Mencintai dengan Penuh Kasih Sayang

Perkawinan di Vietnam by RYIMAMPUKAH  Anda mencintai dengan hati yang tulus yang tidak hanya mementingkan diri Anda sendiri? Saya yakin, Anda pasti bisa melakukannya dalam hidup sehari-hari. Ade Sara Angelina Suroto (19), Ahmad Imam Al Hafiz dan Assyifa Ramadhani dikenal sebagai teman satu SMA. Hubungan ketiganya yang diwarnai cinta, benci, cemburu dan berujung kematian menimbulkan tanda tanya. Ada masalah […]

Perkawinan di Vietnam by RYI

MAMPUKAH  Anda mencintai dengan hati yang tulus yang tidak hanya mementingkan diri Anda sendiri? Saya yakin, Anda pasti bisa melakukannya dalam hidup sehari-hari.

Ade Sara Angelina Suroto (19), Ahmad Imam Al Hafiz dan Assyifa Ramadhani dikenal sebagai teman satu SMA. Hubungan ketiganya yang diwarnai cinta, benci, cemburu dan berujung kematian menimbulkan tanda tanya. Ada masalah apa dengan mereka?

Kriminolog Univeristas Indonesia, Bambang Widodo Umar, mengatakan bahwa dari sisi kriminologi kasus pembunuhan terhadap Ade Sara Angelina Suroto merupakan kejahatan ekstrem di luar batas kewajaran. Pelaku bisa saja meniru faktor internal ataupun eksternal dari lingkungan sekitarnya.

Ia juga mengutarakan bahwa tayangan kekerasan di massmedia bisa memicu perilaku meniru. Kadang mereka yang mengonsumsi tayangan kekerasan, meski bersifat imajinatif bisa dianggap sebagai sesuatu yang benar. Orang menampilkan cinta yang begitu besar, tetapi tidak mengenal kasih sayang.

Di sisi lain, kita melihat betapa menyentuh, tegar dan lapang sikap Ibunda dari Ade Sara yang jenasahnya di buang di Tol JORR, Bekasi. Elizabeth Diana, nama ibu itu, mengikhlaskan kematian anaknya. Di hadapan makam anaknya, sang ibu meminta agar Ade Sara memaafkan Ahmad Imam Al Hafiz (19), mantan kekasih yang tega membunuhnya.

Saat menaburkan bunga di makam Sara, TPU Pondok Kelapa, Jakarta Timur, Jumat (7/3), Elizabeth berkata, “Mama tahu Ade sudah tenang di surga. Mama sudah memaafkan Hafiz dan Shifa. Ade juga maafin yah.”

Sahabat, kisah tragis seperti ini semestinya tidak menimpa manusia yang berakal sehat dan normal. Peristiwa tragis ini menunjukkan manusia yang mementingkan dirinya sendiri. Manusia hanya mau menang sendiri. Manusia hanya mau menuntut untuk dikasihi, tetapi menolak untuk dikasihi.

Kita semua sadar bahwa mencintai itu membutuhkan korban dalam perjalanan hidup manusia. Korban itu mesti datang dari kedua belah pihak. Tidak bisa hanya satu pihak yang menampilkan korban itu. Kalau hanya satu pihak, cinta itu tidak murni. Cinta semacam ini hanya penuh dengan cemburu buta. Cinta semacam ini hanya menimbulkan kegalauan dalam hidup manusia.

Akibatnya, manusia akan mengalami dukacita dalam hidupnya. Mencintai, tetapi tidak mengenal kasih sayang terhadap yang lain.

Untuk itu, kita mesti belajar dari peristiwa tragis seperti ini. Cinta mesti dibangun dengan ketulusan hati. Cinta mesti diproses dalam perjalanan hidup yang rela berkorban bagi orang yang dicintai. Ini tidak mudah, karena dalam mencintai orang juga masih memiliki egoisme. Orang masih mementingkan kesenangan dirinya sendiri.

Orang beriman mesti berani berkorban dalam cinta, sehingga orang mengenal kasih sayang terhadap yang lain. Hanya dengan memiliki kasih sayang yang mendalam, orang mampu membangun hidup dalam cinta kasih. Untuk itu, orang membutuhkan bantuan dari rahmat Tuhan. Orang mesti memohon kepada Tuhan untuk memberikan cinta yang tulus tanpa hanya mementingan diri sendiri. Tuhan memberkati.

Kredit foto: Ilustrasi sepasang muda-mudi jatuh cinta di Vietnam (Mathias Hariyadi/Sesawi.Net)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply