Membangun Kebersamaan dalam Komunitas (2)

(sambungan)Seperti yang saya sampaikan kemarin, ada beberapa ayat yang sangat mendukung pentingnya membangun hubungan dalam sebuah perkumpulan atau komunitas alias berfellowship. Ada baikinya kita lihat kembali ayat-ayat tersebut. “Dan marilah kita sal…

(sambungan)

Seperti yang saya sampaikan kemarin, ada beberapa ayat yang sangat mendukung pentingnya membangun hubungan dalam sebuah perkumpulan atau komunitas alias berfellowship. Ada baikinya kita lihat kembali ayat-ayat tersebut. “Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik.” (Ibrani 10:24) Saling memperhatikan, saling mendorong, yang dilakukan dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. Karena itulah kita diingatkan agar tidak menjauh dari pertemuan-pertemuan dimana kita bisa saling mengisi dan menguatkan lewat firman Tuhan, saling mengingatkan akan janji-janji Tuhan termasuk apa yang harus kita lakukan untuk menuainya. Ayat selanjutnya berbunyi: “Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.” (ay 25).

Cara hidup jemaat mula-mula yang dicatat dalam Kisah Para Rasul 2:41-47 menjadi contoh yang sangat baik akan hal ini. Kita bisa belajar dari mereka pada waktu itu yang berada pada jaman represif dengan kondisi yang bisa membahayakan nyawa setiap saat. Meski demikian, pertumbuhannya ternyata sangat pesat. Berbondong-bondong orang menerima perkataan Petrus dan menyerahkan diri untuk dibaptis. Dalam sehari saja jumlahnya mencapai 3000 orang. Jumlah yang banyak ini ternyata sanggup mengadopsi sepenuhnya prinsip kebersamaan dalam persekutuan yang manis dan erat. “Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing. Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.” (ay 44-47).

Jemaat mula-mula melakukan tepat seperti itu. Mereka:
– berkumpul tiap-tiap hari
– hidup bertekun dalam kebersamaan yang sehati
– saling berbagi dan menganggap kepunyaan pribadi sebagai milik bersama
– mereka merotasi tempat berkumpul secara bergiliran
– bersama-sama dengan hati bersukacita memuji Tuhan

Ini adalah sebuah contoh yang sangat baik tentang kehidupan persekutuan yang indah. Tidaklah heran kalau dikatakan bahwa mereka disukai semua orang. Dan Tuhan pun lalu menambahkan mereka dengan jiwa-jiwa baru lagi. Lihatlah bahwa persekutuan yang erat dalam komunitas yang didasari kasih dan kebersamaan sehati ternyata bukan saja mampu mendatangkan damai sejahtera dan sukacita dengan pertumbuhan iman, tetapi juga sanggup mendatangkan keselamatan bagi banyak orang lainnya. Semua ini akan sulit dicapai kalau hanya sendirian saja.

Memperluas Kerajaan Allah dan menyatakan kemuliaanNya di muka bumi tidak bisa dilakukan sendirian. Tuhan telah mengaruniai talenta atau bakat-bakat tersendiri kepada setiap anakNya yang akan bisa menjadi sesuatu yang luar biasa jika dihubungkan dengan orang-orang lain yang memiliki talenta berbeda untuk mencapai tujuan yang sama, berjalan ke arah yang sama. Talenta-talenta itu tidak akan pernah bisa dipakai maksimal apabila kita hanya berjuang sendirian. Paulus telah mengingatkan hal tersebut dalam surat Roma. “Sebab sama seperti pada satu tubuh kita mempunyai banyak anggota, tetapi tidak semua anggota itu mempunyai tugas yang sama, demikian juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus; tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain. Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita..” (Roma 12:4-6). Dan ingatlah bahwa kita semua adalah anggota-anggota tubuh dengan Kristus sendiri sebagai Kepala (Efesus 4:15), “Dari pada-Nyalah seluruh tubuh, –yang rapih tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota–menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih.” (ay 16).

Menghadapi hari-hari yang sulit, kita perlu mengisinya dengan merenungkan firman Tuhan. Ada waktu-waktu dimana kita memang harus mengambil momen tenang, sepi, jauh dari keramaian agar bisa fokus masuk ke dalam hadirat Bapa. Tapi itu bukan berarti bahwa kita harus selalu melakukan sendirian. Berkumpul bersama-sama memuji Tuhan, membahas firmanNya, saling sharing dan menguatkan akan membuat kita tetap kuat dan bisa terus bertumbuh tak peduli apapun kondisi yang tengah kita alami. Kita harus akui bahwa kita adalah manusia yang terbatas dan punya kelemahan. Menjalani hidup tertutup dan sendirian tidak akan membawa manfaat bagi kita. Jangan biarkan kelemahan menggerogoti kita dan terus menjauhkan kita dari janji-janji Tuhan. Jangan biarkan kelemahan kita menghilangkan damai sukacita dalam diri kita. Oleh karena itu jangan abaikan kesempatan untuk saling berbagi dan menguatkan. Temukan atau bentuklah komunitas atau persekutuan yang sehat dan dinamis, bertumbuhlah bersama-sama di dalamnya. Selain agar kita bisa maju bersama-sama mengatasi kelemahan-kelemahan kita, temukanlah potensi-potensi yang telah diberikan Tuhan. Pergunakan dan kembangkanlah sehingga masing-masing potensi yang berbeda itu bisa bersatu menjadi sebuah kekuatan yang luar biasa.

“The smallest indivisible human unit is two people, not one; one is a fiction. From such nets of souls societies, the social world, human life springs.” – Tony Kushner

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply