Menangis

Ayat bacaan: Matius 5:4
=====================
“Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.”

menangis

“Ayah saya mengajarkan bahwa menangis itu tabu.. tapi rasanya berat banget pak..” kata seorang siswi yang saya dapati menangis di pojokan gedung. Menangis, bagi banyak orang mungkin dianggap tabu, memalukan dan tidak pantas. Menangis dianggap sebagai simbol kelemahan, cengeng, bahkan ada yang dengan sinis menganggapnya sebagai salah satu cara untuk menarik perhatian. Di sisi lain, ketika seorang teman tidak menangis ketika ayahnya meninggal, ia ditegur keras oleh keluarganya, malah dituding sebagai anak durhaka. Saya sendiri beranggapan bahwa menangis merupakan sebuah cetusan emosi yang tidak lagi mampu kita kendalikan. Ketika tekanan terasa begitu berat, ketika rasa perih itu begitu menyiksa, ada kalanya kita perlu menangis untuk mengeluarkan segala beban yang ada di dalam hati kita. Ada banyak cara orang mengekspresikan emosinya, dan salah satunya adalah dengan menangis. Laki-laki pun tidak ada salahnya menangis, karena setegar-tegarnya seorang pria, ada kalanya rasa sakit itu begitu dalam sehingga perasaan tidak lagi mampu mengatasinya. Tentu tidak berarti bahwa kita setiap saat harus menangis, karena itu memang tidak bagus, baik buat diri sendiri maupun orang lain. Menangis terus menerus akan semakin melemahkan kita, namun pada saat tertentu, menangis bisa efektif untuk mengurangi beban hati.

Alkitab mengajarkan kita untuk tetap tegar menghadapi segala masalah. Kita tidak pernah dianjurkan menyerah, karena meski secara manusiawi kita tidak mampu mengatasinya, tapi ada Roh Kudus yang akan terus memberikan kekuatan. “Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.” (2 Timotius 1:7). Berdoa dalam Roh pun akan memampukan kita untuk mengungkapkan segala permasalahan yang mungkin tidak lagi mampu kita sebut dengan kata-kata. “Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.” (Roma 8:26). Tapi Tuhan tidak pernah membenci air mata. Ia memberikan kita mata yang bisa basah, bukan mata yang kering, karena ia tahu ada kalanya kita memerlukan itu. Di alkitab pun kita berulangkali mendapati tentang hal ini. Lihat dalam kitab Yakobus misalnya. Ketika ia menganjurkan kita untuk menyucikan diri dari dosa dan kembali mendekat kepada Allah, ia katakan “Sadarilah kemalanganmu, berdukacita dan merataplah; hendaklah tertawamu kamu ganti dengan ratap dan sukacitamu dengan dukacita.” (Yakobus 4:9). Di saat lain, lihatlah bahkan Tuhan Yesus pun sempat menangis. Apa yang ditangisi Yesus bukan soal penderitaanNya dalam tubuh manusia, tetapi ketika hatiNya terasa hancur melihat apa yang akan terjadi atas Yerusalem. “Dan ketika Yesus telah dekat dan melihat kota itu, Ia menangisinya,” (Lukas 19:41). Dan inilah yang ditangisi Yesus: “kata-Nya: “Wahai, betapa baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu. Sebab akan datang harinya, bahwa musuhmu akan mengelilingi engkau dengan kubu, lalu mengepung engkau dan menghimpit engkau dari segala jurusan, dan mereka akan membinasakan engkau beserta dengan pendudukmu dan pada tembokmu mereka tidak akan membiarkan satu batupun tinggal terletak di atas batu yang lain, karena engkau tidak mengetahui saat, bilamana Allah melawat engkau.” (ay 42-44). Ketika para murid bersukaria mengira bahwa Sang Raja akan mengambil alih kota dan mereka mungkin akan mendapatkan kedudukan tinggi yang super nyaman, Yesus malah menangis. Dia melihat betapa ironisnya bangsa Yerusalem menyia-nyiakan kedatanganNya yang pertama kesana, tidak menyadari bahwa Tuhan sedang melawat mereka dan justru terus mengarahkan diri mereka sendiri ke dalam kehancuran. Tidak ada yang salah dengan menangis selama porsinya benar di saat yang memang diperlukan.

Ada banyak orang yang menangis sejadi-jadinya ketika mengalami pemulihan. Ada yang kemudian bertumbuh dalam imannya, tapi ada pula orang yang menangis ketika dijamah Tuhan, tapi lalu kembali ke dosa asalnya secara berulang-ulang. Kita boleh menangis, tapi bukan soal menangis atau tidak yang menjadi esensinya.Soal menangis atau tidak, ada air mata atau tidak itu bukanlah pokok permasalahannya. Yang penting adalah bagaimana sikap hati kita. Seberapa jauh kita menyesali dosa-dosa yang kita lakukan? Sejauh mana kita merasa menyesal telah mengecewakan dan menyakiti hati Tuhan? Seberapa besar rasa perih yang kita rasakan setelah berlumur dosa sekian lama? Jika rasa itu begitu berat, mengapa tidak boleh menangis? Bukan menangis agar dilihat orang, bukan menangis karena ingin mendapat rasa iba atau simpati dari orang lain, tapi sebuah tangisan karena penyesalan mendalam dengan hati yang hancur. Dan itu merupakan korban yang berkenan kepada Allah. “Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.” (Mazmur 51:19). Itulah sebabnya Yesus berkata “Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.” (Matius 5:4) Ya, berbahagialah kita yang berdukacita atas kesalahan dan dosa-dosa kita. Datanglah kepadaNya dengan membawa jiwa yang hancur, hati yang patah dan remuk, dan Allah akan segera memberikan penghiburan. Anda merasa ingin menangis menyesali dosa-dosa di masa lalu? Menangislah,  persembahkanlah sebuah pertobatan total kepada Tuhan dan alamilah sebuah pemulihan yang indah.

Bukan soal menangis atau tidak, tapi bagaimana sikap hati, karena apa yang dilihat Tuhan adalah hati kita

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: