Renungan Harian

Kumpulan Renungan Iman Kristiani

Renungan Harian - Kumpulan Renungan Iman Kristiani

Membangun Kehidupan di Atas Dasar yang Kokoh

Ayat bacaan: Matius 7:25
=====================
“Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.”

tiga babi dan serigala jahat, membangun kehidupan di atas dasar yang kokoh

Masih ingat dengan salah satu kartun Walt Disney yang terkenal tentang tiga ekor babi? Lagunya sangat terkenal, berjudul “Who’s Afraid of the Big Bad Wolf?”. Kisahnya menceritakan tiga ekor babi yang harus membangun tempat perlindungan paling aman dari ancaman serigala jahat. Mereka sama-sama membangun rumah, dengan cara dan dasar yang berbeda. Yang satu membangunnya dari jerami, yang satu dari kayu, sedang saudaranya satu lagi membangun dengan batu bata dan semen. Yang membangun dengan jerami dan kayu tentu pekerjaannya lebih cepat selesai sehingga mereka sempat menertawakan saudara tertuanya yang masih tekun menumpuk batu bata demi batu bata dan menyatukannya dengan semen. Tapi si abang tertua tetap tekun membangunnya. Pada satu ketika, serigala jahat pun datang. Rumah dari tumpukan jerami dengan mudah diluluh lantakkan dengan sekali hembus, dan kaburlah si adik terkecil dengan ketakutan. Ia lari berlindung di rumah kakaknya yang dibangun dari kayu. Rumah itu pun dengan mudah dirobohkan oleh si serigala jahat. Seketika mereka berdua berhamburan ketakutan, dan lari ke rumah abang tertuanya. Di sana mereka aman dari kejaran serigala jahat karena sang serigala tidak mampu merubuhkan rumah yang kokoh dibangun di atas dasar kuat.

Seperti halnya tiga babi kecil, demikianlah kita dalam kehidupan harus senantiasa mewaspadai iblis yang terus mengaum-aum mencari mangsa. (1 Petrus 5:8). Untuk itu, dasar yang kita pilih untuk menghindari serangan iblis itu menjadi sangat penting. Apa yang harus kita lakukan? Apakah cukup dengan rajin mendengar firman Tuhan? Alkitab berkata tidak cukup. Yesus mengingatkan kita bahwa sekedar mendengar tidaklah cukup untuk membuat kita aman dari hal itu. Ada banyak di antara kita yang sejak lahir sudah dengan setia beribadah ke Gereja, rajin mendengar kotbah, kerap mengunjungi kebaktian-kebaktian rohani, membaca buku-buku rohani, namun ternyata mereka masih belum menunjukkan pribadi yang sesuai dengan apa yang telah bertahun-tahun mereka pelajari dan dengar. Perumpamaan singkat mengenai “Dua Macam Dasar” yang diajarkan oleh Yesus sendiri menggambarkan hal ini dengan jelas.

“Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya.” (Matius 7:24-27).

Kita lihat kedua orang yang membangun rumah ini adalah orang yang sama-sama mendengar perkataan Yesus. Artinya keduanya adalah orang yang sudah menerima Yesus. Tapi ada perbedaan nyata di antara keduanya. Keduanya sama-sama mendengar, namun hanya satu yang mempraktekkannya dalam hidup, sementara yang satu berhenti pada mendengar saja. Akibatnya, ketika hujan dan banjir masalah datang, si orang bijaksana yang melakukan apa yang telah ia dengar tidak tergoncang dan tidak rubuh karena didirikan di atas batu yang kokoh. Sedangkan orang yang bodoh, yang mendirikan kehidupannya di atas pasir, hidupnya akan rubuh dan porak poranda. Perumpamaan sederhana yang sangat singkat ini merupakan penutup dari rangkaian kotbah Yesus di atas bukit. Memang singkat, namun maknanya sungguh dalam sehingga patut kita cermati baik-baik dalam proses perjalanan kehidupan kita di dunia ini.

Yesus mengingatkan bahwa apa yang telah Dia katakan, Dia ajarkan, Dia firmankan hendaklah tidak berhenti hanya pada sebatas mendengar saja, melainkan justru harus dilanjutkan dengan melakukannya, mempraktekkannya dalam hidup sehari-hari. Yakobus pun mengingatkan agar kita menjadi para pelaku firman. “Sebab itu buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu. Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri…Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya.” (Yakobus 1:21-25). Sebuah kehidupan yang kokoh haruslah diletakkan di atas dasar Yesus Kristus, sang Batu Penjuru. (Efesus 2:20). Selanjutnya mari kita lihat ayat berikut: “Karena tidak ada seorangpun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus.” (1 Korintus 3:11). Kehidupan yang dibangun dasar iman kuat dalam Kristus akan kokoh dari segala situasi. Untuk mencapai itu, kita harus melakukan lebih dari sekedar pendengar yang baik. Kita harus menjadi pelaku firman, menerapkan segala firman Tuhan dalam kehidupan kita sehari-hari.

Dengan membangun di atas dasar Kristus, kita tidak akan gampang goyah ketika angin ribut, badai hujan dan banjir datang menghampiri kita. Kita akan tetap kuat, tetap penuh oleh ucapan syukur, karena kita bukan hanya mendengar, tapi sudah melakukannya dalam kehidupan kita. Pemahaman akan firman Tuhan, rajin beribadah, rajin mendengar kotbah, rajin membaca buku-buku rohani, rajin membaca Alkitab, semua itu adalah sungguh baik, namun tidaklah cukup untuk menghasilkan sebuah kedewasaan rohani dan pertumbuhan iman yang baik. Semua itu juga tidak akan cukup untuk mengatasi berbagai persoalan, kecuali dengan mempraktekkan dan menerapkannya dalam kehidupan kita sehari-hari. Hidup kita bukanlah ditentukan oleh pengalaman, kekayaan, pendidikan, status dan sebagainya, melainkan oleh di atas dasar apa kita membangunnya.

Jangan berhenti jadi pendengar, jadilah pelaku Firman

Incoming search terms:

0saves
If you enjoyed this post, please consider leaving a comment or subscribing to the RSS feed to have future articles delivered to your feed reader.
Category: Renungan Pagi

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*