Memiliki Mental Seperti Singa

Ayat bacaan: Amsal 30:30
======================
“Singa, yang terkuat di antara binatang, yang tidak mundur terhadap apapun.”

Mengapa singa dijuluki sebagai raja rimba? Ada banyak hal yang bisa dijadikan dasarnya. Singa merupakan yang terbesar ukurannya diantara empat genus Panthera dan menurut penelitian dikatakan sebagai yang terkuat. Dengan berat yang bisa mencapai 250 kg, panjang sekitar 2.7 meter belum termasuk ekornya yang bisa mencapai 1 meter. Bentuknya gagah, berkarisma, otot-otot yang kokoh serta gigi yang sangat kuat dalam mengoyak mangsanya. Keberadaan singa sudah ditemukan setidaknya sekitar satu juta tahun yang lalu lewat gambar-gambar di gua prasejarah, sedang fosil singa pertama berumur 700.000 tahun ditemukan di Italia. Singa tidak pernah takut menyerang atau diserang, meski harus menghadapi sekelompok hewan buas lainnya. Singa juga dikenal sebagai pemangsa hewan-hewan berukuran besar. Dengan data fakta seperti ini, singa tentu pantas mendapat predikat sebagai raja rimba, predikat yang sudah disandang selama ratusan ribu tahun. Di dalam kitab Amsal singa pun disebutkan sebagai yang terkuat. “Singa, yang terkuat di antara binatang, yang tidak mundur terhadap apapun.” (Amsal 30:30).

Saya masih ingin melanjutkan kisah Daud dan Goliat. Dalam tiga renungan terdahulu kita sudah belajar mengenai cara Daud menghadapi masalah, kali ini mari kita lihat dari sudut pandang yang lain yaitu dari segi mental. Dari kisah lengkapnya di 1 Samuel 17 kita tahu bahwa Goliat beserta prajurit Filistin sudah 40 hari lamanya mengintimidasi prajurit Israel. Tidak satupun dari mereka berani maju karena merasa sudah pasti kalah dalam segala hal. Prajurit Israel disana bukanlah tanpa modal. Mereka tentu punya peralatan perang meski mungkin tidak secanggih tentara Filistin dan Goliat. Mereka juga pasti sudah punya pengalaman bertempur. Tapi pada kenyataannya mereka masih tidak berani maju menghadapi lawan. Tidak demikian halnya dengan Daud. Ia masih sangat muda, belum pernah bertugas di ketentaraan dan sehari-hari hanyalah dipekerjakan sebagai gembala ternak ayahnya. Tapi ternyata Daud jauh lebih berani dibandingkan tentara Israel bahkan raja pada waktu itu yaitu Saul. Seorang Daud kecil bisa mengalahkan keberanian sekelompok tentara Israel dan raja, tanpa memiliki peralatan perang dan perisai apa-apa? Yang membedakan adalah mentalnya, sebuah mental yang didasarkan oleh kepercayaan teguh kepada Tuhan yang ia ketahui tidak pernah meninggalkannya.

Kita bisa melihat sebuah sikap mental tidaklah tergantung dari kelengkapan peralatan yang dimiliki. Sikap mental tidak tergantung dari berapa banyak uang yang ada, kekuatan otot kita, keahlian dan lain-lain. Ini yang masih sering dilupakan orang. Banyak orang mengukur kekuatannya hanya berdasarkan faktor-faktor fisik sementara mereka mengabaikan sisi psikisnya. Maka tidak heran kita melihat banyak orang yang gagal bukan karena mereka tidak sanggup, kurang pintar, kurang skil dan sejenisnya, tetapi justru karena mental mereka yang lemah. Daya juang yang rapuh, semangat yang gampang pudar, rasa takut akan kegagalan, mengukur kapasitas diri terlalu kecil dan cenderung memandang kepada besarnya masalah atau tantangan seringkali membuat orang menyerah sebelum bertanding.

Oleh karena itu kita memerlukan sebuah mental baja yang tidak kenal takut layaknya singa, seperti yang dimiliki oleh Daud. Lewat Daud pula kita bisa belajar bahwa sebuah mental yang kuat akan sulit dibangun dengan mengandalkan kekuatan dan kemampuan sendiri, tetapi akan bisa tumbuh jika kita berpusat kepada Allah yang punya kuasa melebihi segalanya.

Singa punya banyak hal untuk bisa dikatakan sebagai raja rimba, tetapi apa yang disorot dalam Amsal 30:30 diatas ternyata bukanlah dari segi kemampuan bertarung, ketajaman gigi atau kuku, bukan soal kegagahan atau karismanya, tetapi ternyata diukur dari kemampuan mentalnya menghadapi tantangan. Inilah seharusnya yang menjadi gambaran tentang kita orang percaya.

Bagaimana agar mental kita bisa menjadi sekuat singa? Lewat Daud kita bisa belajar bahwa ia mampu memiliki mental seperti itu karena mendasari dan menyerahkan ke dalam tangan Tuhan. Ia mengandalkan Tuhan dalam menghadapi tantangan. Imannya membuatnya mampu melakukan hal-hal yang bagi orang lain mustahil untuk dicapai, sebuah iman yang didasari kepercayaan teguh serta pengalaman akan pertolongan Tuhan yang pernah ia alami sebelumnya. Ada begitu banyak janji Tuhan yang berbicara mengenai pertolongan, kelepasan dari belenggu yang menghambat, menjadi sumber kekuatan dan lain-lain yang seharusnya bisa membuat kita bisa hidup tanpa perlu merasa takut. Ada jaminan penyertaan bahkan keselamatan yang menjadi bagian dari orang-orang percaya yang mengetahui dan melakukan firman Tuhan sebagai bagian dalam hidupnya. Tuhan sudah memperlengkapi kita dengan akal budi, daya pikir, hati dan begitu banyak talenta. Bahkan Tuhan sudah mengatakan bahwa RohNya sendiri berdiam dalam hati kita (Galatia 4:6). Kita diciptakan bukan sebagai pecundang tetapi dikatakan sebagai pemenang, bahkan lebih dari pemenang (Roma 8:37). Bagaimana kita bisa dikatakan lebih dari pemenang? Masih dari Roma 8 ada tertulis: “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” (Roma 8:28) Perhatikan, bahwa bagi kita yang mengasihi Tuhan, Dia sudah berjanji untuk turut bekerja, bukan untuk satu-dua hal melainkan untuk segala sesuatu, bukan untuk hal sia-sia atau merugikan melainkan untuk mendatangkan kebaikan. Bukankah janji-janji ini seharusnya bisa membantu kita untuk mampu membangun mental sekuat singa? Daud bukanlah prajurit perang terlatih. Ia masih sangat muda dan tidak punya otot-otot tebal untuk berkelahi.Baju perang dengan topi tembaga pun terlalu berat bagi ukuran tubuhnya. (bacalah 1 Samuel 17:38-39). Tapi mental Daud yang sekuat dan seberani singa terbukti mampu melebihi segala perlengkapan perang, pengalaman bertarung dan persenjataan yang dimiliki pasukan Israel. Dengan mental kuat yang disertai iman seperti itu Daud mampu mengalahkan binatang-binatang buas yang mencoba memangsa ternak kawalannya, dan ia pun mampu mengalahkan Goliat hanya dengan memakai batu lontar (umban) sederhana. Jika Daud bisa, kita pun bisa.

Hari ini mungkin kita tidak berhadapan dengan raksasa Goliat dengan perangkat perang lengkap seperti itu secara fisik, tetapi ada banyak ‘Goliat-Goliat’ yang harus kita hadapi seperti masalah-masalah besar, berbagai tantangan dan sebagainya. Sebuah mental atau sikap pemenang yang berakar/berpusat pada Allah akan memampukan anda melewati semuanya mengatasi kemustahilan dan keluar sebagai pemenang. Apa yang menjadi masalah anda hari ini? Jangan takut, itu tidaklah pernah bisa lebih besar dari kuasa Allah yang selalu menyertai anda.

Miliki mental pemenang seperti singa bukan pecundang

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply