menunggu giliran diangkut ke tempat penggilingan untuk digiling.


Di sudut lain tampak sejumlah warga yang menjemur jagung di jalanan dengan latar belakang rumah berdinding papan yang terlihat kusam karena debu. Sesekali suara mesin terdengar mengerang keras, ketika motor selip dan masuk di kubangan lumpur yang dalam.


Tak jarang kami kondisi jalan utama yang rusak parah memaksa kami mencari jalan pintas melalui jalan tikus yang membelah kebun karet warga.


“Mama… mama.. mama…”, teriak spontan salah seorang OMK ketika motor yang mereka tumpangi melewati jalanan becek berlobang dalam dan terjal.


Yang lain tak mau ketinggalan menimpali, “Seru tenan, menantang, pokok e mantap jiwa.”


Tampak ada raut wajah was-was dan ada pula yang merasa tertantang dengan kondisi jalanan yang dilalui.


Beberapa kali kami harus berhenti, menunggu rombongan yang tertinggal jauh di belakang atau sekedar untuk istirahat.


Motor Ojek Jagung yang biasa melaju di kawasan pedalaman di Kabupaten OKUT, Sumsel.

Ojek jagung


Karena jalan yang rusak, sesekali kami pun harus bergantian menunggu giliran masuk lintasan tatkala bertemu dengan motor Ojek Jagung.


Motor ojek jagung tampak garang dengan knalpot racing bersuara melengking, ban bergigi cangkul dengan stang kemudi yang telah dimodifikasi mempermudah pengendara untuk melesat kencang menyusuri jalanan lumpur meski membawa muatan jagung yang beratnya mencapai ratusan kilo.


“Weh, jalan kayak gini aja banter tenan, piye nek neng jalan lintas yo bro?,”,celetuk Abas, salah seorang OMK dari Batumarta kagum.


Jalan yang rusak, berlumpur dan berlobang dalam seringkali menelan korban. Beberapa kali kami berjumpa mobil truk bermuatan jagung yang takluk dalam benaman lumpur tak mampu beranjak.


“Yuh, Romo, jalannya kok ekstrim gini ya. Wah, dengan medan kayak gini tambah umatnya cuma dikit, terus pelayanan tiap bulan, paling kalo romonya ga niat melayani pasti wes milih ora mangkat, ha …ha… ha.” celetuk salah seorang OMK sambil tertawa.


Tak mau ketinggalan dengan komentar temannya, OMK yang lain pun menimpali, “Romo juga manusia, adakalanya pasti juga kadang merasa berat dan males. Tapi karena itu panggilan dan bagian dari pelayanan yo pasti tetap dijalankan. Sekarang lho enak romonya banyak temen, lha biasanya paling cuma berdua”.


Perjalanan pun dilanjutkan.


Pengalaman menegangkan sempat dialami oleh Abas. Kemana pun pergi ia selalu ditemani untaian Rosario yang setia melingkar di lehernya. Siang itu ia duduk memegang kendali kemudi motor bebeknya.


Sukacita pertemuan antara umat Katolik di Stasi St.Stefanus Villa Masin di Kabupaten OKUT dengan 19 OMK dari ‘pusat kota’ di Paroki Sang Penebus Batuputih, Kab. Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan.

Sukacita pertemuan


Tatkala berada di lintasan jalan tikus yang terletak di kebun karet warga, tiba-tiba ada seorang bapak tua berambut putih yang mencegat dan mencengkeram kuat krah baju dan Rosario yang melingkar di lehernya. “Aku ngerti kowe, mesti kowe wong Katolik (Saya tahu kamu pasti Katolik),” ujarnya.


Abas dan sejumlah OMK tampak terkejut dan takut kalau-kalau pria itu berniat jahat. Belum sirna rasa takut dan kebingungan yang mereka alami, pria tua itu melanjutkan, “Mas, ojo wedhi aku juga wong Katolik. Rame-rame mau kemana? (Jangan takut karena saya pun juga Katolik. Ini ramai-ramai mau kemana?)”, tanya pria berambut putih itu kepada Abas.


Dengan perasaan lega, mereka menjawab, “Kami mau ikut misa di Villa Masin, Pak”.


“Wah,  kalau gitu saya ikut,” tegasnya seraya menghidupkan mesin Honda Supranya.


Belakangan,  baru kami tahu, pria berambut putih itu adalah Tukiyono.


Ia berasal dari Stasi Margomulyo, Paroki Santa Maria tak Bernoda Tegalrejo, Belitang.


Sudah beberapa waktu ia mengadu nasib sebagai petani karet di Desa Warga Lama, sekitar 45 menit perjalanan sebelum sampai Villa Masin.


Ia pun bertutur bahwa selama ini ia telah berusaha mencari keberadaan umat Katolik tetapi belum juga menemukan informasi yang memuaskan. Terakhir ia mendapat informasi  keberadaan orang Kristen dari salah satu warga desa.  Namun setelah ia kunjungi ternyata yang ia jumpai adalah umat dari denominasi Kristen.


Sukacita atas perjumpaan tak terduga ini begitu terpancar dari wajahnya yang mulai keriput. Ia bersyukur bahwa hari itu menjadi saat Tuhan menunjukkan saudara seiman kepadanya sekaligus memberinya kesempatan untuk merayakan Pesta Paskah dengan gembira.


Setelah menempuh perjalanan yang menantang, menjelang tengah hari rombongan pun sampai di Villa Masin. Sebelum ke kapel, rombongan sejenak membasuh diri di sebuah sungai  yang airnya terasa asin.


Rasa air sungai yang asin inilah menjadi latar belakang kampung ini disebut Villa Masin.


Tepat pukul 12.00 WIB rombongan tiba. Tampak seluruh umat stasi yang berjumlah 5 KK sudah setia menunggu.


Umat dan masyarakat di daerah ini bekerja sebagai petani jagung dan karet. Jalan yang rusak dengan kontur tanah perbukitan terjal berlobang menjadi kendala tersendiri untuk mengeluarkan hasil pertanian.


Mereka sudah terbiasa merasakan pahitnya kenyataan harga jual hasil pertanian yang rendah. Tengkulak dengan leluasa menekan harga hasil pertanian dan petani menerima kenyataan tanpa bisa berbuat lebih.


Setelah sejenak beristirahat dan bersiap, Misa Paskah pun dimulai pada pukul 12.30 WIB. OMK yang dikoordinir oleh Bapak Unggul Priyadi, pendamping OMK Martapura, pun mulai melantunkan kidung-kidung Paskah mengiringi Perayaan Ekaristi yang dipimpin penulis, Romo Titus Jatra Kelana Pr, imam diosesan Keuskupan Agung Palembang.


Badan yang lelah, cuaca panas dan ruangan kapel berdinding papan yang sempit sehingga harus sedikit berdesakan tak mengurangi semangat dan sukacita seluruh umat untuk merayakan Paskah.


Di akhir Ekaristi, sebelum berkat, Budi tampil mewakili OMK menyampaikan sharing pengalaman perjalanan dan perjumpaan Paskah di Villa Masin. Baginya, pengalaman perjalanan dengan segala kisahnya itu menggugahnya untuk lebih aktif dalam hidup menggereja, berani tampil memberi kesaksian hidup yang baik di manapun berada.


Hal senada juga disampaikan Pak Sukamto, mewakili para pendamping. Ia merasa disadarkan kembali akan tugas perutusannya sebagai pengurus stasi dan Prodiakon di Stasi Triniji Suci, Sungai Binjai, Martapura, OKUT.


Penulis bersama umat Katolik yang jumlahnya sedikit di Stasi Villa Masin.

“Sebagai Prodiakon selama ini,  saya sering kali menolak ketika diutus untuk melayani ke stasi ini. Hari ini saya semakin sadar akan akan makna tugas perutusan saya. Begitu berat medan yang harus dilalui seorang gembala agar bisa berjumpa dengan umatnya. Pengalaman ini akan saya bagikan kepada umat agar semakin bersemangat dalam hidup menggereja,” tegasnya penuh harap.


Usai Perayaan Ekaristi, perayaan dilanjutkan dengan Paskahan ala pesta kebun. Beralaskan terpal biru, tikar-tikar yang sebelumnya menjadi alas duduk lesehan saat misa, pun segera berpindah ke luar di sebelah bangunan kapel.


Di bawah rindangnya pohon karet dan jengkol yang tumbuh di sebelah bangunan kapel, bermacam sajian masakan dan kudapan telah terhidang. Ditemani segelas es teh manis dan kopi panas tanpa ragu sajian pesta Paskah itu disantap dan dinikmati penuh sukacita.


Canda tawa dan obrolan ringan tersaji di sela makan bersama. Semua merasakan indahnya persaudaraan.


Sukacita menyergap


Tak terasa, senja semakin menjelang. Pukul 16.00 WIB, rombongan pun bersiap untuk beranjak dari Villa Masin.


“Selamat jalan, hati-hati di jalan. Terimakasih kunjungannya, jangan kapok, lain kali kesini lagi ya,” ujar Mas Wardi, Ketua Stasi Villa Masin seraya menyalami rombongan OMK.


Ada sukacita yang terungkap dalam perjumpaan ini. Meski melelahkan semua terasa menyenangkan saat dijalani dengan rasa syukur.


Motor pun segera mulai meraung melahap setiap tanjakan terjal berbatu dan lobang-lobang penuh lumpur, kembali menuju Martapura. Masing-masing punya cerita dan pengalaman yang akan segera dibagikan.


Itulah sukacita Paskah.


Kita semua diutus menjadi pewarta Kebangkitan Yesus lewat setiap perjuangan dan kesaksian hidup kita yang baik, kapan pun dan di mana pun.


Mendung gelap tampak sudah menggantung di langit. Motor pun kami pacu lebih kencang. Tiga kilometer menjelang Martapura,  hujan dengan derasnya mengguyur kami.


Itu menjadi penutup episod perjalanan Paskah di Villa Masin.

Iman diosesan Keuskupan Agung Palembang; tugas pastoral di Gereja Sang Penebus – Paroki Batuputih, Kab. Ogan Komering Ulu, Sumsel.

Sumber: Sesawi

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: