Memberi Yang Terbaik

Ayat bacaan: Maleakhi 1:8
======================
“Apabila kamu membawa seekor binatang buta untuk dipersembahkan, tidakkah itu jahat? Apabila kamu membawa binatang yang timpang dan sakit, tidakkah itu jahat? Cobalah menyampaikannya kepada bupatimu, apakah ia berkenan kepadamu, apalagi menyambut engkau dengan baik? firman TUHAN semesta alam.”

memberi yang terbaik kepada Tuhan

Ketika presiden datang berkunjung ke daerah, biasanya daerah pun berbenah habis-habisan dengan mengucurkan dana anggaran yang besar. Sekian tahun yang lalu ketika saya masih tinggal di kota kelahiran saya, suatu kali presiden pada waktu itu akan datang berkunjung. Betapa sibuknya pemerintah daerah memperindah kota, terutama jalan yang akan dilalui oleh presiden. Pembatas jalan dan zebra cross di cat ulang, bahkan rumah-rumah yang dilewati mendapat instruksi langsung untuk mengecat ulang rumah mereka. Persiapan yang tidak sedikit, memerlukan waktu yang tidak sedikit pula, padahal jalan itu hanya akan dilalui beberapa detik saja oleh iring-iringan mobil presiden. Itu kalau Presiden. Mari kita ambil contoh yang lebih kecil saja. Andaikata saat ini gubernur atau bupati datang ke rumah kita, apa yang akan kita persiapkan? Apakah kita juga akan berbenah habis-habisan dan akan mempersembahkan hidangan yang terbaik sesanggup kita? Tentu saja bukan? Kita akan melakukan itu untuk menunjukkan rasa hormat kita kepada orang yang dihormati. Mertua datang saja bisa membuat kita sibuk bukan kepalang, itu karena kita menghormati mereka.

Sebagai seorang diaken, saya juga bertugas untuk menghitung persembahan. Ada begitu banyak uang yang dimasukkan dalam keadaan jelek. Kusut seperti habis diremuk-remuk sampai kecil sekali. Padahal lubang untuk memasukkan tidaklah kecil-kecil amat. Saya merasa sedih melihat hal ini. Bukan soal nominal tentu, karena tidak semua orang sanggup memberi banyak. Itu saya tahu. Tapi tidakkah indah jika kita memberi dengan sedikit rasa hormat? Kita memberi persembahan, baik perpuluhan, diakonia, kasih dan sebagainya untuk menghormati Tuhan, bukan untuk uang karcis masuk gereja. Jika kepada presiden, gubernur atau mertua kita rela bersusah payah untuk memberi yang terbaik, mengapa kepada Tuhan yang berada di atas segalanya kita malah bersikap seperti itu?

Banyak orang selalu menuntut berkat yang terbaik dari Tuhan, tapi hanya memberi sisa-sisa saja kepada Tuhan. Kita menuntut segala sesuatu yang paling besar, namun memberi sekecil mungkin. Itupun tidak disertai rasa hormat. Ada banyak orang mengeluh ketika memberi persepuluhan karena merasa bahwa mereka masih membutuhkan uang itu. Selalu merasa belum cukup dan merasa perlu untuk terus menimbun uang sebanyak-banyaknya. Mereka lupa bahwa segala sesuatu itu berasal dari Tuhan, termasuk rejeki atau berkat yang kita terima setiap harinya. Tuhan selalu lebih dari sanggup mencukupkan bahkan memberi dengan berkelimpahan kepada kita. Tapi siapkah kita memberi yang terbaik pula kepadaNya?

Alkitab banyak berbicara mengenai memberi segala sesuatu yang terbaik untuk dipersembahkan kepada Tuhan. Ayat-ayat mengenai hal ini sangat banyak terdapat di dalam alkitab, terutama di dalam Perjanjian Lama. Dalam “perumpamaan tentang anak yang hilang” kita juga bisa melihat bahwa orang yang berdosa besar sekalipun, yang sudah durhaka, tetap dilayakkan untuk menerima yang terbaik dari Tuhan. (Lukas 15:22-24). Tapi manusia terus semakin kikir dan tidak bersyukur. Pada suatu ketika, Tuhan pun sempat merasa muak dan murka melihat ketidaksopanan manusia. “Seorang anak menghormati bapanya dan seorang hamba menghormati tuannya. Jika Aku ini bapa, di manakah hormat yang kepada-Ku itu? Jika Aku ini tuan, di manakah takut yang kepada-Ku itu? firman TUHAN semesta alam kepada kamu, hai para imam yang menghina nama-Ku. Tetapi kamu berkata: “Dengan cara bagaimanakah kami menghina nama-Mu?” (Maleakhi 1:6). Para imam di jaman itu ternyata membawa roti cemar atau makanan yang tidak pantas ke atas mezbah Tuhan. Bukan itu saja, hewan yang dijadikan kurban pun bukanlah yang terbaik lagi melainkan hanya yang sakit dan bermasalah, yang tidak layak, supaya tidak rugi. Dan Tuhan pun marah akan hal ini. “Apabila kamu membawa seekor binatang buta untuk dipersembahkan, tidakkah itu jahat? Apabila kamu membawa binatang yang timpang dan sakit, tidakkah itu jahat? Cobalah menyampaikannya kepada bupatimu, apakah ia berkenan kepadamu, apalagi menyambut engkau dengan baik? firman TUHAN semesta alam.” (ay 8). Ketika kita susah, kita berjanji akan memberi yang terbaik kepada Tuhan setelah sukses, namun setelah sukses, ingatkah kita kepada janji kita itu, atau kita malah sibuk menimbun dan terus menimbun lalu merasa terpaksa untuk mengembalikan apa yang menjadi hak Tuhan? Lihat apa kata Tuhan dalam hal ini. “Terkutuklah penipu, yang mempunyai seekor binatang jantan di antara kawanan ternaknya, yang dinazarkannya, tetapi ia mempersembahkan binatang yang cacat kepada Tuhan. Sebab Aku ini Raja yang besar, firman TUHAN semesta alam, dan nama-Ku ditakuti di antara bangsa-bangsa.” (ay 14). Ini tidak main-main. Tuhan telah memberi segala sesuatu yang terbaik bagi kita. Bukan saja berkat-berkat materi, tapi juga perlindungan, bahkan keselamatan. AnakNya sendiri Dia berikan bagi kita agar kita selamat. Bukankah itu sebuah pemberian yang sangat besar? Jika kita menyadari hal itu, maka kita seharusnya tidak berlaku asal-asalan atau terpaksa dalam memberi kepada Tuhan. Seharusnya kita tidak memanfaatkan Tuhan dan menganggap bahwa Tuhan hanyalah sosok yang hanya dimintai tapi tidak perlu dihargai. Don’t take it for granted, we really have to honor Him back, the best we can.

Firman Tuhan berkata “Muliakanlah TUHAN dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu, maka lumbung-lumbungmu akan diisi penuh sampai melimpah-limpah, dan bejana pemerahanmu akan meluap dengan air buah anggurnya.” (Amsal 3:9-10). Ayat 9 dalam versi BIS (Bahasa Indonesia Sehari-hari) berbunyi “Hormatilah TUHAN dengan mempersembahkan kepada-Nya yang terbaik dari segala harta milik dan hasil tanahmu.” Sudah sepantasnya kita memberi yang terbaik dengan penuh rasa syukur dan sukacita, bukan terpaksa dan berat hati. Tuhan sanggup memberi lebih lagi sampai melimpah-limpah. Dia lebih dari sanggup untuk itu. Sekali lagi, bukan soal nominal, tapi soal apakah yang kita berikan itu yang terbaik atau tidak. Hal ini tampak jelas dalam kisah “persembahan seorang janda miskin” (Markus 12:41-44). Ada seorang ibu janda yang hanya memasukkan dua peser saja, tapi hal itu berkenan di mata Tuhan, lebih dari orang-orang yang memberi lebih banyak dari segi nominal. Mengapa? “Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan ia memberi seluruh nafkahnya.”(ay 4). Dengan kata lain, si ibu janda memberikan yang terbaik daripadanya kepada Tuhan.

Hari ini mari kita renungkan, apakah kita sudah memberi yang terbaik bagi Tuhan? Atau kita masih berhitung untung rugi, mementingkan diri kita sendiri secara berlebihan dan tanpa rasa bersalah mengemplang apa yang menjadi hak Tuhan. Tuhan telah begitu luar biasa mengasihi kita, Dia selalu memberi yang terbaik kepada kita, rancangan yang Dia sediakan adalah yang terbaik untuk menatap hari depan yang penuh harapan. Oleh karena itulah kita seharusnya sadar posisi kita, dan memuliakanNya dengan segala yang terbaik dari diri kita. Bukan hanya persembahan dalam bentuk uang, tapi justru yang terpenting adalah diri kita sendiri. “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” (Roma 12:1). Sudahkah kita mempersembahkan yang terbaik dari diri kita kepada Tuhan, atau kita masih mentolerir dosa-dosa yang kita anggap kecil sambil terus mengaku sebagai umat yang mengasihiNya? Mari kita berikan segala yang terbaik bagi Tuhan, karena jika orang saja kita hormati, Tuhan jauh lebih dari layak untuk itu.

God deserves the best  from us

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply