Mendoakan Gembala dan Para Pemimpin Gereja (1)

Ayat bacaan: Kisah Para Rasul 12:5============================”Demikianlah Petrus ditahan di dalam penjara. Tetapi jemaat dengan tekun mendoakannya kepada Allah.”Menjadi pemimpin itu tidak mudah, apalagi kalau berkomitmen untuk menjadi pemimpin yang ba…

Ayat bacaan: Kisah Para Rasul 12:5
============================
“Demikianlah Petrus ditahan di dalam penjara. Tetapi jemaat dengan tekun mendoakannya kepada Allah.”

Menjadi pemimpin itu tidak mudah, apalagi kalau berkomitmen untuk menjadi pemimpin yang baik. Mereka harus kuat, sabar dan tabah karena harus berusaha mengakomodasi berbagai orang yang punya keinginan-keinginan sendiri dengan sifat masing-masing. Dengan banyaknya orang yang mau menang sendiri dan bersifat egois, tidak jarang para pemimpin yang baik harus terus bekerja meski diganggu oleh orang-orang seperti itu. Kita menuntut para pemimpin untuk berhasil, tapi bukannya menolong malah rajin mengkritik. Lihat saja bagaimana tingkah laku mereka di televisi yang seolah peduli tetapi sebenarnya memojokkan dan mengganggu kinerja para pemimpin. Singkatnya, jadi pemimpin yang baik itu berat dan sulit.

Karena itulah maka saya yakin pemimpin itu sangat butuh bantuan bukan celaan. Pemimpin bangsa dalam segala tingkatan seperti itu, pemimpin rohani pun tentu sama. Seringkali para pemimpin rohani harus menghadapi situasi yang sama, karena sifat-sifat seperti itu pun banyak dijumpai di antara orang percaya. Bagai lokomotif yang harus menarik sekian gerbong dibelakangnya, mereka harus bekerja keras melakukan itu meski badai menerpa kiri dan kanan. Mereka mungkin terkenal di kalangan jemaat, punya jabatan itu sepertinya terlihat hebat, tetapi kalau mereka memang benar menjalankan panggilan, saya yakin beban tugas mereka jauh lebih besar dari sekedar mendapatkan popularitas tersebut. Ada berapa banyak jemaat yang harus mereka tuntun? Apa saja masalahnya? Bagaimana dengan menyusun program, memimpin anggota di berbagai bidang dan mengarahkan jemaat untuk terus bertumbuh dalam pengenalan yang baik akan Kristus?  Itu baru tugas mereka dalam menggembalakan jemaat. Bagaimana dengan kehidupan mereka di luar tugas sebagai gembala? Kalau mereka bukan full timer, mereka masih harus menjalani profesinya. Disamping itu para gembala juga punya keluarga yang harus diurus. Istri, anak, orang tua, saudara, semua itu seringkali membutuhkan perhatian dan waktu yang tidak sedikit. Waktu mereka bisa begitu tersita, sehingga mereka mungkin harus mengorbankan waktu-waktu untuk beristirahat.

Sekuat-kuatnya manusia, ada saat dimana kita menyentuh titik lemah. Kecapaian, sakit, burn out, dan sebagainya. Kelelahan saja bisa membuat orang kehilangan banyak hal. Sulit konsentrasi, kehilangan semangat atau gairah, juga bisa membuat orang jatuh sakit. Sekuat-kuatnya gembala kita, sehebat-hebatnya mereka, mereka tetaplah manusia yang sama seperti kita. Manusia yang terbatas, manusia yang lemah dan rentan. Maka jelas, gembala atau para pengerja dan pemimpin rohani butuh doa, agar mereka menjadi lebih kuat, lebih sabar, lebih tabah, lebih kokoh sehingga jemaat yang mereka tuntun bisa bertumbuh dengan baik.

Kita bisa melihat sebuah contoh dari pentingnya kuasa doa yang ditujukan kepada gembala atau pemimpin rohani, yaitu dalam Kisah Para Rasul 12:1-19. Pada waktu itu Herodes mulai bertindak keras menindas orang percaya.Ia memerintahkan kepada algojo bahwa Yakobus harus dibunuh dengan pedang. Yakobus pun tewas sebagai martir. Demi melihat perilaku jahatnya ternyata disukai orang Yahudi, maka ia pun ketagihan melanjutkan perbuatannya dengan menahan Petrus. Petrus pun ditangkap. Tapi untunglah hari itu jatuh kepada Hari raya Roti Tidak Beragi, sehingga Petrus tidak langsung diadili untuk kemudian dihukum mati. Sebagai gantinya, Petrus dijebloskan kepenjara dan dijaga oleh 4 regu dengan 4 prajurit pada masing-masing regu. Enam belas orang ditugaskan untuk menjaga satu orang. Mengapa? Karena Herodes tidak ingin ada apa-apa terjadi pada Petrus sebelum dia diadili di depan rakyatnya dan bisa dibunuh. Apa yang akan terjadi atas diri Petrus sudah jelas. Hukuman mati telah menanti. Sebentar lagi ia akan mengalami nasib yang sama dengan Yakobus.

Tapi bukan itu yang terjadi. Alkitab mencatat seperti ini: “Demikianlah Petrus ditahan di dalam penjara. Tetapi jemaat dengan tekun mendoakannya kepada Allah.” (Kisah Para Rasul 12:5). Jemaat ternyata tidak tinggal diam. Mereka berkumpul dan terus menerus berdoa dengan sungguh-sungguh untuk Petrus. Dan terjadilah mukjizat luar biasa, Tuhan mengutus malaikat untuk melepaskan Petrus. “Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan dekat Petrus dan cahaya bersinar dalam ruang itu. Malaikat itu menepuk Petrus untuk membangunkannya, katanya: “Bangunlah segera!” Maka gugurlah rantai itu dari tangan Petrus.” (ay 7). Petrus pun segera mengikuti malaikat itu meski masih bingung tentang apa yang sedang terjadi, apakah itu nyata atau cuma mimpi. Baru setelah sampai di luar di tempat yang aman dan malaikat itu meninggalkannya, ia baru sadar mengenai apa yang terjadi. “Dan setelah sadar akan dirinya, Petrus berkata: “Sekarang tahulah aku benar-benar bahwa Tuhan telah menyuruh malaikat-Nya dan menyelamatkan aku dari tangan Herodes dan dari segala sesuatu yang diharapkan orang Yahudi.” (ay 11). Lihatlah betapa hebatnya kuasa doa. Dan itu adalah doa yang dipanjatkan para jemaat terhadap pemimpin mereka. Seperti itulah besarnya kuasa doa.

(bersambung)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply