Mendapatkan Upah

bekerja“Mengapa kamu belanjakan uang untuk sesuatu yang bukan roti? Dan mengapa upah jerih payahmu kamu belanjakan untuk sesuatu yang tidak mengenyangkan? Dengarkanlah Aku, maka kamu akan mendapat makanan yang baik, dan kamu akan menikmati sajian yang paling lezat.” (Yes 55, 2) SEORANG  anak punya hobi fotografhi. Orang tuanya tahu dan membelikan kamera Nikon D3100 seharga […]

bekerja

“Mengapa kamu belanjakan uang untuk sesuatu yang bukan roti? Dan mengapa upah jerih payahmu kamu belanjakan untuk sesuatu yang tidak mengenyangkan? Dengarkanlah Aku, maka kamu akan mendapat makanan yang baik, dan kamu akan menikmati sajian yang paling lezat.” (Yes 55, 2)

SEORANG  anak punya hobi fotografhi. Orang tuanya tahu dan membelikan kamera Nikon D3100 seharga Rp 5,.5 juta. Ketika melihat hal itu, neneknya berkomentar, “Uang segitu kok cuma untuk beli barang gak enak. Mendingan dikasihkan ke aku untuk beli beras dapat 12 karung lebih. Beras kan bisa mengenyangkan.”

Para pekerja memang mendapat upah. Mereka bisa menggunakan upahnya untuk membeli banyak hal. Banyak orang membelanjakan upah kerjanya untuk membeli hal atau barang yang merupakan kebutuhan pokok. Mereka membelanjakan uang demi kesejahteraan diri dan keluarganya.

Mereka mengatur pembelanjaan barang dengan baik, sehingga banyak orang masih sempat menyisihkan dana untuk ditabung. Mereka tidak menghabiskan upah jerih payahnya dalam waktu sesaat.

Namun demikian, banyak juga orang yang cenderung boros. Mereka membelanjakan upah jerih payahnya untuk membeli berbagai macam hal sekunder atau barang yang bukan termasuk kebutuhan pokok.

Banyak orang tergoda oleh berbagai macam iklan, promosi atau tawaran akan barang dan membelinya demi gengsi atau penampilan. Banyak barang dibeli, dipakai sekali atau dua kali trus disimpan, sehingga almari penuh dengan pakaian, mainan, boneka, sepatu, tas, dompet dan barang lain.

Setiap orang memang punya hak untuk membelanjakan atau menggunakan uang yang diperolehnya. Tiap orang juga bebas untuk membeli barang atau hal yang dibutuhkan atau diinginkan. Tiap orang memang punya kebutuhan, keinginan dan minat yang berbeda-beda. Barang yang dibutuhkan dan dibeli oleh seseorang belum tentu dibutuhkan oleh orang lain.

Apa yang disampaikan Yesaya bisa menjadi bahan refleksi atas penggunaan dan pengelolaan uang yang kita peroleh serta sikap para murid terhadap berbagai macam tawaran. Konsumerisme merupakan kenyataan yang bisa menjangkiti banyak orang dan bisa menimbulkan persoalan hidup.

Tanggung jawab dalam penggunaan dan pengelolaan tetap dituntut, sekalipun uang itu milik pribadi dan merupakan hasil jerih payah usaha.

Teman-teman selamat petang dan selamat berhari Minggu. Berkah Dalem.

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply