Memutuskan tidak Mau Punya Anak (2)

Ageing without children: elderly couple

Rekonstruksi sosial
Pasangan Wira Dillon (30) dan Citra Dillon (31) juga menemukan kenyamanan ketika mengambil keputusan untuk tidak mempunyai anak alias childfree. Merasa mantap dengan jalan dan pilihan hidup tanpa anak, Citra sempat sepuluh kali putus pacaran karena tidak menemukan calon pasangan yang mendukung keputusannya. Beruntung, Citra kemudian bertemu dengan Wira yang ternyata juga mempunyai pilihan dan keputusan yang sama, tidak bersedia punya anak.

Di apartemennya yang mungil di Kalibata City, Citra segera menyodorkan keuntungan dari pilihan ekstrim yang mereka jalani selama enam tahun menikah. Karena tidak mempunyai anak, hidup menjadi praktis. Di apartemen dengan 1 kamar tidur, 1 ruang tamu, 1 kamar mandi dan dapur mini itu, pasangan ini bisa menjalani hidup berkualitas.

Keuntungan lainnya, mereka memiliki lebih banyak waktu bagi diri sendiri. Pengeluaran bulanan menjadi lebih hemat dan bisa menyisakan uang lebih banyak untuk jalan-jalan. Untuk menikmati kelimpahan waktu, Citra memutuskan keluar dari pekerjaan mengajar sejak delapan bulan terakhir dan memilih membuat kerajinan tangan dari bahan kain batik. Wira bekerja sebagai koordinator program nasional di LSM Pelangi. (Baca juga: Memutuskan tidak Mau Punya Anak (1)

Pasangan ini pun berusaha meyakinkan keluarga besar tentang pilihan chilfree yang mereka ambil. Ayah Wira yakni HS Dillon, yang merupakan tokoh hak asasi manusia, berulang-ulang mengajak mereka berdikusi tentang pentingnya anak. “Aku belum pernah seyakin ini dalam hidup. Ini yang aku mau. Semakin dipikir semakin banyak hal yang membuat kurang nyaman memiliki anak”, kata Citra.

Keputusan untuk tidak mempunyai anak juga menjadi bentuk perlawanan dari trauma masa kecil. Sebagai anak sulung dari 5 bersaudara, Citra harus turut merawat adik-adiknya sejak duduk di bangku SD. “Masa kanak-kanakku tidak bahagia. Begitu besar mulai kritis. Masyarakat kita masih stereotip. Perempuan harus menikah, harus mempunyai anak. Aku punya pilihan untuk bahagia, tambahnya.

Pasangan lainnya, Mitha 30) dan Putra (37), bukan nama sebenarnya, juga telah memeutuskan untuk tidak mempunyai anak sejak pacaran. Kesamaan tujuan itu yang menyatukan mereka dalam pernikahan yang telah berjalan 3 tahun. Seringkali, keputusan itu memang berbenturan dengan pandangan umum yang menganggap bahwa mereka egois karena tidak ingin mempunyai anak.

“Tubuh perempuan menjadi domain di mana anak dilahirkan. Keputusannya harus dipegang perempuan itu. Tetapi masyarakat terkonstruksi bahwa tubuh perempuan boleh diapa-apain. Kesannya, tubuh itu bukan milik pribadi, tetapi masyarakat. Keputusan harus di tangan yang punya badan. Namun, sayangnya, tidak dikembalikan ke yang punya badan. Aku belajar itu dan merasa nyaman dengan apapun keputusan yang aku ambil”, kata Mitha, seorang dosen.

Panggilan hidup
Makin banyak jumlah pasangan yang tidak mau punya anak sejak lima tahun terakhir, menurut Psikolog Liza Marielly Djaprie menjadi bagian dari teori belajar sosial. Ketika banyak pasangan memilih untuk tidak punya anak, semakin banyak orang yang akan mengadopsi pemebelajaran itu. Seiring perkembangan zaman, perempuan menemukan pilihan hidup yang lain, tidak harus melahirkan.

Secara alamiah, manusia cenderung mencari kenyamanan, kemudahan dan kepraktisan. Tekanan hidup perkotaan yang semakin tinggi, mahalnya pendidikan anak dan tingginya harga rumah menjadi beberapa alasan yang menjadi pendukung bagi keputusan untuk tidak mempunyai anak. Apalagi, lingkungan sosial perkotaan makin cuek dan individualistis yang membuat orang merasa harus berjuang sendirian dalam mengatasi kerasnya kehidupan kota. Dalam situasi yang demikian, perasaan kurang nyaman serta ketidakmampuan menjalani kehidupan dengan segala tuntutannya itu, menemukan justifikasinya dalam keputusan untuk tidak mempunyai anak.

Kenyamanan itu pula yang diimpikan oleh Intan Febriani sehingga dia memutuskan untuk tidak punya anak dari sejak pacaran. Ia mengaku takut kehilangan hal sederhana, seperti waktu luang untuk membaca buku. Keputusan itu makan menjadi-jadi karena dia aktif dalam kegiatan sosial untuk anak-anak jalanan. Niatnya untuk tidak punya anak semakin diteguhkan ketika melihat banyak anak jalanan yang tidak terurus: “makin enggak mau punya anak, karena melihat banyak anak enggak keurus”, ujar Intan.

Bagi Nuki Adiati, memiliki anak merupakan ikatan seumur hidup yang belum tentu bisa dijalaninya bersama dengan pasangannya. Konsekuensi tanggungjawab yang besar hingga takut terbebani, membuatnya memilih untuk tidak punya anak. “Jumlah manusia ada 7 miliar sekarang. Konon, bumi hanya menampung 11 miliar. Punya anak di zaman ini susah”, tam bahnya.

Sosiolog Universitas Gajah Mada, Arie Sujito mengatakan ada perubahan orientasi dalam melihat reproduksi dan regenerasi. Semakin modern, orang makin melihat dimensi kemanusiaan. Regenerasi tidak lagi dilihat dari akar keluarga bilogis. “Tantangan di kota makin besar, bahkan juga di desa. Populasi penduduk juga semakin besar. Mengurangi beban dan pilihan sadar itu, ke depan makin menjadi tren”, kata Arie

Pengendalian jumlah penduduk oleh pemerintah, kata Arie, harus diiringi perubahan paradigma pembangunan agar tidak terus menerus sentralistik. Pemerintah perlu lebih mendorong lahirnya keluarga berkualitas. “Satu atau dua anak, tetapi berkualitas. Jika tidak punya anak pun tidak menjadi masalah, tetap ada spirit kemanusiaan. Sebagai pilihan, tidak memilih untuk tidak punya anak tidak masalah”, ujarnya.

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

 

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply