Memperhatikan Ucapan (1)

Ayat bacaaan: Amsal 19:1
====================
“Lebih baik seorang miskin yang bersih kelakuannya dari pada seorang yang serong bibirnya lagi bebal.”

memperhatikan ucapan

Betapa menariknya percobaan yang pernah dilakukan oleh seseorang yang saya kenal. Ia mencoba menghindari kata-kata sia-sia selama 24 jam. Tidak mengeluh, tidak menggerutu, tidak bergosip, tidak mencela, tidak mengutuk atau memaki dan lain-lain. Ia sempat terkejut setelah melakukan itu sepanjang hari, karena mendapati bahwa begitu sedikitnya kata yang keluar dari mulutnya seharian penuh. Survey membuktikan bahwa wanita sedikitnya mengeluarkan kata sekitar 16000 sampai 21000 per hari, sedang pria  lebih “sedikit”, yaitu sekitar 5000-9000. Dari sekian banyak jumlah kata yang terlontar dari mulut kita setiap hari, apa yang mendominasinya? Dari percobaan teman saya tadi tampaknya kata-kata negatif, sia-sia dan yang tidak baiklah yang ternyata mendominasi banyaknya kata yang keluar dari mulutnya, dan saya tidak tahu berapa besar presentase percobaannya bagi kita masing-masing. Tapi setidaknya apa yang ia lakukan sedikit banyak bisa menjadi gambaran akan pentingnya menjaga kata-kata yang keluar dari mulut kita.

Bicara itu memang gratis. Itu membuat kita seringkali menghambur-hamburkan kata sesuka hati kita seolah-olah itu tidak penting. Tanpa kita sadari, kata-kata yang keluar bisa jadi pada suatu ketika menyinggung perasaan orang lain, melukai mereka atau bahkan merugikan diri kita sendiri. Merugikan? Ya, itu akan merugikan kita apabila isinya penuh dengan ucapan-ucapan yang tidak berguna alias sia-sia. Firman Tuhan berkata “Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman. Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum.” (Matius 12:36-37). Jika Yesus sendiri sudah mengatakan hal ini secara khusus, itu berarti menjaga perkataan merupakan hal yang sangat penting untuk kita perhatikan. Tetapi seberapa banyak dari kita yang awas dengan kata-kata yang kita ucapkan? Kita tidak membunuh orang, kita tidak mencuri, kita tidak menganiaya orang secara fisik, dan kita berpikir bahwa itu sudah cukup. Itu memang baik, tetapi kita pun harus memperhatikan hal-hal lain terutama yang biasanya luput dari pengawasan kita, termasuk di dalamnya menjaga ucapan-ucapan yang terlontar dari mulut.

Alkitab bahkan menegaskan bahwa hidup mati kita itu tergantung dari kata-kata yang keluar dari mulut kita. Dalam Amsal dikatakan:Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya.” (Amsal 18:21). Lebih lanjut lagi ada penekanan lainnya akan hal ini yang bisa kita jumpai pada bagian lain dari Amsal. “Lebih baik seorang miskin yang bersih kelakuannya dari pada seorang yang serong bibirnya lagi bebal.” (19:1). Miskin, itu lebih baik daripada menjadi orang berbibir serong. Bibir serong, itu berarti lebih dari sekedar berdusta dan mengucapkan kata-kata yang tidak senonoh. Dalam versi bahasa Inggrisnya bibir serong ini dikatakan dengan “perverse in his speech”. Apapun itu, itu tentu saj merupakan kata-kata yang tidak sesuai dengan firman Tuhan.

Jika anda berpikir bahwa memaki, menghujat atau mengutuk saja yang buruk, tunggu dulu. Pada kenyataannya kita memang sangat kurang memperhatikan ucapan-ucapan kita yang seringkali keluar tanpa kita sadari. Ambillah contoh ketika kita sakit. Kita mungkin berkata bahwa kita percaya Tuhan akan menyembuhkan, namun pada kesempatan lain kita bisa berkata, “lebih baik mati saja daripada sakit seperti ini”, atau “rasa sakit ini bakal membunuhku!” Kata-kata seperti ini pun juga “serong”. Itu bertentangan dengan pernyataan firman Tuhan. Dan itu sudah diingatkan oleh Yakobus. “Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah, dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi.” (Yakobus 3:9-10). Tidaklah heran apabila Yakobus secara ekstrim menyinggung soal ini dalam ayat-ayat sebelumnya. “Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar. Lihatlah, betapapun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar. Lidahpun adalah api; ia merupakan suatu dunia kejahatan dan mengambil tempat di antara anggota-anggota tubuh kita sebagai sesuatu yang dapat menodai seluruh tubuh dan menyalakan roda kehidupan kita, sedang ia sendiri dinyalakan oleh api neraka.” (ay 5-6). Bahkan kemudian ia juga berkata bahwa lidah itu buas, tidak terkuasai dan penuh racun yang mematikan. (ay 8). Yakobus tidak berlebihan menyitir akan hal ini, karena jika kita sadari, alangkah sulitnya bagi kita untuk bisa mengawasi dan mengawal setiap kata yang terlontar dari mulut kita setiap saat.

(bersambung)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply