Mencapai Finish Seperti Zoe

Ayat bacaan: 2 Timotius 4:7
======================
“Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman”

Ada sebuah kutipan perkataan Muhammad Ali yang cukup terkenal. “Champions aren’t made in the gyms.Champions are made from something they have deep inside them – a desire, a dream, a vision” Seorang juara bukan berasal dari latihan fisik di tempat pemusatan latihan, tapi terbentuk dari apa yang mereka miliki di dalam diri mereka. Kutipan ini mengingatkan saya pada sosok Zoe Koplowitz.

zoe koplowitz, renungan harian

Zoe Koplowitz adalah seorang ibu berusia 54 tahun, yang rutin mengikuti lomba lari maraton di New York. Total maraton yang telah beliau ikuti mencapai 20 buah, semuanya bukan dimenangi Zoe, sebaliknya Zoe selalu finish di urutan terakhir! Ketika juara pertama finish dengan waktu sekitar 2 jam, Zoe mencapai garis finish dengan menempuh waktu 33 jam dan 9 menit, dan dengan sendirinya mencatat rekor waktu terlama dalam sejarah maraton wanita. Memalukan? Tidak. Ini prestasi mencengangkan yang membuat banyak orang kagum dan menjadikan Zoe teladan bagi banyak orang. Kenapa bisa demikian? Jawabannya sederhana: karena Zoe melakukan semua itu dalam keadaan lumpuh. Zoe menderita penyakit multiple sclerosis, sebuah penyakit saraf kronis yang mempengaruhi sistem saraf pusat. Penyakit ini bisa mengakibatkan berbagai masalah seperti masalah penglihatan, kelemahan otot, depresi, sulit bicara, gangguan berbagai indra sampai rasa sakit. Dalam kondisi parah, multiple sclerosis bisa mengakibatkan kelumpuhan, dan itulah yang terjadi pada Zoe. Zoe hanya mampu berjalan tertatih-tatih dengan bantuan tongkat penyangga. Dia ingin membuktikan bahwa penyakitnya tidak akan mampu meredam semangat yang ada di dalam dirinya, dan tidak akan pernah menghentikan perjuangannya. Zoe berkata bahwa apa yang dilakukannya adalah bentuk metafora kehidupan. Orang bisa mencapai sesuatu dengan menempatkan satu kaki di depan kaki lainnya. Semangat dan keyakinan Zoe membawanya mencapai sesuatu yang luar biasa. Dengan segala keterbatasan, dengan perjuangan yang saya yakin sungguh berat melawan rasa sakit dan lain-lain, Zoe selalu mampu mencapai garis finish. Finish di tempat terakhir dengan catatan waktu jauh lebih lambat dari normal ternyata tidak menempatkan Zoe pada posisi pecundang, tapi justru seorang juara sejati.

Kehidupan kekristenan kita pun sama seperti lomba maraton. Paulus berkata dengan yakin bahwa dia telah mencapai garis akhir. Tips yang diberikan Paulus kepada Timotius cukup jelas, yaitu penguasaan diri, kesabaran menghadapi penderitaan, dan melakukan pekerjaan Tuhan dengan taat dalam situasi atau kondisi apapun. Kita harus memiliki dan memelihara iman sampai garis akhir. Dalam perlombaan maraton, peserta pasti memiliki semangat ketika mereka mulai berangkat dari garis start. Tapi dalam perjalanan semua peserta akan mulai menghadapi berbagai masalah seperti rasa lelah, terpaan terik matahari, rasa haus, kaki yang sakit dan lain-lain. Sebagian mungkin menyerah di tengah jalan, tapi sebagian lagi mengatasi semua masalah tersebut dan terus berjuang hingga tiba di garis finish. Perjuangan kita menghadapi maraton kehidupan pun sama. Tidaklah mudah untuk taat mengikuti Yesus. Begitu banyak cobaan dan godaan dunia siap memikat kita untuk keluar jalur. Kesuksesan semu, gelimang harta, kegembiraan sementara, godaan nafsu dan lainnya bisa setiap saat membuat kita keluar dari jalur perlombaan dan menyerah sebelum mencapai garis finish. Terpaan masalah, sakit penyakit pun bisa membuat kita berhenti di tengah jalan. Tapi ingatlah pesan Paulus dan bercerminlah dari Zoe. Kita harus terus berjuang sampai akhir, sehingga mahkota kebenaran akan diberikan pada kita.

Seorang juara kehidupan bukanlah orang yang finish paling cepat, melainkan orang yang mencapai garis akhir dengan ketaatan dan keyakinan, tanpa kehilangan iman

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Comment