Membatasi Kemarahan

Ayat bacaan: Efesus 4:26-27
=====================
“Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis.”

Masa lalu saya adalah masa lalu yang emosional. Dulu saya termasuk orang bertempramen tinggi. Sedikit saja tersinggung, ditambah suasana hati yang sedang tidak stabil, emosi saya bisa meledak begitu saja tanpa terkendali. Dan semakin lama emosi itu berada pada satu situasi, semakin besar pula api emosi itu membakar diri saya. Pada saat itu, saya menjadi budak amarah. Tidak jarang saya menyatakan pembenaran atas sifat itu. “Daripada dipendam dan bikin penyakit, lebih baik dimuntahkan habis-habisan biar selesai!” Selesaikah? lucunya tidak. Tapi pembenaran itu terus saya ucapkan. Untunglah belum pernah terjadi apa-apa yang bisa menyebabkan saya menyesal seumur hidup dengan emosi itu. Hal yang saya ingat adalah, setelah kobaran emosi itu mulai reda, yang saya rasakan adalah rasa lelah luar biasa. Untunglah setelah saya lahir baru, sifat buruk itu secara bertahap berkurang. Puji Tuhan yang telah memberi rasa sukacita lewat kasihNya, sifat pemarah itu sudah sangat banyak terkikis.

Marah adalah sebuah bagian dari jiwa manusia, sehingga rasanya tidak ada orang yang tidak pernah marah. Jadi wajar jika pada satu titik tertentu orang bisa marah. Dan dalam kondisi-kondisi tertentu marah justru dibutuhkan. Marah memang sebuah kasus yang rumit. Ada orang seperti saya dulu yang sangat gampang meledak. Ada orang yang menyimpan terus emosinya, dan akhirnya berakar menjadi kepahitan. Marah pun bisa menjadi awal dari serangkaian tindakan bodoh yang bisa merugikan orang lain dan diri sendiri. Maka marah tanpa berbuat dosa menjadi sangat sulit. Kita sudah berulang kali membaca di koran-koran bagaimana orang bisa membuat tindakan fatal seperti membunuh atau bunuh diri karena terbakar amarah. Kita juga menyaksikan banyak di sekitar kita yang terkena serangan jantung atau penyakit lainnya karena gampang emosi.

Paulus memberikan ajaran yang sangat bagus mengenai amarah. Kalau pun kita harus marah, janganlah marah itu masih berlanjut setelah matahari terbenam. Maksudnya disini adalah agar kita tidak menyimpan rasa marah itu terlalu lama. Rasa marah yang terpendam lama dapat menyebabkan kata-kata yang keluar tidak terkendali sehingga menyakitkan, bahkan berubah menjadi kebencian dan dendam yang bisa fatal akibatnya. Sangat penting untuk membatasi marah supaya jangan menjadi celah bagi iblis untuk mempengaruhi kita agar berbuat dosa. Kita harus mampu membatasi amarah agar fokus pada kesalahan, dengan tujuan untuk memperbaiki, dan bukan untuk menyiksa atau memuaskan nafsu kita.

Betapa indahnya langit ketika matahari terbenam, jangan sampai keindahan itu hilang karena kemarahan yang tidak kunjung reda. Mari kita semua belajar bagaimana mengungkapkan rasa marah dengan tepat, tanpa memberi ruang sedikitpun bagi iblis untuk mempengaruhi kita.

Bukan marah yang salah, tapi reaksi kita dalam mengekspresikan kemarahan lah yang harus diperhatikan

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Comment