Menanam Benih

Ayat bacaan: 1 Petrus 1:23
=======================
“Karena kamu telah dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana, tetapi dari benih yang tidak fana, oleh firman Allah, yang hidup dan yang kekal.”

menanam benih

Betapa sulitnya bagi saya dahulu untuk membiasakan diri membaca dan merenungkan firman Tuhan. Dalam banyak kesempatan, saya mendapati diri saya tertidur ketika sedang membaca alkitab. Tapi itu dulu. Saat ini saya tidak melewatkan satu hari pun untuk membaca firman Tuhan karena ada begitu banyak janji bahkan rahasia yang terdapat di dalamnya yang teramat sangat berguna untuk menjalani hidup. Alangkah sayangnya jika satu hari terlewatkan tanpa firman Tuhan. Kita akan sangat sulit untuk bergairah mendalami firman Tuhan sebelum kita menyadari bahwa sesungguhnya firman Tuhan itu lebih dari sekedar kumpulan janji yang diilhami Tuhan sendiri. Firman Allah sesungguhnya mengandung kuasa yang mampu membuat segala janji itu menjadi kenyataan dan hidup di dalam diri kita.

Firman itu bagaikan benih yang ditanam di dalam diri kita, yang pada suatu ketika akan menghasilkan buah yang berlipat ganda banyaknya, bahkan lebih dari yang sanggup kita pikirkan. Sulitkah mempercayai itu? Mari kita sederhanakan dengan sebuah analogi sederhana.

Tetangga saya beberapa waktu yang lalu menanam biji mangga. Dari tiga biji mangga itu, satu ternyata berhasil tumbuh. Kemarin ia dengan bangga memperlihatkan bahwa biji yang ia tanam itu sudah menghasilkan beberapa helai daun dan batang yang masih kecil. Sulitkah bagi kita untuk mempercayai bahwa dari sebuah biji mangga ternyata ada kuasa untuk menghasilkan batang yang kelak jauh lebih besar dari biji itu sendiri? Tentu tidak sulit bukan? Dari biji itu nantinya akan muncul batang yang tinggi dan besar, lengkap dengan dedaunan dan akar yang panjang menembus bumi, berikut buah mangga yang subur. Itu tidak akan sulit untuk diterima akal bukan? Kita dengan mudah bisa mengetahui bahwa meskipun biji mangga itu tidak tampak seperti sebuah pohon mangga yang besar saat ini, jika diberi lingkungan hidup yang tepat, tanah yang baik dan dipupuk/disiram/dijaga dengan teratur, maka pada suatu saat nanti akan menjelma sebuah pohon mangga yang subur dan rimbun dengan hasil berlipat-lipat kali banyaknya.

Seperti itulah firman Tuhan bekerja. Ada kuasa mukjizat di dalamnya. Ada banyak berkat dan janji Tuhan yang siap bertumbuh subur berlipat-lipat lewat benih firman yang mulai kita tanam dari sekarang. Petrus bahkan mengatakan bahwa kita dilahirkan kembali bukanlah dengan sembarang benih, tapi dari benih yang kekal, yaitu dari firman Tuhan. “Karena kamu telah dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana, tetapi dari benih yang tidak fana, oleh firman Allah, yang hidup dan yang kekal.” (1 Petrus 1:23). Lebih lanjut ia menambahkan “Sebab: “Semua yang hidup adalah seperti rumput dan segala kemuliaannya seperti bunga rumput, rumput menjadi kering, dan bunga gugur, tetapi firman Tuhan tetap untuk selama-lamanya.” Inilah firman yang disampaikan Injil kepada kamu.” (ay 24-25). Apa yang ia sampaikan mengacu kepada kitab Yesaya 40:7-8. Firman yang kita tanam saat ini mungkin belum terlihat sebagai sesuatu yang nyata, tetapi benih itu akan terus bertumbuh dan berbuah jika kita menjaganya dengan baik dalam diri kita. Firman Allah itu hidup, dan bukan hanya hidup tapi juga kekal sifatnya.

Yesus sendiri menggambarkan perihal ini dalam Perumpamaan tentang penabur dalam Matius 13:1-23. Benih itu akan mampu hidup jika jatuh di tanah yang baik, bukan di pinggir jalan (ay 4), di tanah berbatu-batu (ay 5-6) atau semak duri (ay 7). “Dan sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat.” (ay 8). Perumpamaan ini mengarah pada kesimpulan seperti ini: “Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat.” (ay 23). Firman itu jelas adalah benih, yang hidup dan kekal. Masalahnya adalah apakah kita mau mulai menanam benih itu, dan kemana benih itu akan mendarat. Jika benih itu kita taburkan di tempat yang baik, maka jelas benih itu akan mampu menghasilkan buah berlipat ganda. Semua tergantung keputusan kita hari ini.

Ketika kita membaca firman dan merenungkannya, kita bukan hanya sekedar membaca saja, melainkan kita tengah menanam benih-benih. Benih perlindungan, benih keselamatan, benih kemakmuran, benih kesehatan, benih kemenangan dan sebagainya dalam kehidupan kita, semua itu siap untuk berbuah berlipat kali ganda jika kita mulai menaburnya di tanah yang baik. Semua benih itu siap untuk menjadi berkat dalam segala segi kehidupan kita. Berhentilah menganggap bahwa Alkitab sebagai sebuah buku biasa. Alkitab itu bukan buku. Itu adalah sebuah benih rohani yang mengandung kuasa luar biasa yang mampu menghasilkan panen seumur hidup. Karena itu marilah kita mulai membaca janji-janji Tuhan hari ini. Mulailah menanam, dan bersiaplah untuk memetik buahnya kelak secara berkelimpahan.

“Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” (Matius 4:4)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: