Memberi Atas Dasar Kasih

Ayat bacaan: Matius 5:42
=====================
“Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu.”

memberi dengan kasih, menolong sesama

Hari ini saya mengalami sebuah sukacita yang rasanya luar biasa. Bukan karena saya menerima sesuatu yang mewah, bukan karena hadiah, sejumlah uang dan lain-lain, tapi ketika saya memberi. Ada seorang teman dekat saya, yang selama beberapa waktu ini mengalami kesulitan keuangan. Tadi sore ia menelepon saya, dan bertanya apakah saya bisa memberikan sejumlah uang kepadanya, karena ia sudah tidak punya sepeserpun di kantongnya. Uang gajinya habis tersita untuk membayar kredit motor yang sudah berjalan dua tahun lebih. Itupun belum mencukupi, sehingga ia tengah menghadapi ancaman motornya ditarik kembali. Sementara untuk makan pun ia bingung, karena itu tadi, tidak ada uang sedikitpun lagi di kantongnya. Menghadapi permintaan seperti itu secara tiba-tiba, saya sempat bingung sejenak bagaimana harus menanggapinya, karena saya pun tidak berkelebihan. Namun Tuhan seolah-olah menunjuk muka saya, dan saya langsung menjawab, ya, saya akan bantu. Untuk ukuran kemampuan finansial saya ukuran uang yang saya berikan tidaklah sedikit, namun hal itu sangat membahagiakannya, hingga saya bisa merasakan betapa lega dirinya setelah mendengar saya mau menolong. Apa yang saya rasa dalam hati saya? Damai sukacita luar biasa. Saya tidak berpikir sama sekali mengenai uang yang keluar, karena arus sukacita yang mengalir dalam hati saya membuat saya bahagia. Amat sangat bahagia.

Seringkali kita menetapkan standar-standar yang berbeda dalam hidup. Ketika kita “hang out” bersama teman-teman, kita tidak memikirkan uang yang terpakai. Kita makan di restoran, kita duduk di cafe, dan sebagainya, semua itu “fun-fun” saja. Namun ketika ada pengemis yang meminta-minta, seribu rupiah pun terkadang begitu sulitnya untuk keluar dari kantong. Sometimes, hundreds of thousands could go easily for nothing, but in other time, a little penny that could make a difference would be so hard to let go. Ya, kita memang sudah bekerja mati-matian, dan wajar jika kita memakai sebagian dari pendapatan kita untuk hiburan. Tidak ada yang salah dengan itu. Namun ingatlah bahwa di sisi lain ada banyak saudara-saudara kita yang makan saja sulit. Mengapa kita sulit untuk menyisihkan sebagian dari pendapatan kita untuk membantu mereka, menampilkan senyum di wajah mereka, yang mungkin sudah lama tidak lagi muncul menghiasi wajahnya?

Yesus mengajarkan bagaimana kita harus bersikap. “Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu.” (Matius 5:42). Menjadi terang dan garam bukan hanya berarti sempit, hanya menginjili semata misalnya, tapi itu akan terlihat dari ketulusan kita untuk membantu orang-orang yang sedang kesulitan. Jika Yesus masih ada di dunia saat ini pun, saya yakin Dia akan dengan senang hati menjamah mereka. Mengapa kita, duta-duta Surgawi, terkadang belum bisa menjadi perantara yang baik dengan memberikan empati, peduli kepada mereka atas dasar kasih? Menjadi lentera di kegelapan bisa hadir dalam banyak bentuk. Bisa lewat memberi bantuan, bisa lewat memberi perhatian, kepedulian, bahkan secuil senyum sekalipun, bisa menjadi cahaya yang berharga bagi orang yang tengah kesulitan. Paulus berpesan pada Timotius agar mengingatkan mereka yang hidup berkelimpahan untuk mau berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan dan suka memberi dan membagi. (1 Timotius 6:17). Jangan pernah jemu untuk memberi atas dasar kasih, karena satu dari perintah yang utama adalah bagi kita untuk mengasihi sesama seperti diri kita sendiri (Matius 22:39), bahkan lebih dari itu, kita harus mengasihi sesama sebagaimana Yesus telah mengasihi kita. (Yohanes 13:14, 15:12). Apapun yang kita lakukan bagi mereka yang membutuhkan, atau bahkan tertolak dan tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini, itu semua besar artinya bagi Yesus, sama artinya dengan melakukannya untuk Yesus. (Matius 25:40).

Satu hal yang penting untuk diingat adalah kita harus memberi atas dasar kasih. Paulus berkata: “Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku.” (1 Korintus 13:3). Sia-sialah semuanya jika kita memberi karena pamrih, bukan karena ingin meringankan beban mereka, karena kita mengasihi mereka, sebagaimana Yesus telah mengasihi kita. Dalam perumpamaan tentang persembahan janda miskin, Yesus memberi contoh mengenai betapa nyata perbedaannya ketika sebuah pemberian didasarkan pada kasih, dan bukan dilihat dari besar kecilnya jumlah pemberian. (Markus 12:41-44). Sudahkah anda menyisihkan sebagian dari pendapatan anda untuk menolong sesama atas dasar kasih? Puji Tuhan jika sudah. Bagi yang belum, mari rasakan sebuah kebahagiaan yang berbeda, penuh dengan damai sukacita, karena pada akhirnya, anda pun akan sampai pada kesimpulan: “Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.” (Kisah Para Rasul 20:35b).

Memberilah dengan kasih, dan rasakan damai sukacita luar biasa karenanya

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply