Membiarkan Rumah Tuhan Menjadi Reruntuhan

Ayat bacaan: Hagai 1:9b
===================
“Oleh karena rumah-Ku yang tetap menjadi reruntuhan, sedang kamu masing-masing sibuk dengan urusan rumahnya sendiri.”

24 jam sehari yang diberikan bagi kita, berapa besar porsi Tuhan didalamnya? Manusia semakin lama semakin menjadi individualis-individualis sejati. Untuk bersosialisasi dengan sesama saja sudah tidak sempat lagi, sibuk mengejar target dan pendapatan sebanyak-banyaknya tanpa ada habisnya. Tetangga tidak lagi kenal, pertemanan hanya didasarkan untung rugi, keluarga tidak lagi penting dibandingkan pekerjaan. Jika dalam hubungan dengan sesama saja sudah sulit, apalagi menyediakan waktu untuk Tuhan. Ada yang pernah mengatakan kepada saya dengan bangga bahwa ia membagi tugas dengan istrinya dalam hal ini. “Istri urusannya berdoa, yang rohani-rohani, sedang saya bekerja cari uang. Adil kan?” katanya sambil tertawa. Ia lupa bahwa sebagai suami ia harusnya juga menjalankan role sebagai imam, bukan hanya provider uang untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Banyak orang yang bukan saja melupakan pentingnya membangun hubungan yang erat dengan Tuhan, tapi mereka juga tidak mau melibatkan Tuhan dalam pekerjaan dan hidupnya sehari-hari. Rohani dipisahkan dengan dunia, rohani urusan istri dan urusan dunia itu urusan suami. No, that’s not the right concept. Konsep kekristenan bukanlah seperti itu. Jangan sampai rumah kita dibangun dengan megah, mewah dan indah, tapi rumah/mesbah Tuhan dalam keluarga justru dibiarkan terbengkalai bahkan ambruk tinggal puing-puing saja.

Itulah bentuk peringatan Tuhan yang sangat keras kepada bangsa Israel di jaman Hagai. Pada masa itu dikatakan bahwa bangsa Israel terlalu sibuk mengurusi urusannya masing-masing sehingga membiarkan rumah Tuhan terbengkalai tidak terurus. Mereka terlalu sibuk untuk mempercantik rumah sendiri, hingga rumah Tuhan yang sudah menjadi reruntuhan pun tidak lagi mereka pedulikan. Maka Tuhan pun menegur mereka lewat Hagai. “Apakah sudah tiba waktunya bagi kamu untuk mendiami rumah-rumahmu yang dipapani dengan baik, sedang Rumah ini tetap menjadi reruntuhan?” (Hagai 1:4). Tuhan menegur bangsa Israel dengan mencela secara langsung. “Oleh karena rumah-Ku yang tetap menjadi reruntuhan, sedang kamu masing-masing sibuk dengan urusan rumahnya sendiri.” (ay 9b). Tuhan tersinggung dengan sikap seperti ini, sehingga tidak heran jika bangsa Israel pada waktu itu tidak diberkati lewat pekerjaan mereka bahkan terus mengalami kerugian. “Kamu menabur banyak, tetapi membawa pulang hasil sedikit; kamu makan, tetapi tidak sampai kenyang; kamu minum, tetapi tidak sampai puas; kamu berpakaian, tetapi badanmu tidak sampai panas; dan orang yang bekerja untuk upah, ia bekerja untuk upah yang ditaruh dalam pundi-pundi yang berlobang! Kamu mengharapkan banyak, tetapi hasilnya sedikit, dan ketika kamu membawanya ke rumah, Aku menghembuskannya.” (ay 6, 9a). Kemarahan Tuhan itu wajar. Bukankah kebaikan dan kesabaran Tuhan telah menyertai mereka sejak dahulu? Tuhan mau mereka mengerti betul mengenai kasih Tuhan, kebaikan dan kesabaranNya, kesetiaanNya. Tuhan mau mereka bisa menghargai sepenuhnya segala berkat-berkat yang telah Dia alirkan ke tengah-tengah mereka. Atas semua yang telah diberikan Tuhan, sudah sewajarnya apabila mereka menghormati Tuhan dengan sungguh-sungguh. Setelah mengalami kuasa mukjizat Tuhan sepanjang perjalanan sejarah bangsa mereka, sudah seharusnya mereka menyadari penyertaan Tuhan dan tidak meninggalkanNya. Tapi ternyata mereka melakukan hal yang sebaliknya, sehingga tidaklah mengherankan apabila Tuhan marah dan menegur mereka dengan keras.

Hal yang sama masih sering dilakukan orang hari ini. Kita terlalu sibuk bekerja, berjuang hidup, sehingga kita sering melewatkan waktu-waktu kita untuk mendatangi dan berdiam di hadiratNya. Ada yang bahkan sering terlalu sibuk melayani, tetapi melupakan saat dimana kita duduk berdiam di kakiNya dan merasakan betapa Tuhan begitu dekat dan begitu mengasihi kita, seperti yang terjadi antara Yesus, Marta dan Maria dalam Lukas 10. Terlalu sibuk bekerja, bahkan terlalu sibuk melayani bisa membuat kita lupa untuk memilih yang terbaik, yaitu duduk diam di kaki Tuhan, merasakan hadiratNya dan mendengar suaraNya. Melanjutkan renungan terdahulu, hari ini lewat Hagai Tuhan menegur agar kita tidak hidup untuk diri sendiri saja, mementingkan diri kita saja, tetapi harus pula memperhatikan rumah Tuhan juga sebagai tanda kasih dan hormat kita kepadaNya.

Adalah penting bagi kita untuk menarik rem sejenak dari kesibukan kita, pekerjaan bahkan pelayanan. Ada saat-saat dimana kita harus berhati-hati agar jangan sampai kesibukan kita membuat hal-hal penting lainnya dalam keseharian kita. Mengurus keluarga, membagi waktu buat istri/suami dan anak-anak serta keluarga lainnya, bersosialisasi dengan tetangga dan teman-teman, memperhatikan kesehatan kita terlebih menjaga hubungan kita dengan Tuhan. Tidaklah salah jika kita bekerja dengan keras dan serius karena itu memang merupakan keinginan Tuhan atas diri kita, tetapi perhatikan baik-baik agar jangan semua itu merebut hubungan kita dengan sesama terutama dengan Tuhan. Jika anda termasuk orang yang sangat sibuk, ini saatnya bagi kita untuk bersama-sama menelaah kembali sejauh mana kita sudah mengendalikan kesibukan tanpa harus mengorbankan hal-hal penting lainnya. Sangatlah penting untuk memperhatikan urutan prioritas dalam hidup. Jangan salah menetapkan prioritas apalagi mengorbankan hubungan dengan Tuhan, karena itu akan merugikan bahkan menghancurkan kita sendiri. Sudahkah anda membangun mesbah keluarga dengan teratur bersama istri/suami, anak dan anggota keluarga lainnya? Sudahkah anda para suami menjalankan fungsi dan peran sebagai imam dan pemimpin dalam keluarga, dan para istri menjadi tiang penyangga yang kokoh dalam rumah tangga? Jika belum, mulailah hari ini sehingga murka Allah tidak harus turun karena rumahNya dibiarkan hancur berantakan seperti puing reruntuhan.

Atur dan susun prioritas secara benar agar jangan sampai kita menuai murka Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: