Mendengar

Ayat bacaan: Matius 11:15
======================
“Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!”

mendengar, kritik membangun, komentar destruktif, telinga

“Waduh, kalau semua kritik dimasukin ke hati, bisa gila mas..” demikian komentar salah seorang anggota penyelenggara event musik pada suatu kali pada saya. “Orang kalau mengkritik suka nggak kira-kira, mereka nggak mau tahu bagaimana sulitnya pekerjaan ini, kita sudah mati-matian kerja, masih juga kejam-kejam komentarnya..” ia melanjutkan. “Mengomentari sih mudah, coba dulu deh duduk di posisi saya, baru tahu bagaimana susahnya.” lanjutnya lagi. Ya, mendengarkan kritik seringkali tidak mudah. Ada kalanya kritik yang datang terlalu kejam, sifatnya bukan lagi membangun tapi meremehkan dan menjatuhkan, sehingga jika kita tidak memiliki mental kuat dan benar-benar fokus pada tujuan, kita bisa menjadi lemah dan patah semangat.

Kita tidak bisa menghindari kritik. Kapanpun, dimanapun kita akan berhadapan dengan kritik. Ada kalanya memang kita memerlukan kritikan yang konstruktif atau membangun, agar kita bisa menata sesuatu lebih baik lagi. Mungkin pedas, namun jika untuk kebaikan kita sendiri, itu haruslah kita terima dengan lapang hati. Kedatangan Tuhan Yesus ke dunia diisi dengan banyak peringatan. Banyak hal-hal yang dibukakan Yesus, yang sebelumnya tidak diketahui orang. Berulang kali Yesus mengakhiri pesannya dengan “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!” Kita diberikan sepasang telinga oleh Tuhan (Amsal 20:12). Dia berikan telinga bukanlah tanpa maksud. Gunakanlah keduanya dengan baik untuk mendengar, sehingga kita bisa mengerti dan memperbaiki diri. Dalam Amsal juga kita membaca demikian: “Orang yang mengarahkan telinga kepada teguran yang membawa kepada kehidupan akan tinggal di tengah-tengah orang bijak.” (Amsal 15:31). Kita harus melembutkan hati, dengan lapang dada, untuk menerima kritik atau teguran konstruktif untuk bertumbuh lebih lagi.

Sebaliknya, bagaimana jika kritikan itu tidak bersifat membangun, dan bertujuan untuk menjatuhkan? Bagaimana jika ucapan-ucapan pesimis dan negatif yang kita hadapi? Jangan menjadi patah semangat karenanya. Jika kita sudah berusaha dengan sebaik mungkin, apalagi jika kita melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh sesuai kehendak Tuhan, jangan biarkan ucapan-ucapan negatif itu menghancurkan kita. Ingatlah bagaimana beratnya Musa menghadapi orang-orang Israel yang keras kepala dan jagoan bersungut-sungut untuk membawa mereka keluar dari Mesir. Sepertinya hampir setiap hari ia diteror oleh komentar-komentar pedas dari bangsa yang tegar tengkuk ini. Bayangkan, adalah perintah Tuhan untuk membawa mereka ke tanah terjanji, keluar dari perbudakan di Mesir, namun inilah yang mereka katakan pada Musa. “dan mereka berkata kepada Musa: “Apakah karena tidak ada kuburan di Mesir, maka engkau membawa kami untuk mati di padang gurun ini? Apakah yang kauperbuat ini terhadap kami dengan membawa kami keluar dari Mesir? Bukankah ini telah kami katakan kepadamu di Mesir: Janganlah mengganggu kami dan biarlah kami bekerja pada orang Mesir. Sebab lebih baik bagi kami untuk bekerja pada orang Mesir dari pada mati di padang gurun ini.” (Keluaran 14:11-12). Bukan hanya ini komentar sinis bangsa Israel. Perjalanan mereka penuh dengan keluh kesah, protes dan komentar-komentar yang bisa setiap saat melemahkan Musa. Nuh pun demikian. Membangun sebuah kapal di atas bukit, sementara belum pernah ada hujan yang turun, apalagi banjir? Saya yakin Nuh setiap hari berhadapan dengan banyak pencemooh yang mengolok-olok dia dan keluarganya. Seandainya Nuh tidak menyaring komentar-komentar orang, tidak menjaga telinganya dengan filter yang memadai, bahteranya tidak akan pernah selesai ia bangun.

“Lidah orang bijak mengeluarkan pengetahuan, tetapi mulut orang bebal mencurahkan kebodohan.” (Amsal 15:2). Orang yang bijak akan memberikan kritik konstruktif, sebaliknya orang bebal hanya akan mengumbar kebodohannya dengan komentar-komentarnya. Itu biasa terjadi di dunia, yang harus pandai-pandai kita saring. Jika komentar-komentar negatif yang kita terima, buanglah itu. Namun jika teguran positif, terimalah itu dengan lapang hati. Telinga diberikan Tuhan untuk tujuan mendengar, Pergunakanlah anugrah Tuhan akan sepasang telinga untuk bisa bertumbuh menjadi orang-orang bijaksana yang maju dari hari ke hari. Selain untuk mendengar, miliki pula telnga yang selektif dalam mendengar. Pandai-pandailah menyaring komentar dan kritik yang masuk. Simpan yang positif, buang yang negatif. Teguran yang membangun sangatlah berharga. Salomo menggambarkannya demikian: “Teguran orang yang bijak adalah seperti cincin emas dan hiasan kencana untuk telinga yang mendengar.” (25:12). Menolak teguran bisa membuat kita lupa diri, tapi komentar destruktif yang tidak membangun bisa melemahkan semangat kita bahkan menghancurkan masa depan kita. Maka dari itu, miliki telinga yang selektif, dan pekalah terhadap kehendak Tuhan. Pergunakan dan manfaatkan anugrah sepasang telinga dari Tuhan dengan baik.

Ada kritik konstruktif dan ada yang destruktif, saringlah semuanya dengan baik

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: