Membekali Anak

Ayat bacaan: Mazmur 127:3
=========================
“Sesungguhnya, anak-anak lelaki adalah milik pusaka dari pada TUHAN, dan buah kandungan adalah suatu upah.”

membekali anak

Kemarin pagi saya melihat seorang tukang yang sedang merenovasi rumah tetangga saya. Karena si tukang itu tinggal tidak jauh dari rumah yang ia kerjakan, kedua anaknya yang masih balita pun turut bermain di sana. Ketika sang ayah sedang bekerja, anak laki-lakinya terpeleset dan jatuh di atas gundukan tanah. Ia tidak luka, namun kekagetannya dan butir-butir pasir yang ia timpa mungkin agak terasa menyakitkan. Ia pun menangis sejadi-jadinya. Melihat anaknya jatuh, si ayah pun datang menghampiri dengan tenang sambil tersenyum. Ia berkata, “jatuh ya? ayo bangun lagi.. jatuh itu biasa, nggak apa-apa.” sambil membersihkan lutut dan tangan anaknya dari pasir-pasir yang melengket. Kejadian itu tepat di depan mata saya. Dan saya pun tersenyum, karena sadar atau tidak, si ayah sudah memberi suatu bekal berharga bagi anaknya kelak.

Ada banyak orang tua yang bereaksi berbeda ketika melihat hal yang sama terjadi pada anaknya. Ada yang langsung memarahi anaknya habis-habisan. Bayangkan sudah sakit, malah dibentak atau dipukul. Ada pula yang mencari kambing hitam. “Siapa yang membuat kamu jatuh? Dia? si A? si B? ” atau ada pula yang menyalahkan pasir, batu dan sebagainya. Mungkin orang tuanya kesal karena urusannya bertambah jika anaknya jatuh, ada pula yang menganggap anaknya merepotkan mereka. Ini bukanlah reaksi yang baik dari orang tua, karena si anak tidak akan belajar dari ketidakhati-hatian mereka, dan akan terus berusaha menyalahkan orang lain sepanjang hidupnya. Ada banyak contoh seperti ini yang saya lihat sendiri, oleh karena itu adalah sangat penting bagi orang tua untuk membekali anaknya dengan petuah yang benar.

Sebuah bagian nyanyian Salomo yang tertulis dalam Mazmur memberi gambaran mengenai pentingnya membekali anak sejak dini. “Sesungguhnya, anak-anak lelaki adalah milik pusaka dari pada TUHAN, dan buah kandungan adalah suatu upah.” (Mazmur 127:3). Dalam bahasa Inggrisnya kata “anak-anak lelaki” ini disebutkan sebagai “children”, berarti termasuk pula anak-anak perempuan di dalamnya. Anak adalah titipan Tuhan. Anak adalah sebuah anugerah dari Tuhan. Layaknya menerima anugerah dari Tuhan, sudah sepantasnya pula kita bertanggungjawab dan menghargainya dengan mengajarkan anak-anak kita sejak kecil mengenai hikmat-hikmat yang akan sangat berguna bagi kehidupan mereka kelak di kemudian hari. Salomo melanjutkan dengan sebuah perumpamaan yang sangat mengena: “Seperti anak-anak panah di tangan pahlawan, demikianlah anak-anak pada masa muda.” (ay 4). Jika anak-anak kita diibaratkan seperti anak-anak panah, maka orang tua diibaratkan sebagai pahlawan yang siap menembakkan anak-anak panah ini ke tempat yang tepat. Kemana para orang tua mengarahkan anaknya, kesanalah si anak akan menuju. Artinya, masa depan seorang anak akan sangat tergantung kepada orang tuanya. Dan Salomo pun menutup dengan “Berbahagialah orang yang telah membuat penuh tabung panahnya dengan semuanya itu. Ia tidak akan mendapat malu, apabila ia berbicara dengan musuh-musuh di pintu gerbang.” (ay 5). Kata berbahagia ini dalam bahasa Inggrisnya dikatakan “happy, blessed and fortunate”. Buah dari jerih payah mendidik anak, yang mungkin menyita waktu, tenaga dan pikiran sedemikian lama, akan dipetik oleh para orang tua bijaksana di kemudian hari.

Mendidik mereka dengan hikmat itu penting. Budi pekerti, tata krama, sopan santun, itu penting. Mendidik mereka agar tidak mudah menyerah, itu pun sama. Jangan lupa pula untuk mengajarkan mereka mengenai kebenaran firman Tuhan sedini mungkin. Jangan pernah lelah untuk melakukan itu. Firman Tuhan berkata “haruslah engkau mengajarkannya (perintah-perintah Tuhan) berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.” (Ulangan 6:7). Ini berbicara mengenai pentingnya menanamkan kebenaran tanpa pernah jemu atau lelah kepada anak-anak kita. Sebuah contoh menarik akan keberhasilan mendidik anak bisa kita lihat dari sosok bernama Timotius. Lihatlah betapa indahnya untaian kata yang diucapkan Paulus kepada Timotius ini. “Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu.” (2 Timotius 1:5). Dari nenek turun ke ibu, lalu turun ke Timotius. Itulah yang membentuk Timotius menjadi pribadi yang istimewa sehingga ia dipakai Tuhan dalam usia mudanya. Membekali mereka dengan kebenaran firman Tuhan, memperkenalkan kasih Kristus kepada mereka sejak muda, akan membentuk mereka menjadi pribadi-pribadi yang luar biasa kelak.

Anak merupakan titipan dan anugerah dari Tuhan. Jika anugerah ini ada pada diri anda hari ini, syukuri dan hargailah itu dengan membentuk mereka secara baik dan benar. Jangan buang waktu, karena akan ada masa dimana sudah sulit bagi anda untuk membentuk mereka. Jadilah pahlawan-pahlawan yang mampu mengarahkan anak-anak panah ke tempat yang tepat. Kelak pada suatu hari anda akan berbahagia karenanya.

Anak adalah anugerah Tuhan yang sangat berharga, jangan pernah sia-siakan

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: