Memberi Tumpangan

Ayat bacaan: Ibrani 13:2====================”Jangan kamu lupa memberi tumpangan kepada orang, sebab dengan berbuat demikian beberapa orang dengan tidak diketahuinya telah menjamu malaikat-malaikat.”Sebuah film yang baru saja saya tonton dalam sebuah ad…

Ayat bacaan: Ibrani 13:2
====================
“Jangan kamu lupa memberi tumpangan kepada orang, sebab dengan berbuat demikian beberapa orang dengan tidak diketahuinya telah menjamu malaikat-malaikat.”

tumpangan

Sebuah film yang baru saja saya tonton dalam sebuah adegannya mengisahkan sang tokoh yang tengah tersesat di sebuah jalan kosong. Ia berusaha memperoleh tumpangan dari kendaraan yang lewat agar bisa mencapai kota terdekat untuk melanjutkan perjalanannya. Ia mengacungkan jempolnya tetapi semua kendaraan berlalu begitu saja tanpa mempedulikan dirinya. Itu gambaran dari sikap manusia saat ini. Di jaman modern ini manusia semakin berubah menjadi individualis yang tidak lagi peduli terhadap orang lain yang tidak mereka kenal. Di kota besar hampir tidak lagi mungkin untuk mendapatkan tumpangan, persis seperti apa yang digambarkan film tadi. Memang kita tidak bisa menyalahkan sepenuhnya untuk tidak memberi tumpangan, karena ada banyak orang jahat pula yang berpura-pura seperti itu untuk melancarkan aksi jahatnya. Karena itulah saya merasa kagum terhadap seorang ibu di gereja saya yang dengan murah hati sering memberi tumpangan bahkan terhadap orang-orang yang tidak ia kenal tanpa terkecuali. Saya sempat bertanya, “Tidak takut bertemu orang jahat, bu?” Ia tertawa dan berkata, “Saya hanya menjalankan kewajiban saya sebagai pengikut Kristus..soal jahat atau tidak, Tuhan pasti jaga saya.” Ibu itu melakukan panggilannya dengan senang hati. Dan Alkitab sudah mengingatkan kita untuk tidak berat dalam memberi tumpangan atau bantuan. Bahkan dikatakan bisa jadi pada suatu ketika kita malah menjamu malaikat dalam melakukannya tanpa kita ketahui.

Dalam surat Ibrani 13, sang Penulis menyatakannya seperti ini: “Jangan kamu lupa memberi tumpangan kepada orang, sebab dengan berbuat demikian beberapa orang dengan tidak diketahuinya telah menjamu malaikat-malaikat.” (Ibrani 13:2). Terbayangkankah oleh anda bahwa kita hidup dikelilingi oleh banyak malaikat yang bisa jadi tampil dalam wujud-wujud tak ubahnya seperti kita manusia? Alkitab menyatakan seperti itu. Dalam bahasa Inggrisnya (Amplified) dikatakan: “Do not forget or neglect or refuse to extend hospitality to strangers, for through it some have entertained angels without knowing it.” Jangan lupa, jangan mengabaikan atau menolak untuk menawarkan bantuan dalam keramahan untuk orang-orang asing. karena dengan berbuat demikian bisa jadi kita tengah menyenangkan para malaikat tanpa kita sadari. Luar biasa bukan?

Meski menjamu malaikat itu rasanya luar biasa, tetapi apa yang harus kita ingat adalah motivasi utama kita dalam memberi bantuan kepada orang asing yang tidak kita kenal sekalipun. Biar bagaimanapun motivasi dalam melakukannya seharusnya adalah kasih. “Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.” (Kolose 3:14). Ini sebuah pesan penting yang hendaknya harus selalu kita ingat. Dan kemudian Kristus sendiri mengingatkan kita untuk mencerminkan kemurahan hati Bapa dalam hidup kita seperti yang bisa kita baca dalam ayat yang sudah saya tuliskan kemarin. “Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati.” (Lukas 6:36). Dalam memberi tumpangan atau bantuan, bisa jadi memang kita menjamu malaikat tanpa kiat sadari, tetapi seharusnya bukan itu yang menjadi motivasi utama kita, melainkan atas dasar kasih. Menyadari bahwa Allah mengasihi kita, dan juga mengasihi semua manusia termasuk orang-orang yang tidak kita kenal disekitar kita, sudah seharusnya kita bisa menjadi perantara Allah dengan menjadi saluran kasih yang mengalirkan kasih Surgawi kepada mereka. Sudah saatnya gereja berhenti bersikap eksklusif dan hanya bertumpu pada kehidupan di balik tembok-tembok masing-masing saja. Itu bukanlah bentuk gereja yang digambarkan Tuhan, karena bentuk kasih yang sesungguhnya diinginkan Tuhan untuk kita miliki seharusnya jauh lebih luas dari ukuran gedung atau ruang gereja. Sudah saatnya kita menjadi terang dan garam yang mengaplikasikan bentuk iman dan kasih secara nyata, lewat perbuatan-perbuatan yang nyata pula. Simaklah bahwa Yakobus sudah mengingatkan seperti ini: “Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna.” (Yakobus 2:2). Ada hubungan erat antara iman dan perbuatan nyata, dan disanalah iman itu akan kemudian menjadi sempurna.

Petrus mengatakan: “Berilah tumpangan seorang akan yang lain dengan tidak bersungut-sungut.” (1 Petrus 4:9). Dan ayat ini hadir mengikuti ayat sebelumnya yang berbunyi: “Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa” (ay 8). Gambaran bahwa ada keterkaitan antara iman dan perbuatan dimana lewat perbuatan itu iman menjadi sempurna salah satunya tergambar jelas dari ayat ini. Dalam kesempatan lain Paulus pun menyerukan hal yang sama. “Bantulah dalam kekurangan orang-orang kudus dan usahakanlah dirimu untuk selalu memberikan tumpangan!” (Roma 12:13). Tumpangan atau bantuan bisa jadi kecil nilainya buat kita, tetapi bisa sangat besar maknanya bagi orang yang sedang membutuhkan.

Kita harus ingat betul untuk apa kita diberkati Tuhan. Perhatikan ayat berikut ini: “…hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat…” (1 Petrus 3:9). Kita tidak akan pernah bisa menjadi terang dan garam apabila kita hidup tanpa perasaan peduli dan murah hati. Kita tidak akan pernah bisa menjadi anak-anak Tuhan yang sejati tanpa memiliki kasih. Memberi tumpangan atau bantuan merupakan salah satu bentuk nyata yang bisa kita lakukan dalam memenuhi kewajiban kita sebagai anak-anak Tuhan. Ya, mungkin saja tanpa kita ketahui kita sudah menjamu malaikat ketika mengulurkan tangan buat orang-orang yang membutuhkan meski mereka tidak kita kenal sama sekali. Tetapi lebih dari itu, milikilah hati yang mengasihi tanpa pandang bulu. Bentuknya bisa bermacam-macam, dan tergantung dari kesanggupan atau kemampuan kita. Selama itu berasal dari kasih yang keluar dari hati yang tulus, itu bisa memberikan sebuah perbedaan nyata dalam kehidupan disekitar kita. Dunia mungkin masih perlu memandang tujuan untuk apa seseorang membantu, apa motivasinya, keuntungan apa yang bisa mereka peroleh atau bahkan hanya melegalkan untuk membantu kelompok sendiri atau hanya menjangkau sesama penganut kepercayaan tertentu saja, tetapi kasih Kristus seharusnya bisa menjangkau semua orang tanpa terkecuali. Mari kita miliki sikap murah hati yang siap memberi bantuan atau tumpangan sejauh yang kita mampu kepada saudara-saudari kita yang membutuhkan, siapapun mereka.

Alirkan kasih kepada sesama tanpa terhalang oleh sekat perbedaan dalam bentuk apapun

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply