Mencekik Firman

Ayat bacaan: Markus 4:19===============”Then the cares and anxieties of the world and distractions of the age, and the pleasure and delight and false glamour and deceitfulness of riches, and the craving and passionate desire for other things creep in a…

Ayat bacaan: Markus 4:19
===============
“Then the cares and anxieties of the world and distractions of the age, and the pleasure and delight and false glamour and deceitfulness of riches, and the craving and passionate desire for other things creep in and choke and suffocate the Word, and it becomes fruitless.” (English Amp)

Jika mendengar kata mencekik, pikiran kita biasanya akan mengarah kepada sebuah tindakan mencengkram leher seseorang dengan kuat sehingga korban bisa lemas bahkan mati. Kita sering melihat adegan seperti ini di film-film yang mengangkat tema kriminal, kita juga sering membaca pola pembunuhan seperti ini di berbagai media massa. Cekik memang memiliki definisi tepat seperti itu, tetapi ada juga defenisi lainnya yaitu mematikan, menekan, menjepit atau menindas sehingga seseorang atau sesuatu itu tidak bertumbuh sebagaimana mestinya.

Menarik jika melihat bahwa Yesus dalam menerangkan tentang bagaimana benih firman bisa tumbuh dalam Matius 13:1-23, Lukas 8:4-15 dan Markus 4:1-20. Layaknya bibit atau benih tanaman yang kita inginkan untuk tumbuh di halaman rumah atau kebun kita, benih firman yang ditabur akan sangat tergantung dari kondisi tanah dimana benih itu jatuh. Yesus mengatakan bahwa benih yang akan berbuah tentu saja adalah benih yang jatuh di tanah yang baik. “Dan sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat.” (ay 8). Pertanyaannya, bagaimana kondisi hati kita saat ini? Sudahkah hati kita baik seperti tanah yang baik? Sudahkah kita memperhatikan betul kondisinya hari ini? Mungkin perilaku kejahatan yang jelas-jelas nyata memang tidak kita lakukan, seperti membunuh, mencuri, menyiksa orang dan sebagainya. Tetapi kita luput memperhatikan hal-hal yang tampaknya tidak bersalah dalam hidup sehari-hari. Hal-hal seperti ini bisa mencekik kehidupan rohani kita jika kita ijinkan terjadi.

Hal itu tampak jelas dalam ayat dalam Injil Markus 4:18-19. “Dan yang lain ialah yang ditaburkan di tengah semak duri, itulah yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan dan keinginan-keinginan akan hal yang lain masuklah menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah.” Dalam versi English Amplified, dikatakan “And the ones sown among the thorns are others who hear the Word; Then the cares and anxieties of the world and distractions of the age, and the pleasure and delight and false glamour and deceitfulness of riches, and the craving and passionate desire for other things creep in and choke and suffocate the Word, and it becomes fruitless.” Tanahnya mungkin tidak berbatu dan keras, tetapi ada banyak semak duri disana yang akan menghambat pertumbuhan benih tersebut. Seperti apa bentuk semak duri yang dimaksud Yesus? Versi Alkitab kita mengatakan itu adalah kekuatiran, tipu daya kekayaan dan keinginan-keinginan akan hal yang lain, keinginan-keinginan yang ditujukan untuk memuaskan dan berpusat pada daging. Mengapa saya mengacu kepada versi bahasa Inggrisnya? Karena dalam versi ini penjabarannya lebih detail. “The cares and anxieties of the world and distractions of the age, and the pleasure and delight and false glamour and deceitfulness of riches, and the craving and passionate desire for other things.”  Lebih mementingkan dunia, Kekhawatiran dan kegelisahan duniawi, gangguan atau kebingungan di jaman ini, kesenangan dan kegembiraan dan gemerlap yang semu atau palsu, tipu daya kekayaan dan kecanduan dan hasrat yang menggebu untuk hal-hal lain, itulah yang menjadi semak duri. Semak duri ini dikatakan bisa menyelinap masuk kemudian mencekik firman (choke and suffocate the Word) sehingga firman menjadi terhambat atau sama sekali tidak bertumbuh. Ayat ini menggunakan kata choke and suffocate. Choke itu mencekik, sedang suffocate adalah sebuah tindakan yang dibuat untuk menghambat, menghalangi atau menghancurkan akses seseorang akan udara atau oksigen. Misalnya dengan menutup kepala seseorang dengan kantong plastik, menutup hidung dan mulut dengan sesuatu yang membuat korban tidak bisa bernafas dan sebagainya. Keduanya punya tujuan sama, yaitu untuk mencelakakan dengan menutup akses kepada hal yang diperlukan untuk bisa hidup. Mencekik leher orang, menutup kepalanya dengan plastik atau menutup mulut dan hidung dengan sapu tangan, bantal atau tangan kosong, itu akan menghasilkan kondisi yang sama bagi korban, yaitu mati lemas. Itulah yang akan terjadi dengan benih firman apabila kita membiarkan semak duri seperti dalam penjabaran diatas untuk menguasai hati dan hidup kita secara keseluruhan. Benih bukan saja bisa terhalang bertumbuh, tapi bisa tidak tumbuh sama sekali alias mati. Kalau sudah begitu, bagaimana kita bisa mengharapkan adanya buah?

Maka sangatlah penting bagi kita untuk menjaga cara hidup kita dalam dunia ini agar jangan sampai ada yang mencekik kerohanian kita. Kita sibuk mementingkan segala sesuatu yang diajarkan dunia bisa mendatangkan kebahagiaan dan kepenuhan. Kita terus menerus bekerja bagai mesin yang terus beroperasi nonstop untuk mengikuti ajaran dunia sehingga tidak lagi punya waktu sedikitpun untuk mengurusi masalah rohani. Jika ini yang kita pilih, disanalah roh kita tercekik dan tidak lagi bertumbuh, tidak berbuah. Kalau kita ada pada situasi ini, artinya sudah tiba waktu bagi kita untuk menyederhanakan hidup kita dengan menitikberatkan sesuai skala prioritasnya. Jangan sampai kita mengorbankan waktu untuk berdoa dan bersaat teduh, merenungkan Firman bersama Tuhan demi hal-hal lainnya yang kita anggap jauh lebih penting dibandingkan itu. Jangan sampai pula kita mengorbankan keluarga demi karir dan kekayaan. Dunia terus menganjurkan dan menghasut kita sehingga paradigma kita pun tidak lagi mengacu kepada kebenaran firman. Itupun sudah menunjukkan tercekiknya benih firman dalam diri kita. Firman Tuhan sudah mengingatkan hal ini. “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” (Roma 12:2).

Lihatlah pesan Paulus kepada Timotius berikut: “Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya, supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya.” (2 Timotius 2:4). Ini adalah pesan yang sangat penting agar kita tidak memusingkan diri setiap saat dengan soal-soal penghidupan. Tidakkah seorang prajurit atau tentara pun akan seperti itu? Akankah seorang prajurit bisa berkenan kepada atasan atau komandannya apabila ia malah sibuk mengurusi urusan pribadinya dan mengabaikan perintah dari sang komandan? Bagi saya ini adalah sebuah perumpamaan yang sangat tepat untuk mengingatkan kita mengenai skala prioritas dalam menjalani hidup. Jangan sampai segala aktivitas kita membuat kita lupa untuk membangun hubungan dengan Tuhan lewat doa, pembacaan atau perenungan firman dan saat-saat teduh kita. Jangan sampai segala kesibukan kita membuat keluarga kita kering akan kebenaran firman. Kita harus senantiasa merawat, memperkuat dan menyehatkan roh kita agar tetap baik keadaannya dan tidak sedang dalam keadaan tercekik.

Selanjutnya lihatlah firman Tuhan dalam surat 1 Yohanes 2 berikut. “Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia.” (1 Yohanes 2:15-16). Ayat ini berbicara dengan jelas mengenai apa yang seharusnya menjadi titik fokus atau pilihan kita dalam menjalani kehidupan. Bahkan lebih tegas lagi dikatakan: “Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah akan hidup selama-lamanya.” (ay 17). Apa yang bisa membuat kita berbuah adalah apabila kita tetap bersatu dengan Tuhan. Perhatikan ayat berikut ini: “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.” (Yohanes 15:4). Itulah yang penting untuk kita pastikan.

Kita tidak akan bisa berbuah apabila kita malah tinggal di dalam segala yang ditawarkan dunia dan terlepas dari Yesus. Dwell in Him, and he will dwell in you. Live with Him, and He will live in you. That’s the only way for us to bear fruit. That’s the way for us to avoid the condition of being spirtually choked and suffocated.

Perhatikan hidup sehari-hari dan pastikan jangan sampai satupun ada yang mencekik kerohanian kita hingga tidak bisa tumbuh dan berbuah

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply