Mencerminkan Kebenaran

Ayat bacaan: Roma 1:20
=================
“Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih.”

cermin

Susahkah bagi manusia yang memiliki akal, nalar dan pikiran untuk mengetahui kebenaran? Alkitab mengatakan bahwa sebenarnya itu tidaklah sulit. Kebesaran, kekuatan dan keilahian Tuhan itu bisa terlihat jelas dari segala karya penciptaan di muka bumi ini sebagai buah pikiran Tuhan, sehingga seharusnya semuanya dengan gamblang bisa terlihat. Dalam surat Roma dikatakan: “Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih.” (Roma 1:20). Tetapi mengapa masih saja ada banyak orang yang matanya tertutup? Ada banyak hal yang menjadi penyebabnya mungkin. Kekerasan hati, kedegilan, itu bisa membuat orang tidak bisa melihat kebenaran yang seharusnya tidak sulit untuk terlihat. Pernahkah kita terpikir bahwa mungkin perilaku atau sikap hidup kita sebagai orang percaya pun bisa membawa pengaruh besar untuk merepresentasikan kebenaran? Sebab seandainya kita tidak mencerminkan sikap yang benar sebagai warga Kerajaan, itu bisa menjadi batu sandungan yang membuat orang sulit menerima kebenaran. Dengan kata lain, seandainya masih ada dalih yang disampaikan untuk menolak kebenaran, salah satu penyebabnya bisa jadi karena hati Bapa belum tercermin dari sikap dan perilaku kita, orang-orang percaya. Jangan-jangan orang belum bisa melihat cerminan Kristus lewat diri kita atau malah mendapat pemahaman yang salah akan Kristus lewat sikap kita.

Mari kita baca kisah mengenai kunjungan ratu negeri Syeba ke Yerusalem ketika Salomo tengah memerintah sebagai raja (1 Raja Raja 10:1-13). Nama besar Salomo pada waktu itu sangat harum terdengar hingga ke negeri ratu Syeba. Ia kemudian tertarik untuk membuktikan sendiri apakah benar Salomo itu benar-benar seperti yang sudah ia dengar. Ratu Syeba datang membawa pertanyaan-pertanyaan sulit. Lalu bagaimana? Lewat Alkitab kita bisa mengetahui bahwa “Salomo menjawab segala pertanyaan ratu itu; bagi raja tidak ada yang tersembunyi, yang tidak dapat dijawabnya untuk ratu itu.” (ay 3). Ratu Syeba pun terpukau melihat semuanya. Ia menyaksikan sendiri bagaimana kemakmuran negeri yang diperintah Salomo, tata krama orang-orang disana dan tentu saja hikmat yang dimiliki Salomo. “Ketika ratu negeri Syeba melihat segala hikmat Salomo dan rumah yang telah didirikannya, makanan di mejanya, cara duduk pegawai-pegawainya, cara pelayan-pelayannya melayani dan berpakaian, minumannya dan korban bakaran yang biasa dipersembahkannya di rumah TUHAN, maka tercenganglah ratu itu.” (ay 4-5). Maka ratu Syeba pun mengakui bahwa apa yang ia dengar sebelumnya tentang Salomo memanglah tidak berlebihan (ay 6), bahkan sesungguhnya lebih dari apa yang ia dengar. Begitu terpukaunya ratu Syeba hingga ia berkata “sungguh setengahnyapun belum diberitahukan kepadaku; dalam hal hikmat dan kemakmuran, engkau melebihi kabar yang kudengar.” (ay 7). Lalu lihatlah ratu Syeba pun kemudian memuji Tuhannya Salomo. “Terpujilah TUHAN, Allahmu, yang telah berkenan kepadamu sedemikian, hingga Ia mendudukkan engkau di atas takhta kerajaan Israel! Karena TUHAN mengasihi orang Israel untuk selama-lamanya, maka Ia telah mengangkat engkau menjadi raja untuk melakukan keadilan dan kebenaran.” (ay 9). Lihatlah hikmat yang diperoleh Salomo dari Tuhan ternyata mampu ia pergunakan secara benar untuk memuliakan Tuhan. Orang lain bisa melihat betapa hebatnya Tuhan lewat diri Salomo. Mereka bisa melihat sebuah bukti nyata sehingga tidak bisa berdalih lagi,  bahkan kemudian membuat mereka untuk tidak tahan untuk memuji Tuhan secara langsung.

Benar, mungkin kita tidak memiliki hikmat sehebat Salomo. Tapi jangan lupa bahwa kepada kita sebenarnya Tuhan telah memberikan talenta-talenta tersendiri yang tentu bisa dipergunakan untuk menyatakan kebenaran tentang Tuhan kepada orang-orang lain. Dengan kata lain, orang bisa mengenal Tuhan lewat diri kita. Orang bisa memuji Tuhan lewat cara hidup kita. Sebaliknya, orang bisa pula mendapatkan pemahaman-pemahaman yang salah lewat perilaku kita yang tidak terpuji dan bertentangan dengan firman Tuhan. Yesus sudah mengatakan bahwa “hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” (Matius 5:16). Itu sudah menjadi kewajiban bagi setiap orang percaya. Sejauh mana kita serius mengaplikasikan hal itu dalam kehidupan kita sehari-hari akan memberi pengaruh terhadap sejauh mana orang bisa mengenal Kristus secara benar.

Ini saatnya bagi kita untuk memeriksa diri sampai sejauh mana kita sudah mencerminkan kebenaran lewat sikap hidup kita. Tingkatkan yang baik, terus berproses sehingga kita semakin mencerminkan Kristus, sedang yang jelek harus sesegera mungkin kita perbaiki. Pertanyaan mampukah saya menjadi sebuah cerminan Kristus yang baik, atau jangan-jangan saya masih merupakan batu sandungan bagi banyak orang harus tetap kita ingat dalam segala sesuatu yang kita lakukan atau tunjukkan dalam hidup ini. Sebagai anak-anak Tuhan kita seharusnya bisa menjadi sumber bagi orang lain untuk mengenalNya secara benar. Tidak sekedar mengenal sosok Tuhan yang kita sembah, tetapi juga memuliakan dan memujiNya. Ini sebuah tanggungjawab yang harus kita emban dalam proses perjalanan kehidupan kita.

Salomo menunjukkan bagaimana ia bisa memakai apa yang telah dihadiahkan Tuhan kepadanya dengan baik sehingga lewat semua itu Tuhan kemudian dipermuliakan. Kisah perjumpaan Salomo dan ratu Syeba ini hendaknya membuka pikiran kita bahwa ada peran penting kita di dunia ini untuk menjadi representatif yang benar mengenai Tuhan dan kebenaran Injil KerajaanNya. Sudahkah kita menerangi orang lain dengan terang Tuhan yang ada pada kita? Sudahkah kita menjadi surat Kristus, yang bukan ditulis dengan tinta melainkan dengan Roh dari Allah yang hidup seperti yang tertulis dalam 2 Korintus 3:3? Marilah kita memperhatikan baik sikap, perilaku dan cara hidup kita agar kita jangan sampai menjadi batu sandungan yang bisa membuat orang malah semakin jauh dari melihat kebenaran.

Jadilah cerminan Kristus yang benar sehingga orang bisa mengenalNya lewat diri kita

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply