Menanam Benih Hingga Tumbuh

Ayat bacaan: Markus 4:26
==================
“Lalu kata Yesus: “Beginilah hal Kerajaan Allah itu: seumpama orang yang menaburkan benih di tanah”

menanam benih

Kecintaan istri saya yang baru saja tumbuh terhadap tanaman membuat saya mulai mengamati berbagai jenis tanaman termasuk cara menanam dan mengurusnya. Ada tanaman yang harus ditaruh di luar rumah, ada pula yang bisa diletakkan di dalam ruangan. Ada yang dibeli dengan kondisi sudah bertumbuh lumayan besar, ada pula yang dari benih. Saya melihat istri saya terlebih dahulu merendam benih di air panas lalu setelah beberapa saat memindahkannya ke dalam gelas plastik kecil yang sudah diisi dengan tanah. Ketika ia mulai melihat tunas mencuat dari dalam tanah, saya pun menyaksikan kegembiraan dan rasa puas terpancar dari wajahnya. Tidak semua memang berhasil tumbuh. Ada yang mengeluarkan tunas tetapi tidak sedikit pula yang gagal.

Menarik melihat bagaimana Yesus mencoba menyederhanakan pengertian mengenai Kerajaan Allah untuk diajarkan kepada orang banyak lewat perumpamaan mengenai menanam benih. Yesus memulainya dengan “Lalu kata Yesus: “Beginilah hal Kerajaan Allah itu: seumpama orang yang menaburkan benih di tanah.” (Markus 4:26). Agar sebuah tumbuhan bisa tumbuh, tentu terlebih dahulu kita harus menanam atau menaburkan benih. Tidak akan ada tanaman yang bisa tumbuh tanpa berawal dari benih. Inilah yang sering menjadi titik permasalahan utama. Ketika kita mengeluh mengapa kita tidak kunjung bertumbuh lebih baik dari hari kemarin kita sering terburu-buru menyalahkan Tuhan. Padahal masalahnya ada pada kita. Kita mengira dan terus membiarkan Tuhan untuk menghasilkan pertumbuhan pada kita. Prosesnya bukanlah seperti itu. Kita harus memulainya dengan menanam benih, kemudian menyiram, memupuk dan mengurusnya terlebih dahulu. Kemudian dari sana kita akan mulai bertunas dan pada akhirnya dengan ketekunan kita akan mampu memperoleh berkat-berkat Tuhan yang membuat kita subur dan terus berbuah sepanjang musim. Baik dalam keadaan suka maupun duka, keadaan bahagia atau sedang menghadapi masalah, apabila benih yang kita tanam bertumbuh subur dan rimbun, maka tidak ada hal apapun yang bisa menghentikan kita dari terus berbuah. Kuncinya adalah satu: benih.  Benih itulah nantinya yang akan bertumbuh sehingga Kerajaan Allah bisa turun atas diri kita saat ini juga, tidak perlu menunggu hingga kita dipanggil Tuhan terlebih dahulu.

Ada banyak orang yang salah kaprah dan mengira bahwa Tuhan akan memberikan itu semua meski mereka tidak serius berbuat apa-apa. Mereka hanya duduk diam bermalas-malasan bagai menunggu durian jatuh. Ini sebuah konsep yang salah. Kita harus menyadari betul bahwa Tuhan tidak bekerja UNTUK kita, tetapi bekerja DENGAN kita. Ada perbedaan yang nyata di antara kedua hal ini. Bekerja DENGAN kita, itu artinya kita harus melakukan sesuatu. We have to do our part and then we let God to do His part.

Ketika Yesus mengatakan bahwa Kerajaan Allah itu seperti layaknya orang menanam benih, itu artinya ada sebuah proses kontinu yang harus kita lakukan mulai dari proses menanam, memupuk, menyiram, mengurus hingga merawat sampai tanaman itu tumbuh sehat dan subur. Pertama-tama tentu kita harus memulainya dengan menanam atau menabur benih firman dalam iman. Kita harus mulai mencari dan mendapatkan janji-janji berharga Allah yang telah Dia nyatakan lewat firman-firmanNya, lalu mulai menanam itu semua di dalam hati kita, dalam diri kita. Lalu kemudian kita harus serius memupuk dan menyiramnya. Lewat apa? Lewat puji-pujian dan ucapan syukur kita. Lewat ketekunan kita mengisi diri kita dengan lebih banyak lagi firman Tuhan. Dengan merenungkan, memperkatakan dan melakukan. Semua itu perlu kita buat untuk memupuk dan menyirami tunas yang mulai tumbuh agar bisa semakin besar dan sehat.

Lalu seperti halnya tanaman manapun, akan selalu ada gulma atau tanaman liar yang tumbuh disekitarnya, yang akan mampu merebut nutrisi sehingga tanaman kita sulit bertumbuh secara baik. Semua ini harus kita cabut, bersihkan hingga ke akar-akarnya. Seperti apa gulma yang bisa menghambat pertumbuhan kita? Kebimbangan, ketakutan, kekhawatiran, putus asa, perbuatan-perbuatan dosa yang kita tolerir dalam hidup kita, berbagai perilaku negatif atau kebiasaan buruk, itu semua akan menjadi tanaman liar atau gulma yang bisa menghambat laju pertumbuhan kita. Semua itu haruslah dibersihkan sampai tuntas, dan lakukan sejak dini sebelum mereka semua bertumbuh semakin subur dan menghancurkan kita.

Perhatikanlah bahwa perumpamaan yang diberikan Yesus ini sungguh luar biasa tepat. Dalam bentuk yang sangat sederhana kita akan mampu mengerti bagaimana kita bisa memperoleh Kerajaan Allah untuk turun dan terjadi atas kita sejak ketika kita masih berada di dunia ini. Dari perumpamaan ini jelas kita lihat bahwa untuk memperoleh itu semua dibutuhkan usaha keras yang serius, butuh kerajinan dan ketekunan. Tidak ada orang yang berhak berharap untuk memperoleh tanaman subur tanpa melakukan apa-apa bukan? Seperti itu pulalah proses yang seharusnya kita lakukan agar benih firman yang kita tanam bisa menghasilkan buah-buah yang manis untuk hidup kita dan orang-orang lain di sekitar kita. Kita harus terus mengawasi lahan di mana kita menanam, memastikan bahwa tunas itu bisa bertumbuh tanpa gangguan tanaman-tanaman liar dan hama, dan terus berusaha untuk memberi pupuk, menyiram dan merawatnya. Hanya dengan melakukan itu barulah kita bisa mengharapkan hasil yang baik. Apa yang dijanjikan Tuhan jelas.Pada masa tua pun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar. (Mazmur 92:15). Siapa yang bisa memperoleh janji ini? Ayat sebelumnya menyebutkan demikian: “Orang benar akan bertunas seperti pohon korma, akan tumbuh subur seperti pohon aras di Libanon; mereka yang ditanam di bait TUHAN akan bertunas di pelataran Allah kita.” (ay 13-14). Orang-orang benar, orang-orang yang benar-benar melakukan sebuah proses serius dan berkesinambungan, orang-orang yang tidak berpangku tangan melainkan mau sungguh-sungguh menabur/menanam benih, menyiangi, menyirami, memupuk secara teratur. Orang-orang seperti itulah yang akan mampu menghasilkan buah yang gemuk dan segar bahkan hingga masa tuanya. Dan semua itu tidak akan terpengaruh oleh musim atau keadaan lingkungan sekitar. Sekali lagi, ingatlah bahwa Tuhan bukan bekerja untuk kita. Dia bekerja DENGAN kita. Mari lakukan bagian kita, dan percayakan Tuhan untuk melakukan bagianNya.

Seperti kita menabur benih, demikianlah Kerajaan Allah bertumbuh dalam hidup kita

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: