Mendengar Suara Hati Nurani (2)

(sambungan)Sepertinya, seburuk-buruk orang Farisi dan ahli Taurat pada masa itu, mereka lebih baik daripada sebagian orang yang merasa terdepan dalam soal agama di sekitar kita hari ini. Saat itu dalam menyikapi seruan Yesus para ahli Taurat dan orang …

(sambungan)

Sepertinya, seburuk-buruk orang Farisi dan ahli Taurat pada masa itu, mereka lebih baik daripada sebagian orang yang merasa terdepan dalam soal agama di sekitar kita hari ini. Saat itu dalam menyikapi seruan Yesus para ahli Taurat dan orang Farisi ini ternyata mau mendengar suara hati nuraninya dan kemudian pergi. Jika itu terjadi hari ini, saya rasa sebagian dari mereka malah akan dengan senang hati melempari sampai mati, karena merasa dirinya paling suci, tanpa dosa, tanpa cela, bersih dan paling benar. Lihat bagaimana perilaku sekelompok orang yang merasa berhak menghakimi dengan jalan-jalan kekerasan dengan mengatas-namakan Tuhan. Apakah hati nuraninya sudah mati? Membeku? Atau isinya memang sudah terlalu banyak yang menyimpang? Entahlah. Hanya mereka yang tahu apa suara hati nurani mereka saat melakukan tindakan-tindakan seperti itu. Yang jelas, kekerasan tidak akan pernah bisa menjadi solusi penyelesaian masalah. Setidaknya dalam kekristenan kita diajarkan untuk terus mengasihi, dimana di dalamnya kekerasan tidak akan mendapat tempat.

Dalam hal kasih, Yesus justru mengharuskan kita untuk mengasihi musuh dan berdoa bagi mereka. “Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” (Matius 5:44). Mengapa harus begitu? “Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.” (ay 45). Ingat pula bahwa dalam prinsip Kerajaan Allah, kasih tidak pernah gagal (1 Korintus 13:8).

Dalam surat Roma ada ayat yang menyebutkan: “Sebab dengan itu mereka menunjukkan, bahwa isi hukum Taurat ada tertulis di dalam hati mereka dan suara hati mereka turut bersaksi dan pikiran mereka saling menuduh atau saling membela.” (Roma 2:15). Hati nurani sesungguhnya merupakan anugerah yang diberikan Tuhan secara langsung untuk membekali setiap manusia dalam penciptaanNya. Semua manusia memiliki hati nurani yang dipakai Tuhan untuk berbicara kepada kita. Tidak satupun orang yang hidup tanpa hati nurani. Kita bukan diciptakan sebagai robot atau patung tanpa jiwa dan roh. Tuhan akan terus berbicara melalui hati, tetapi semua tergantung kita, apakah kita mau mendengarkan atau memilih untuk mengabaikannya. Hati nurani bisa menegur dan bahkan membuat kita merasa sebagai tertuduh apabila apa yang kita lakukan memang bertentangan dengan kebenaran. Jika ada di antara teman-teman yang saat ini sedang merasa gelisah karena sedang atau akan melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hati nurani anda sendiri, merasa cemas, kehilangan sukacita atau merasa tertuduh, berdoalah dan mintalah Roh Kudus untuk menerangi hati anda. Ingatlah bahwa Firman Tuhan berkata: “Roh manusia adalah pelita TUHAN, yang menyelidiki seluruh lubuk hatinya.” (Amsal 20:27). Karenanya kita harus serisu dalam menjaga kemurniannya agar hati nurani tetap bisa berfungsi baik dalam hidup kita.  Jika anda masih mendengar suara hati nurani, jangan abaikan karena itu hanya akan merugikan kita sendiri.

Hati nurani merupakan sarana yang disediakan Tuhan untuk mengingatkan dan menegur kita agar tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang salah

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply