Membuang-buang Sisa Makanan

 Ayat bacaan: Yohanes 6:12
====================
“Dan setelah mereka kenyang Ia berkata kepada murid-murid-Nya: “Kumpulkanlah potongan-potongan yang lebih supaya tidak ada yang terbuang.”

membuang sisa makanan

Istri saya pernah mendapatkan pelajaran yang cukup keras dari ibunya sewaktu kecil karena suka membuang-buang makanan. Namanya anak-anak, ia mengambil banyak tetapi hanya memakan sedikit, sehingga yang terbuang cukup banyak. Pada suatu kali ibunya menghukumnya dengan menyuruh menghabiskan semua yang ada di piring tanpa sisa. Meski kenyang, dengan menangis ia pun menghabiskan semuanya seperti yang diperintahkan. Sejak saat itu ia tidak lagi mengambil banyak, hanya secukupnya saja. Dan itu masih ia lakukan hingga hari ini, karena pelajaran atau hukuman itu membekas di hatinya. Pelajaran yang cukup keras memang, tetapi itu untuk kebaikan. Bayangkan ada banyak orang yang menderita kelaparan, busung lapar bahkan hingga menemui ajalnya, sementara kita malah membuang-buang makanan karena merasa berhak. Toh uang saya yang keluar, toh saya yang beli, lantas kenapa harus repot? Sesungguhnya perilaku ini tidaklah baik. Meski memang uang kita yang membeli, tetapi kita tidak boleh membuang-buang makanan. Mengapa? Karena makanan merupakan berkat Tuhan, dan membuang makanan itu sama artinya dengan membuang berkat Tuhan.

Di dalam Alkitab kita bisa menemukan dalam beberapa kesempatan bahwa Tuhan sendiri tidak suka perilaku membuang-buang makanan ini. Dalam perjalanan bangsa Israel dari Mesir menuju Kanaan lewat pimpinan Musa misalnya. Dua kali Tuhan mengabulkan permintaan bangsa Israel akan makanan dalam Keluaran 16:1-36. Dalam dua kali kesempatan ketika Tuhan menurunkan roti dan burung puyuh, dua kali pula Tuhan berpesan agar mereka mengambil secukupnya sesuai kebutuhan dan tidak membuang-buang sisanya, yaitu pada ayat 4: “Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Sesungguhnya Aku akan menurunkan dari langit hujan roti bagimu; maka bangsa itu akan keluar dan memungut tiap-tiap hari sebanyak yang perlu untuk sehari, supaya mereka Kucoba, apakah mereka hidup menurut hukum-Ku atau tidak.” dan ayat berikut: “Beginilah perintah TUHAN: Pungutlah itu, tiap-tiap orang menurut keperluannya; masing-masing kamu boleh mengambil untuk seisi kemahnya, segomer seorang, menurut jumlah jiwa…Ketika mereka menakarnya dengan gomer, maka orang yang mengumpulkan banyak, tidak kelebihan dan orang yang mengumpulkan sedikit, tidak kekurangan. Tiap-tiap orang mengumpulkan menurut keperluannya.” (ay 16,18).  Tuhan tidak suka jika berkatNya kita buang sia-sia. Disaat orang lain ada yang membutuhkan, ada yang mati kelaparan, bagaimana mungkin kita tega membuang makanan tanpa sedikitpun terpikir akan nasib mereka? Jika itu kita lakukan, bagaimana kita bisa menjadi terang dan garam, dan bagaimana kita bisa mengaku mengenal dan menjadi anak Tuhan?

Kita bisa melihat contoh lain mengenai ketidaksukaan Tuhan terhadap membuang-buang berkatNya dalam hal ini membuang-buang sisa makanan dalam kisah Yesus menggandakan lima roti dan dua ikan. Yang harus diberi makan pada saat itu bukan hanya puluhan, bukan ratusan tetapi ribuan orang. Lima ribu orang, belum termasuk wanita dan anak-anak. Itu tercatat jelas di dalam Injil. Apa yang dipergunakan Yesus pada saat itu tidak lain adalah sisa makanan yang ada pada seorang anak, yaitu lima roti dan dua ikan. Itulah yang kemudian mampu mengenyangkan ribuan orang dan masih bersisa. Berkat yang berkelimpahan yang dijanjikan Tuhan itu Dia berikan, dan itu bisa kita lihat kembali pada kisah ini seperti halnya kepada bangsa Israel di jaman Musa di atas. Tapi lihatlah apa kata Yesus mengenai makanan sisa ini. “Dan setelah mereka kenyang Ia berkata kepada murid-murid-Nya: “Kumpulkanlah potongan-potongan yang lebih supaya tidak ada yang terbuang.” (Yohanes 6:12). Begitu pentingnya pesan ini, sehingga keempat Penulis Injil menuliskan hal tersebut. Selain lewat Injil Yohanes diatas, hal tersebut juga ditulis dalam Matius 14:20, Markus 6:43 dan Lukas 9:17.

Membuang-buang sisa makanan itu sama artinya dengan tidak menghargai Sang Pemberinya. Itu sama saja dengan menyia-nyiakan atau menyepelekan berkat Tuhan.Untuk disimpan sendiri saja sudah salah, apalagi jika kita buang-buang. Tidakkah kita seharusnya sedih  melihat begitu banyaknya gelandangan yang kelaparan, orang terlantar dan anak-anak yang menderita kekurangan makanan bahkan hingga mati di berbagai tempat, termasuk di sekitar kita? Ketika kita menghamburkan uang untuk membeli sesuatu yang hanya kita buang sia-sia dalam waktu singkat atau hidup dalam limpahan kemewahan berlebihan tanpa peduli akan nasib mereka yang tengah meratap dalam kekurangan, tidakkah itu berarti bahwa kita sama sekali tidak mencerminkan pribadi Tuhan? Dan itu sama saja dengan melanggar perintahNya. Kita bisa berpikir bahwa itu hak kita, karena uang yang kita pakai kita anggap adalah hasil jerih payah kita bekerja. Tetapi jangan lupa bahwa semua itu pun berasal dari Tuhan yang memberkati lewat kerja keras kita. Intinya, kita tidak boleh lupa bahwa kita diberkati untuk memberkati. “…hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat.” (1 Petrus 3:9). Tuhan tidak ingin anak-anakNya menjadi tamak, egois dan serakah atas berkatNya. Tuhan ingin melihat kita menjadi saluran berkat bagi orang lain. Tuhan ingin lewat kita semakin banyak pula orang yang akan memuliakan Tuhan. Dan itu tidak akan pernah bisa apabila kita masih bersifat egois dan tidak peka terhadap sesama kita. Firman Tuhan juga berkata: “Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.” (Lukas 6:38). Ini adalah sesuatu yang harus pula benar-benar kita camkan.

Ketika kita berdoa meminta Tuhan memberkati usaha kita dan memberi kelimpahan buat kita, ingatlah bahwa ada kewajiban yang harus kita lakukan disana. Apakah kita sudah menghargai berkat Tuhan secara benar dan menjalankan kewajiban kita sebagaimana yang Tuhan inginkan? Ingatlah bahwa semua yang kita miliki bukanlah atas hasil jerih payah kita semata, tetapi itu merupakan berkat yang indah dari Tuhan. Kita semua punya hak untuk memakai uang yang kita peroleh dari pekerjaan kita, tetapi Tuhan mengingatkan kita untuk memakai secukupnya dan tidak melupakan orang lain yang pada saat yang sama. Tuhan tidak pernah terbatas untuk melimpahkan berkatNya bagi kita, jadi tidak ada yang perlu kita takutkan. Kita harus terus melatih diri kita hingga kita bisa merasakan kebahagiaan ketika kita memberi, sampai firman Tuhan berikut ini bisa tertanam di dalam diri kita: “Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.” (Kisah Para Rasul 20:35). Kita bisa mulai dari yang kecil seperti tidak membuang-buang sisa makanan untuk belajar bersyukur dan menghargai berkat dari Tuhan.

Membuang-buang sisa makanan sama dengan membuang berkat Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: