Membangun Sikap Positif

Ayat bacaan: Bilangan 13:27
=====================
“Mereka menceritakan kepadanya: “Kami sudah masuk ke negeri, ke mana kausuruh kami, dan memang negeri itu berlimpah-limpah susu dan madunya…”

membangun sikap positif berdasarkan iman teguh


Apa yang anda lihat dari gambar di sebelah kiri, gelas setengah kosong atau setengah penuh? Pertanyaan ini bisa dipakai sebagai sebuah tes kecil bagaimana sikap kita dalam memandang hidup. Orang yang punya pola pikir positif atau optimis akan melihatnya sebagai gelas yang setengah penuh, sebaliknya mereka yang pola pikirnya negatif atau pesimis akan melihatnya setengah kosong. Dalam sebuah gambar dengan kondisi yang sama, kesimpulan bisa berbeda, tergantung dari pola pikir yang mendasari diri seseorang.

Dalam sebuah kisah dalam kitab Bilangan, Musa mengutus 12 orang untuk mengintai tanah Kanaan, tanah yang dijanjikan Tuhan lewat Abraham (Kejadian 17:8). Hasil dari pengintaian mereka menyimpulkan hal yang sama: tanah yang dijanjikan Tuhan memang tanah yang makmur, berlimpah susu dan madunya. Sampai di sini kesimpulan yang diperoleh kedua belas pengintai adalah sama. Tapi selanjutnya terjadi perbedaan pendapat dengan persentase tidak sebanding. 10 orang berkata bahwa bangsa yang tinggal disana adalah raksasa-raksasa yang jauh lebih kuat, menjadikan bangsa Israel hanya seperti belalang kecilnya dibanding mereka. “There’s no chance..” itu kata 10 orang. Hanya Kaleb dan Yosua yang berpandangan beda dengan iman yang teguh pada Tuhan. Karena tanah itu adalah tanah yang dijanjikan Tuhan, maka ada penyertaan Tuhan yang akan membuat mereka PASTI (bukan mungkin atau mudah-mudahan) mampu menduduki tanah terjanji itu. Dua belas pasang mata mengarah pada satu tempat yang sama selama 40 hari, kesimpulan akhir yang didapat berbeda. Sayangnya suara terbanyak yang pesimis lah yang akhirnya didengar. Akibatnya adalah sebuah keputusan yang fatal: mereka harus berputar-putar di padang gurun selama 40 tahun sebelum akhirnya bisa memasuki Kanaan. Sebuah fakta lain, diantara orang-orang yang ketika itu sudah dewasa sebelum mengalami 40 tahun di padang gurun, hanya Yosua dan Kaleb lah yang akhirnya mampu memasuki tanah Kanaan. Jika kita fokus pada Kaleb, kita melihat bahwa Kaleb mempunyai sikap positif dengan dasar iman teguh yang percaya sepenuhnya pada Tuhan. Ketika ia diutus untuk mengintai ia masih berusia 40 tahun. 45 tahun berikutnya, ketika usianya telah menginjak 85 tahun ia masih tetap bersikap sama, tetap percaya penuh pada Tuhan. Pada usia 85 tahun dia masih siap dengan semangat tinggi untuk menduduki Hebron yang banyak raksasanya. 40 tahun berada di padang gurun tidak sedikitpun meruntuhkan imannya. Kaleb memiliki mental seorang pemenang, penuh sikap positif karena imannya sangat kokoh. “Jadi sekarang, sesungguhnya TUHAN telah memelihara hidupku, seperti yang dijanjikan-Nya. Kini sudah empat puluh lima tahun lamanya, sejak diucapkan TUHAN firman itu kepada Musa, dan selama itu orang Israel mengembara di padang gurun. Jadi sekarang, telah berumur delapan puluh lima tahun aku hari ini;pada waktu ini aku masih sama kuat seperti pada waktu aku disuruh Musa; seperti kekuatanku pada waktu itu demikianlah kekuatanku sekarang untuk berperang dan untuk keluar masuk.” (Yosua 14:10-11)

Kita tentu sudah sering mendengar janji-janji Tuhan mengenai hidup yang kekal, perlindungan dari bahaya, kelepasan dari kesesakan dan lain-lain. Semua itu tidaklah asing bagi kita. Tapi seberapa banyak diantara kita yang bisa bersikap seperti Kaleb? Apakah kita mampu selalu menghadapi setiap permasalahan dengan sikap positif, mempercayai semua janji Tuhan secara penuh seperti halnya Kaleb atau kita masih lebih banyak bersikap pesimis dan hidup penuh ketidakpastian? Lihatlah bahwa pandangan pesimis dari 10 orang pengintai bukan saja berakibat hanya pada mereka, tapi juga berdampak pada konsekuensi yang harus ditanggung seluruh bangsa Israel. Belajarlah dari sikap positif Kaleb karena sikap tersebut akan memberikan perbedaan yang signifikan bukan saja kepada diri sendiri, tapi juga pada orang lain.Mari kita belajar memandang gelas di atas sebagai gelas yang setengah penuh, bukan setengah kosong.

Iman yang teguh membangun sikap positif yang menyehatkan

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply