Meminta Tidak Pada Tempatnya

Ayat bacaan: Markus 6:25
====================
“Maka cepat-cepat ia pergi kepada raja dan meminta: “Aku mau, supaya sekarang juga engkau berikan kepadaku kepala Yohanes Pembaptis di sebuah talam!”

meminta tidak pada tempatnya

Karena tidak tahan anaknya meminta baju baru, seorang tukang ojek nekad menjadi kurir ganja. Saya membaca berita ini kira-kira setahun lalu di sebuah harian ibukota. Ketika ia tertangkap ia pun menyesali perbuatannya, tetapi semuanya sudah terlambat, karena ia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di depan hukum dan harus mendekam di di dalam penjara. Ini baru satu dari sekian banyak berita yang menunjukkan betapa banyaknya orang yang terjerumus dalam kejahatan karena tidak ingin mengecewakan permintaan anak atau anggota keluarga lainnya. Tidak jarang pula kejahatan itu menjadi sedemikian parahnya sehingga harus menghilangkan nyawa orang lain. Khilaf akan selalu menjadi alasan mereka. Penyesalan akan selalu ada, tetapi konsekuensi jelas harus ditanggung, karena mereka tidak akan pernah bisa kembali ke waktu lalu dan mengubah keputusan mereka untuk melakukan kejahatan. Ada banyak contoh kasus kejahatan yang dimulai dari permintaan atau tuntutan dalam keluarga. Bisa karena terlalu sayang anak/istri sehingga tidak tega menolak, bisa karena terbeban hutang budi, dan sebagainya, dan mereka akan terjebak dalam sebuah tindak kejahatan yang seringkali fatal. Bukan hanya mencuri, namun dalam banyak kasus sampai membunuh karena terdesak dan sebagainya.

Bagi teman-teman yang sudah mempunyai anak yang sedang beranjak dewasa anda mungkin sudah sering mendengar rengekan permintaan anak akan banyak hal. Minta blackberry karena semua teman-teman sudah punya, atau takut diejek teman ketinggalan jaman. Kalau sudah beranjak dewasa mereka akan mulai minta dibelikan kendaraan dan sebagainya. Kalau memang mampu memang tidak masalah. Namun bagaimana jika tidak mampu, bagaimana rasanya telinga dan hati merasakannya? Ini sering membuat orang tua menjadi gelap mata dan mengambil keputusan yang salah. Dosa mengintai disana, siap menerkam dan menelan kita, hingga pada suatu ketika kita akan berada pada sebuah situasi dimana penyesalan menjadi tidak lagi ada gunanya.

Ayat bacaan hari ini mencatat kisah tragis dari kematian Yohanes Pembaptis yang dilakukan dengan sangat sadis. Meski Herodes pernah ditegur oleh Yohanes karena mengambil istri saudaranya sendiri, namun dalam hatinya ia tahu Yohanes benar dan suci. Sementara Herodias, istri saudaranya yang ia ambil menaruh dendam akan Yohanes dan berusaha mencari jalan untuk membunuhnya karena merasa sakit hati. Pada suatu kali, anak perempuan Herodias menari dan menghibur tamu-tamu Herodes. Herodes merasa senang sekali sehingga kelepasan memberi janji akan mengabulkan apapun yang ia minta, bahkan setengah dari kerajaannya sekalipun. (Markus 6:22-23). Lalu si anak berdiskusi pada ibunya, dan sang ibu melihat kesempatan emas untuk membunuh Yohanes. Dan inilah yang terjadi. “Maka cepat-cepat ia pergi kepada raja dan meminta: “Aku mau, supaya sekarang juga engkau berikan kepadaku kepala Yohanes Pembaptis di sebuah talam!” (ay 25). Karena terlanjur berjanji dan takut malu, Herodes pun dengan terpaksa memerintahkan untuk memenggal kepala Yohanes dan menghadirkannya di atas talam/baki sesuai permintaan. Karena malu jika tidak memenuhi janji kepada seorang gadis kecil, mungkin juga karena cintanya yang begitu dalam akan Herodias, ia pun menghilangkan nyawa Yohanes yang ia tahu tidak bersalah apa-apa.

Bagi teman-teman yang masih remaja, berhati-hatilah dalam meminta. Dalam kondisi ekonomi yang semakin berat ini, permintaan-permintaan yang terlalu berat bagi orang tua bisa menyusahkan hati orang tua bahkan bisa membuat mereka terjerumus jatuh ke dalam dosa. Apakah dengan melakukan korupsi, mencuri, bahkan tindakan kekerasan yang merugikan orang lain dapat terjadi karena mereka tidak tahan mendengar tuntutan anak-anaknya. Tekanan atas tuntutan di luar kemampuan bisa menjerumuskan orang ke dalam jurang dosa yang mematikan. Janganlah karena ingin tampil lebih di hadapan orang, kita kemudian tega mengorbankan orang tua kita sendiri. Jagalah diri kita selalu agar jangan menghambakan uang dan kekayaan, seperti yang diingatkan Paulus. “Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.” (1 Timotius 6:9-10).

Para remaja yang masih tinggal dengan orang tuanya harus mau belajar untuk mampu melihat kondisi orang tuanya. Janganlah terlalu banyak menuntut atau meminta sesuatu yang akhirnya bisa membuat orang tua merasa tertekan, malu atau sedih hatinya. Ada banyak tindak kejahatan dan kekerasan bisa timbul dari sini. Jika orang tua merasa tertekan karena tidak mampu memenuhi permintaan, mereka suatu saat bisa terdesak dan melakukan tindak kekerasan/kejahatan. Demikian juga antara pasangan suami istri. Istri pun hendaknya bisa mengetahui batas kemampuan suaminya dan tidak menuntut jauh di atas kemampuan suaminya. Pikirkan dulu baik-baik sebelum meminta sesuatu, agar kita tidak menghancurkan hidup orang yang kita sayangi dan orang lain. Herodes mengambil sebuah keputusan yang fatal hanya karena kelepasan bicara dan tidak sanggup menutupi rasa malunya jika menolak. Marilah kita sama-sama belajar agar tidak terperosok ke dalam kesalahan yang sama.

Sebuah permintaan yang tidak pada tempatnya bisa membawa konsekuensi buruk

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply