Membunuh Karakter

Ayat bacaan: Matius 5:22
=====================
“Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.”

pembunuh identitas, mengumpat, menghina, mengutuk

Kita bisa sekolah setinggi mungkin, tetapi seringkali faktor penyebab berhasil tidaknya kita sebagai seseorang akan sangat tergantung dari keluarga. Ada beberapa teman saya yang sulit menemukan kepercayaan dirinya karena sering direndahkan, diejek dan dihina oleh saudara-saudara kandungnya sendiri semasa kecil. Ada kalanya orang tua pun mengeluarkan kata-kata yang tidak membangun sehingga si anak tumbuh menjadi pribadi yang tertutup dengan kepercayaan diri sangat minim. Akibatnya mereka sulit untuk tumbuh menjadi pribadi yang kuat dan berani ketika dewasa. Suasana di dalam keluarga sangatlah berpengaruh terhadap perkembangan mental seseorang. Dan saya pun melihat langsung hasilnya melalui beberapa teman saya yang pernah mengalami hinaan atau direndahkan selama masa bertumbuh mereka. Mereka bersekolah tinggi, bahkan ada yang menimba ilmu di luar negeri, tetapi secara mental mereka lemah. Mereka tidak percaya diri, cenderung menutup diri dan sangat sulit maju.

Seringkali kita tidak menyadari dampak yang bisa timbul akibat umpatan atau perkataan kasar terhadap seseorang. Mungkin kita mengumpat hanya karena kekesalan sesaat saja, tetapi hal itu bisa berdampak kepada pembunuhan karakter mereka. Dan Yesus sudah mengingatkan hal ini dengan keras. Keras? Ya, bahkan sangat keras. Yesus bahkan merasa perlu untuk mengambil “Perintah Allah ke 6” dari kitab Taurat yaitu jangan membunuh. “Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum.” (Matius 5:21). Kita mungkin akan heran dan berkata, “Siapa memangnya yang saya bunuh? Saya tidak pernah membunuh siapa-siapa.” Mungkin kita tidak membunuh orang secara fisik, tapi kita tidak sadar bahwa dengan mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas kepada saudara kita sendiri, itu sama artinya dengan melakukan pembunuhan, sebuah pembunuhan karakter, pembunuhan identitas diri yang akan berdampak besar pada masa depan mereka. Ayat di atas dilanjutkan Yesus dengan mengajarkan aplikasi ayat tersebut secara lebih luas. “Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala. (ay 22). Kata “Jahil” dalam versi BIS dikatakan sebagai “Tolol”, atau dalam bahasa Inggrisnya disebutkan sebagai “Fool, empty-headed idiot.” Artinya, dengan mengumpat kata tolol, idiot, bodoh dan sebagainya, itu pun akan diganjar kematian ke dalam neraka yang menyala-nyala. Keras bukan?

Pembunuhan ternyata bukan saja bisa terjadi secara fisik, menghilangkan nyawa seseorang dengan menggunakan senjata, mencekik, racun dan sebagainya, tetapi bisa pula kita lakukan atas karakter seseorang. Dan itu sama artinya dengan membunuh, dan ganjarannya pun sama. Coba bayangkan, bukankah sama dengan membunuh ketika kita membuat orang menjadi sulit bertumbuh, sulit maju dan sulit berhasil akibat perkataan kita yang meruntuhkan mental mereka? Itu bisa berdampak besar bagi masa depan mereka, dan tidak jarang hal itu akan menghantui mereka seumur hidup. Secara fisik mereka hidup, tetapi karakter mereka sesungguhnya sudah mati sejak dulu. Karakter mereka bisa hancur lebur akibat hinaan kita atau kata-kata mengutuk yang kita keluarkan. Itu sama saja dengan terbunuh. Disamping itu, kita harus ingat pula bahwa manusia, siapapun itu, termasuk anda dan saya, termasuk si pengumpat dan yang diumpat, sama-sama diciptakan secara istimewa mengambil gambar dan rupa Tuhan sendiri. (Kejadian 1:26), bahkan kita dianggap “berharga dan mulia” di mata Tuhan. (Yesaya 43:4). Jika demikian, ketika kita mengumpat seseorang sebagai orang “tolol”, “idiot”, “bodoh”, dan sebagainya, itu sama saja dengan menghina Tuhan. Tidaklah mengherankan apabila ganjaran terhadap perilaku seperti ini akan sama kerasnya dengan melakukan pembunuhan secara fisik.

Amsal Salomo sudah mengingatkan pentingnya untuk menjaga mulut. “Siapa menjaga mulutnya, memelihara nyawanya, siapa yang lebar bibir, akan ditimpa kebinasaan.” (Amsal 13:3). Kita bisa melihat pula peringatan dalam kitab 1 Samuel: “Janganlah kamu selalu berkata sombong, janganlah caci maki keluar dari mulutmu. Karena TUHAN itu Allah yang mahatahu, dan oleh Dia perbuatan-perbuatan diuji.” (1 Samuel 2:3). Dari bibir, lidah dan mulut yang sama bisa keluar berkat dan kutuk apabila tidak kita jaga dengan baik. Jangan sampai itu kita lakukan. Yakobus mengingatkan “Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah, dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi.” (Yakobus 3:9-10). Manusia diciptakan menurut rupa Allah, dan ketika kita mengutuk sesama manusia, itu artinya kita sedang melakukan penghinaan besar kepada Allah. Dan itu akan berakibat fatal. Ganjaran hukumannya jelas, neraka yang menyala-nyala seperti yang dikatakan Yesus.

Mulut seharusnya kita jaga dengan baik dan dipergunakan untuk membangun bukan sebaliknya untuk menghancurkan orang lain. “Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.” (Efesus 4:29). Apakah anda termasuk orang yang terbiasa mengatai orang lain dengan kata-kata tolol, bodoh, dan sebagainya? Jika ya, berhentilah sekarang juga. Mungkin perkataan itu tidak berarti apa-apa bagi kita, mungkin itu hanya ungkapan kekesalan sesaat saja, tetapi sadarilah bahwa bagi orang yang terkena hal itu bisa berdampak sangat berat. Di mata Tuhan itu sama saja dengan membunuh. Oleh karena itu, marilah kita jaga mulut kita dan memakainya hanya untuk membangun orang lain. Mari belajar untuk memuliakan Tuhan dengan bibir kita.

Menghina manusia berarti menghina Penciptanya

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply