Menanam Benih Dalam Pikiran

Ayat bacaan: Matius 13:24
====================
“Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: “Hal Kerajaan Sorga itu seumpama orang yang menaburkan benih yang baik di ladangnya.”

menabur benih, pikiran

Ingat lagu lawas karya Koes Plus yang berjudul “Kolam Susu”? Lagu ini bercerita tentang kesuburan Bumi Pertiwi yang tersohor. Jika ada tempat-tempat di berbagai belahan dunia yang sulit untuk ditumbuhi, tanah di Indonesia yang beriklim tropis ini tergolong sangat subur dan ideal untuk ditanami berbagai jenis tanaman atau tumbuhan. “Orang bilang tanah kita tanah Surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman.” Itu petikan lirik dari lagu Kolam Susu, menggambarkan betapa mudahnya tanaman untuk tumbuh subur di atas tanah di negara kita. Jangankan repot-repot menanam, cukup dengan melempar biji saja maka pohon bisa tumbuh. Jika kita menanam bibit mangga, tentu yang tumbuh adalah pohon mangga dan tidak akan pernah pohon jambu atau pohon lainnya. Bila kita menabur lalang, maka yang tumbuh adalah lalang dan tidak akan pernah rumput spesies lain. Semua tergantung dari kita, apa yang mau kita tanam. Apakah tanaman yang bermanfaat atau tanaman pengganggu seperti lalang dan sebagainya. Apa yang kita tabur ke atas tanah, maka itulah yang akan tumbuh. Tanah tidak bisa dan tidak akan pernah memilih. Tanah akan menumbuhkan apapun yang kita tabur ke atasnya, tanpa kecuali.

Sedikit kilasan mengenai benih dan tanah ini pernah dipakai Yesus sebagai ilustrasi dalam perumpamaan tentang lalang di antara gandum. (Matius 13:24-30). “Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: “Hal Kerajaan Sorga itu seumpama orang yang menaburkan benih yang baik di ladangnya.” (Matius 13:24). Rasanya orang akan selalu menaburkan benih yang baik di ladangnya, dan tidak akan pernah mau menabur benih yang bisa merusak lahan taninya bukan? Tapi kemudian, musuh bisa menaburkan benih yang tidak baik di sana. “Tetapi pada waktu semua orang tidur, datanglah musuhnya menaburkan benih lalang di antara gandum itu, lalu pergi.” (ay 25). Perhatikan, tanahnya sama, tapi benih yang baik dan yang tidak baik keduanya bisa sama-sama tumbuh dengan subur.

Seperti halnya tanah, demikian pula yang terjadi dengan pikiran kita. Pikiran kita ibarat tanah. Selalu menerima, memberi respon, menumbuhkan apapun yang ditabur masuk di dalamnya. Apakah itu baik atau buruk, apakah itu bermanfaat atau merusak, apakah itu positif atau negatif, semuanya akan ditumbuhkan oleh pikiran kita tanpa terkecuali! Baik atau buruk, keduanya bisa tumbuh subur di pikiran kita. Itulah sebabnya kita harus mampu menguasai pikiran kita sebelum pikiran kita balik menguasai diri kita. Jika kita menanam hal-hal yang tidak baik, seperti pikiran negatif, berprasangka buruk, menduga-duga, atau malah menghakimi orang lain dalam pikiran kita, maka itulah yang akan tumbuh subur dan merajai hidup kita. Jika kita menabur hal-hal seperti mengasihani diri berlebihan, menganggap diri rendah, kebencian, dendam, atau bahkan kutuk, maka itulah yang akan direspon pikiran kita, ditumbuhkan dan akan berbuah tindakan-tindakan yang negatif pula. Alkitab berkata: “Sebab seperti orang yang membuat perhitungan dalam dirinya sendiri demikianlah ia.” (Amsal 23:7) (“For as he thinketh in his heart, so is he.” – KJV). Kita bisa menjadi pribadi yang baik, kudus dan berkenan, atau sebaliknya menjadi pribadi yang buruk, penuh kebencian dan kepahitan, semua tergantung dari apa yang kita tabur ke dalam pikiran kita untuk ditumbuhkan.

Kita diingatkan untuk selalu menanam hal-hal yang positif dalam pikiran kita. “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” (Filipi 4:8). Lihatlah bahwa kita dianjurkan untuk selalu mengisi pikiran kita dengan hal-hal yang baik. Memandang dari sisi negatif akan membuat kita menjadi negatif pula, karena itulah yang akan ditumbuhkan oleh pikiran kita dan kemudian berbuah subur dalam hidup kita. Jika kita mengikuti pesan yang tertulis dalam Filipi 4:8 di atas, maka kita pun akan menuai persis seperti apa yang kita tanam, yaitu hal-hal yang benar, adil, mulia, suci, manis dan baik. Adalah sangat penting bagi kita untuk terus menabur firman Tuhan dalam pikiran kita secara teratur, sehingga tidak ada celah lagi bagi benih-benih negatif untuk bertumbuh di dalam pikiran kita.

Allah adalah sumber kasih, bahkan merupakan kasih itu sendiri. Firman-firmanNya yang kita tabur tentu akan menumbuhkan kasih pula. Jika kasih yang tumbuh, maka di dalam kita akan berbuah banyak kebajikan. “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.” (1 Korintus 13:4-7). Ini semua akan membentuk pribadi kita menjadi pribadi yang berkenan di mata Tuhan. Tidak ada tempat bagi hal-hal negatif di dalam kasih. Jika kita berbuah kasih, maka pikiran kita bisa terhindar dari pengaruh-pengaruh negatif yang siap menenggelamkan diri kita. Selain itu, janganlah kita memenuhi pikiran kita dengan berbagai ketakutan atau kekhawatiran yang seringkali tidak beralasan dan belum tentu terjadi seperti yang kita takutkan. “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” (Filipi 4:6). Jika ini kita lakukan maka hidup kita pun menjadi lebih indah sebab damai sejahtera Allah akan selalu hadir di dalam diri kita. “Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus. (Filipi 4:7).

Dalam pelayanannya, Paulus dan teman-teman berkomitmen untuk menaklukkan pikiran mereka kepada Kristus. “Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus” (2 Korintus 10:5b). Don’t let your mind control you. Kita harus mampu mengendalikan pikiran kita, menabur hal-hal yang positif, yang baik dan yang benar sesuai firman Tuhan, serta menaklukkannya kepada Kristus. Marilah kita mengendalikan dan memperhatikan pikiran kita, sebab apapun benih yang kita tanam di dalamnya akan sangat menentukan seperti apa diri kita dan arah perjalanan hidup kita ke depan.

As the man thinketh, so is he

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply