Menantikan Tuhan Dalam Memasuki Tahun Baru

Ayat bacaan: Mikha 7:7
======================
“Tetapi aku ini akan menunggu-nunggu TUHAN, akan mengharapkan Allah yang menyelamatkan aku; Allahku akan mendengarkan aku!”

menantikan Tuhan, tahun baru, tahun sulit, penyertaan Tuhan

Dalam perjalanan pulang beberapa hari yang lalu saya mendengar sebuah ayat disebutkan berulang-ulang dalam hati saya. Sesampainya di rumah pun saya segera bergegas membaca apa yang tertulis pada ayat itu. Ayat yang saya dengar itu menjadi ayat bacaan hari ini. Ini pesan Tuhan bagi kita semua untuk menyambut 2009.

Tahun ini dimulai dengan kondisi sulit dan krisis yang terjadi di mana-mana. Sejak dua bulan terakhir, setidaknya, kita melihat betapa kondisi dunia menjadi memprihatinkan. Tidak saja di negara kita, tapi krisis ekonomi kali ini sifatnya global. Negara kuat seperti Amerika sekalipun tidak mampu mencegah krisis global ini. Imbasnya menjalar kemana-mana, termasuk apa yang kita alami hari-hari ini. Begitu banyak karyawan yang dirumahkan, ancaman PHK ada dimana-mana, banyak perusahaan bangkrut, dan sebagainya. Hidup yang sudah sulit menjadi semakin sulit, dan ada banyak orang mulai putus asa dan tidak tahu harus bagaimana untuk bertahan hidup. Ada beberapa teman saya pengusaha berkata bahwa krisis yang terjadi ini sudah di luar nalar, tidak bisa diprediksi dan tidak bisa dianalisa lagi dengan logika. Situasi kacau. Salah seorang dari mereka menggambarkannya dengan sebuah kiasan menarik: “kalau di lapangan bola, ini seolah-olah pemain menendang bola tidak lagi terarah dan beraturan. Bola ditendang kemana-mana, kena kemana-mana tanpa arah.” Inilah yang terjadi hari-hari ini. Bukan sebuah suasana menyenangkan tentunya memasuki sebuah tahun baru yang secara logika kita akan terlihat begitu suram dan bagi sebagian besar orang, tanpa harapan.

Tuhan mau kita belajar dari apa yang terjadi pada masa pelayanan Mikha. Mikha ini adalah seorang nabi dari desa terpencil yang pelayanannya ada dalam rentang masa pemerintahan raja Yotam, Ahaz dan Hizkia. Situasi dan kondisi dunia saat ini sudah terjadi pula pada masa Mikha. Mari kita lihat apa saja yang terjadi pada masa itu dalam Mikha pasal 7. Kelaparan, gagal panen (ay 1), kemerosotan moral, hilangnya orang saleh dan jujur, saling jebak, saling tipu, bahkan saling menghancurkan (ay 2), sudah begitu terbiasa berbuat jahat, pejabat dan hakim korupsi dan menerima suap, pemimpin memaksakan kemauannya, hukum diputar balikkan (ay 3), orang yang terbaik sekalipun di dunia diibaratkan bagai semak duri yang tidak berguna dan menusuk (ay 4), tidak ada lagi yang bisa dipercaya (ay 5), kehancuran rumah tangga, permusuhan antara anggota keluarga (ay 6). Semua ini dikatakan Mikha seperti sebuah luka yang tidak dapat sembuh dan menular (Mikha 1:9).

Apa yang kita hadapi ke depan kurang lebih sama dengan situasi yang Mikha hadapi. Kita bisa belajar darinya bagaimana bersikap menghadapi kondisi sulit ke depan. Ayat hari ini menggambarkan penyerahan sepenuhnya pada Tuhan. “Tetapi aku ini akan menunggu-nunggu TUHAN, akan mengharapkan Allah yang menyelamatkan aku; Allahku akan mendengarkan aku!” Jika Tuhan mampu menyelamatkan anak-anakNya di masa lalu, jika kita sudah berkali-kali melihat bahwa Tuhan mampu melakukan mukjizat lewat cara-cara yang ajaib, jika dulu Dia sanggup, sekarang pun Tuhan pun sanggup! Tuhan tidak pernah berubah, Dia selalu sama, dulu, sekarang sampai selamanya. (Ibrani 13:8) “Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti. Sebab itu kita tidak akan takut, sekalipun bumi berubah, sekalipun gunung-gunung goncang di dalam laut;sekalipun ribut dan berbuih airnya, sekalipun gunung-gunung goyang oleh geloranya. Kota Allah, kediaman Yang Mahatinggi, disukakan oleh aliran-aliran sebuah sungai. Allah ada di dalamnya, kota itu tidak akan goncang; Allah akan menolongnya menjelang pagi. Bangsa-bangsa ribut, kerajaan-kerajaan goncang, Ia memperdengarkan suara-Nya, dan bumipun hancur. TUHAN semesta alam menyertai kita, kota benteng kita ialah Allah Yakub.” (Mazmur 46:2-8). Haleluya! Ini janji penyertaan Tuhan yang luar biasa, karenanya kita tidak perlu takut memasuki tahun baru yang secara manusia adalah suram dan penuh ketidakpastian. Dalam Ibrani selanjutnya kita baca sebagai berikut: “Waktu itu suara-Nya menggoncangkan bumi, tetapi sekarang Ia memberikan janji: “Satu kali lagi Aku akan menggoncangkan bukan hanya bumi saja, melainkan langit juga.” Ungkapan “Satu kali lagi” menunjuk kepada perubahan pada apa yang dapat digoncangkan, karena ia dijadikan supaya tinggal tetap apa yang tidak tergoncangkan.” (Ibrani 12:26-27). Ayat selanjutnya berbicara mengenai apa yang harus kita lakukan. Jadi, karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut.” (ay 28).

Mikha tetap menanti-nantikan Tuhan, percaya penuh pada kuasa Tuhan yang akan selalu menyelamatkan dan mendengarkan doa anak-anakNya. Daud mengingatkan bahwa ada penyertaan Tuhan yang luar biasa bagi kita meski bumi hancur sekalipun. Dalam Ibrani kita juga membaca bahwa ada kita harus selalu bersyukur dan beribadah pada Allah karena Dia memberi janji buat kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, meski segala yang lain tergoncangkan. Yesus sendiri berkata: “Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!” (Markus 9:23). Karena itu, memasuki tahun baru, 2009, mari kita semua tetap setia menantikan Tuhan, teruslah mengucap syukur dan berdoa, karena Tuhan akan meluputkan permasalahan bagi setiap yang percaya kepadaNya. Mari masuki tahun baru dengan penuh sukacita. Tidak perlu takut, khawatir dan ragu, karena Tuhan ada bersama kita! Selamat Tahun Baru 2009, Tuhan Yesus memberkati!

Bersukacitalah dan bersyukurlah dalam tahun yang sulit, karena Tuhan ada bersama kita

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply