Memberi Sebagai Etalase Rohani

Ayat bacaan: Matius 6:4
===================
“Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”

memberi, etalase rohani, pamer

Ucapan selamat kerap mengisi banyak halaman koran ketika ada hajatan-hajatan penting seperti pelantikan kepala negara atau kepala daerah. Begitu juga ketika ada orang besar/terkenal mengadakan pesta. Karangan bunga, papan ucapan, bingkisan, parcel dan sebagainya, biasa juga dipakai untuk menyampaikan ucapan selamat ini. Ketika ada yang meninggal, berbagai ucapan belasungkawa dan papan ucapan serta karangan bunga juga sering dipakai untuk menyatakan simpati dan turut berdukacita. Bentuk ucapan seperti itu sudah menjadi hal yang lumrah bagi kita, dan tentu sah-sah saja. Tapi apakah benar motivasi pemberian itu adalah turut bergembira atau berdukacita yang tulus? Kita sering melihat bahwa nama perusahaan berikut logo dicantumkan besar-besar. Kenyataannya ada banyak orang yang memberikan itu semua hanya sebagai upaya untuk bisa mendapat nilai lebih atau diingat oleh orang yang diberi. Setidaknya urusan ke depan bisa menjadi lebih mulus. Dalam berbagai pemilihan kita akan melihat begitu banyak kontestan atau calon yang berebut memberikan sumbangan berupa baju kaos, sembako atau bahkan uang dengan tujuan agar mereka dipilih. Begitu terpilih, mereka tidak lagi melakukannya karena apa yang mereka inginkan sudah tercapai. Sebuah kampung di dekat rumah saya selalu bergembira jika ada rangkaian pemilihan seperti ini. Baik pemilihan kepala daerah, pemilihan anggota legislatif, partai dan sebagainya. Mengapa? Karena itu saatnya bagi mereka untuk menuai banyak. “Yang penting dapat uang, soal siapa yang saya pilih nanti saja.” kata seorang penduduk pada saya ketika itu. Tidak heran jika hari ini mereka memakai atribut A, besok orang yang sama akan memakai atribut B. “Peduli amat, habis ini mereka juga tidak akan pernah memberi lagi sampai pemilihan berikutnya” sambungnya lagi. Pemberian seperti ini bukanlah pemberian tulus, karena ada agenda di balik itu untuk kepentingan pribadinya.

Memberi merupakan kewajiban semua manusia dan merupakan perbuatan mulia. Sedekah, sumbangan, bantuan, fundraising dan sebagainya adalah bagian dari ibadah yang dianjurkan oleh semua agama. Bagi kita pun demikian. Yesus berkata “Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.” (Lukas 6:38). Pemberian adalah bagian dari kepedulian terhadap sesama yang memenuhi hukum kedua yang terutama yaitu “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Matius 22:39). Dan tentu saja, ketika kita memberi, itu artinya kita melakukan sesuatu untuk Yesus. (Matius 25:40). Memberi itu baik, namun motivasi di balik pemberian itu sesungguhnya sangat menentukan nilai pemberian kita. Apakah kita memberi karena rasa belas kasih dan turut prihatin dengan tulus atau kita memiliki maksud-maksud tersembunyi dibalik itu? Apakah kita memberi karena kita mengasihi sesama dan ingin mengalirkan kasih Tuhan kepada orang lain, atau kita ingin mendapatkan keuntungan, pujian, penghargaan dan berbagai agenda lainnya? Apa yang menjadi alasan kita dalam memberi akan menghasilkan perbedaan nyata dalam penilaian di mata Tuhan.

Orang-orang Farisi atau ahli-ahli taurat dan para pemimpin agama di masa Yesus adalah contoh terkenal mengenai kemunafikan. Mereka memang menyumbang, mereka berdoa, mereka rajin berpuasa, namun semua itu hanyalah bentuk etalase rohani agar mereka terlihat kudus dan mendapat simpati di mata rakyat. Tuhan Yesus mencela motivasi mereka yang munafik ini. “Tetapi celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu membayar persepuluhan dari selasih, inggu dan segala jenis sayuran, tetapi kamu mengabaikan keadilan dan kasih Allah. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan. Celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan suka menerima penghormatan di pasar.” (Lukas 11:42-43). Mereka membayar perpuluhan, tapi mereka pilih kasih dan tidak mencerminkan bentuk kasih Allah dalam perbuatan mereka. Mereka selalu duduk paling depan di rumah ibadat agar mendapat pujian dari orang. Ini perbuatan tercela yang tidak mendapat hasil apa-apa dari Tuhan. Tuhan tidak berkenan dengan pemberian atau perbuatan yang didasari motivasi untuk memegahkan diri, mencari popularitas, pamor dan keuntungan dari manusia lain. Dalam hal memberi, apa yang diajarkan Tuhan Yesus adalah seperti ini: “Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.” (Matius 6:2). Jangan tiru orang-orang Farisi yang suka menggembor-gemborkan pemberian dan ibadah mereka agar mendapat pujian orang. Tidak ada upah apapun yang disediakan Tuhan bagi orang-orang yang memiliki motivasi seperti ini, yang menjadikan pemberian mereka sebagai etalase rohani dengan berbagai tujuan selain karena Tuhan. Apa yang seharusnya kita lakukan ketika memberi adalah jelas: “Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu.” (ay 3). Dan, “hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” (ay 4). Inilah pemberian yang bernilai di mata Tuhan.

“Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu”. Perkataan ini diulang Yesus tiga kali seperti yang tertulis dalam Matius 6 untuk mengajarkan bagaimana kita harus melakukan tiga hal dalam ibadah kita, yaitu pemberian (ay 4), doa (ay 6) dan puasa (ay 18). Pemberian yang mendapat upah dari Tuhan adalah pemberian dalam ketulusan, dilakukan dengan hati yang murni, tanpa harus diketahui orang lain atau diumumkan. Tidak perlu orang lain melihatnya, karena Tuhan tahu dan akan memberkati apapun yang kita lakukan demi namaNya, termasuk perihal memberi ini. Karena itu penting bagi kita untuk cukup memberi dengan diam-diam, tidak pamer agar Tuhan berkenan dan menurunkan tanganNya memberkati kita. Jika tidak, sia-sialah semuanya. Meski yang diberikan besar nilainya sekalipun, tidak akan ada nilainya di mata Tuhan.

Pemazmur mengatakan “Mujur orang yang menaruh belas kasihan dan yang memberi pinjaman, yang melakukan urusannya dengan sewajarnya. Sebab ia takkan goyah untuk selama-lamanya; orang benar itu akan diingat selama-lamanya.” (Mazmur 112:5-6). Disamping itu kita pun harus ingat bahwa kita cukup memberi dengan keiklasan/kerelaan sesuai dengan kemampuan kita. Bukan besar kecilnya pemberian yang penting di mata Tuhan, tapi kerelaan dan ketulusan kita, itulah yang penting. “Sebab jika kamu rela untuk memberi, maka pemberianmu akan diterima, kalau pemberianmu itu berdasarkan apa yang ada padamu, bukan berdasarkan apa yang tidak ada padamu.” (2 Korintus 8:12).

Apa yang menjadi motivasi anda saat ini dalam memberi atau menolong orang yang membutuhkan? Apakah anda mengharapkan balasan? Apakah anda kecewa jika tidak mendapat ucapan terimakasih? Apakah anda mengharapkan pujian, penghormatan atau tepuk tangan dari mereka yang diberi atau orang-orang yang mengetahui pemberian anda? Atau anda akan sangat bahagia ketika bisa memberi, meski orang lain bahkan yang diberi sekalipun tidak tahu itu berasal dari pemberian anda? “Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima” (Kisah Para Rasul 20:35) , ini merupakan ajaran Tuhan Yesus yang akan dirasakan oleh orang-orang yang tulus tanpa pamrih dan tidak mengharapkan imbalan atau pujian ketika memberi. Sifat keinginan untuk dipuji, dikagumi, ingin terlihat lebih dari orang lain sesungguhnya adalah bagian dari kesombongan yang akan sangat berbahaya jika terus dibiarkan hidup dalam diri kita. Memberi itu sungguh baik, itu adalah sebuah perbuatan mulia yang sangat berkenan di mata Tuhan, namun lakukanlah itu dengan motivasi yang benar seperti apa yang diajarkan Yesus, agar semua itu bisa menjadi berkat bagi banyak orang dan juga bagi kita sendiri.

Kita tidak akan menerima upah dari Tuhan jika kita mencarinya dari manusia

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply