Memberi = Menyatakan Kasih

Ayat bacaan: 1 Yohanes 3:17
=====================
“Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?”

memberi, menyatakan kasih

Pernahkah anda memperhatikan bagaimana kita mengatakan “thank you” dalam bahasa Indonesia? Ya, kita mengatakannya dengan “terima kasih”. Hari ini saya mencoba merenungkan benar kata ini. Saya tidak mendalami ilmu bahasa, sehingga saya tidak tahu dari mana asal kata “terima kasih” itu kita peroleh. Tetapi sesungguhnya ini adalah kata yang sangat tepat dalam merespon sebuah pemberian, yang sesuai dengan Firman Tuhan. Terima kasih sepertinya menunjukkan ungkapan apresiasi dengan menerima kasih yang berasal dari orang lain. Dan jawaban “kembali” itu menunjukkan penghargaan kembali kepada orang yang menyatakan terima kasih. Disini kita bisa melihat kasih yang saling berbagi diantara yang memberi dan yang menerima. Seandainya hal ini terjadi pada semua manusia di muka bumi ini, bayangkan betapa indahnya kehidupan semua manusia. Tidak ada perang, tidak ada kekerasan, tidak ada iri hati, egoisme dan sebagainya. Only love and nothing but love. Alangkah indahnya dunia yang seperti itu.

Ayat bacaan kita hari ini diambil dari kitab 1 Yohanes yang berbunyi: “Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?” (1 Yohanes 3:17). Memberi, itu jauh lebih bernilai ketimbang menerima. Firman Tuhan mengatakannya dengan: “…sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.” (Kisah Para Rasul 20:35). Dunia justru menunjukkan sebaliknya. Menerima sebanyak-banyaknya, memberi sesedikit mungkin. Atau memberi jika ada agenda dibaliknya, atau dalam peribahasa dikatakan “Ada udang dibalik batu.” Dunia terus mempertontonkan hal itu secara terang-terangan. Para pejabat mendadak berubah menjadi sinterklas dengan membagi-bagikan sembako, kaos atau “amplop” ketika mereka sedang bertarung untuk mendapatkan sebuah kedudukan, kemudian tiba-tiba berubah lupa dan tidak peduli ketika mereka sudah memperolehnya. Berbagai bingkisan bisa menumpuk ketika seseorang berada di atas, lalu tidak ada lagi yang ingat ketika mereka sudah turun dari singgasananya. Orang bisa berubah ramah ketika ada perlu, kemudian tidak menoleh lagi setelahnya. Hal-hal seperti ini bukanlah pemandangan langka lagi di sekitar kita hari ini. Di sisi lain, ada banyak pula orang yang tidak berbelas kasih untuk membantu orang lain, bahkan temannya sendiri meski mereka sebenarnya sanggup untuk itu. Takut tidak dikembalikan, curiga alasan bohong, tidak mau repot dan sebagainya kerap menjadi alasan dalam hal ini.

Dari Firman Tuhan lewat Yohanes kita bisa membaca bahwa semua itu bukanlah gaya hidup anak-anakNya seperti yang dikehendaki Tuhan. Apa yang diinginkan Tuhan adalah kerelaan hati lewat belas kasihan yang digerakkan oleh satu hal, yaitu kasih. Perhatikanlah, bukankah segala sesuatu yang kita beri dengan kerelaan hati, yang bermanfaat bagi orang dan tidak bertentangan dengan Firman Tuhan sesungguhnya memiliki satu pesan yang sama yang bersifat universal, yaitu kasih? Kekuatan kasih itu sungguh besar. Begitu besarnya, adalah kasih yang satu-satunya mampu menggerakkan Tuhan untuk mengorbankan AnakNya yang tunggal sekalipun demi menyelamatkan kita seperti yang bisa kita baca dalam ayat emas Yohanes 3:16. Kembali kepada ayat bacaan hari ini, kita bisa melihat inti dari sebuah belas kasih sesungguhnya berasal dari kasih Allah yang terdapat dalam diri kita. Jika kita menutup mata terhadap penderitaan saudara-saudara kita, sementara ada sesuatu yang bisa kita berikan untuk meringankan beban mereka, itu artinya kita tidak memiliki kasih. Dan bagaimana mungkin kita bisa mengaku bahwa kita mengenal Allah dan memiliki kasihNya dalam diri kita? Sebab Firman Tuhan juga berkata: “Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.” (1 Yohanes 4:8).

Ayat sebelum ayat bacaan hari ini berbunyi demikian: “Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kitapun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita.” (1 Yohanes 3:16). Seperti halnya Kristus mengasihi kita, Dia rela menyerahkan nyawaNya sekalipun bagi kita. Karena itu kita pun dikatakan wajib melakukan hal yang sama. Ini berkaitan dengan pesan Yesus: “Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu.” (Yohanes 15:12-14). Kita diminta untuk mengasihi seperti halnya Kristus mengasihi kita. Jika Dia rela menyerahkan nyawaNya sendiri demi kita, seperti yang telah dilakukanNya, maka artinya kita pun harus siap melakukan hal yang sama pula. Jika besaran kasih yang sesungguhnya sampai sedemikian tinggi, mengapa untuk sekedar menolong meringankan beban saudara-saudara kita saja kita masih sulit? Seringkali sebuah pemberian kita konotasikan dengan uang, benda atau harta dalam jumlah besar, dan kita mungkin merasa belum cukup untuk bisa melakukannya. Padahal pemberian itu tidaklah harus berupa sesuatu yang mahal. Pemberian bisa dalam wujud banyak hal. Meluangkan waktu bagi mereka, menjadi sahabat yang mau mendengar keluh kesah mereka, memberi perhatian dan kepedulian, being there when they need us, bahkan sebuah senyuman tulus sekalipun, itu bisa menjadi sesuatu yang sangat berharga bagi yang berbeban berat. Itupun merupakan sebuah pemberian yang sama sekali tidak membutuhkan uang.

Intinya adalah memiliki kepekaan terhadap penderitaan saudara-saudara kita dan melihat apa yang bisa kita berikan kepada mereka atas dasar kasih, itulah yang menunjukkan seberapa besar kasih Allah itu ada dalam diri kita, dan sejauh mana kita menghargai kasih yang telah Dia alirkan kepada kita. Setiap pemberian haruslah berdasarkan kasih, itu kata Firman Tuhan yang harus kita ingat baik-baik. Bukan atas dasar pamrih, maksud-maksud tersembunyi dan sebagainya. Dan ingat pula bahwa setiap orang yang mengasihi seharusnya memiliki kerelaan pula untuk memberi. Karenanya Yohanes pun menghimbau: “Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.” (1 Yohanes 3:18). Jangan cuma terbatas dengan ucapan saja, tetapi aplikasikanlah secara nyata lewat perbuatan-perbuatan dalam kebenaran. Sudahkah kita memberikan sesuatu bagi saudara-saudara yang kita kasihi hari ini? Tanpa itu, kita tidak berhak mengaku bahwa kita memiliki kasih Allah dalam diri kita.

Memberi artinya menyatakan kasih kepada saudara-saudara kita

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.