Membangun Kebersamaan dalam Komunitas (1)

Ayat bacaan: Pengkotbah 4:12=================”Dan bilamana seorang dapat dialahkan, dua orang akan dapat bertahan. Tali tiga lembar tak mudah diputuskan.”Dahulu saya bukanlah orang yang mudah bersosialisasi. Saya cenderung menarik diri dari keramaian d…

Ayat bacaan: Pengkotbah 4:12
=================
“Dan bilamana seorang dapat dialahkan, dua orang akan dapat bertahan. Tali tiga lembar tak mudah diputuskan.”

Dahulu saya bukanlah orang yang mudah bersosialisasi. Saya cenderung menarik diri dari keramaian dan merasa lebih nyaman apabila berada sendirian di dalam kamar. Dunia yang aman bagi saya adalah sebuah ruangan berukuran kecil berbentuk kotak. Kalau keluar, saya mungkin akan bertemu orang lain dan terpaksa harus bertegur sapa. Itu buat saya tidak nyaman, kecuali orang-orang yang memang sudah saya kenal dekat dan sudah saya ‘ijinkan’ untuk masuk ke dalam zona nyaman saya. Kuper, begitu istilahnya dahulu yang saya kira tepat buat menggambarkan diri saya. Tapi lama kelamaan saya menyadari bahwa itu tidaklah baik, bahkan merugikan bagi kemajuan diri saya. No man is an island, saya tidak akan pernah bisa melakukan apa-apa kalau hanya sendirian. Dari situ saya mulai belajar, berusaha untuk bersosialisasi meski awalnya sulit. Perlahan saya mulai bisa lebih luwes, bisa lebih rileks dan kemudian terus menjadi lebih nyaman. Kotak comfort zone yang tadinya kecil pun bertambah besar. Hari ini saya membawa beberapa orang yang punya masalah sama untuk bisa mulai belajar bersosialisasi. Butuh waktu, butuh kesabaran, tetapi pada akhirnya semua orang harus mengakui bahwa kemampuan dan kemauan bersosialisasi ternyata jauh lebih bermanfaat ketimbang hidup sendiri menutup diri. Kalau tadinya orang-orang introvert seperti saya hanya diperangkap oleh pola pikir sendiri, mau mengurus apa-apa harus sendiri, menghadapi masalah juga sendiri saja, sekarang saya bawa mereka merasakan hangat dan bahagianya punya teman-teman yang mau saling bantu, atau bahkan sekedar having fun bareng. Itu jelas jauh lebih menyenangkan dibanding sendirian.

Sikap introvert yang berlebihan kalau terus dipelihara bisa merugikan. Cakrawala pemikiran akan tetap sempit, cenderung sulit menerima pandangan orang lain alias hanya merasa diri paling benar. Karena kelelahan menghadapi segalanya sendirian stres akan mudah menyerang. Maju menjadi sulit karena kekuatan manusia itu sesungguhnya terbatas. Kita tidak mungkin sanggup melakukan segalanya sendirian. Dan pada hakekatnya, manusia sesungguhnya diciptakan Tuhan bukan sebagai individu-individu yang eksklusif dan menyendiri melainkan sebagai mahluk sosial yang harus saling terhubung satu sama lain agar bisa maju dan bertumbuh. Sangatlah penting bagi kita untuk membangun hubungan dengan orang lain, tentunya hubungan positif dengan orang-orang yang benar yang bisa saling mendukung, mengingatkan atau kalau perlu saling menegur agar kita tidak terperangkap oleh kelemahan-kelemahan kita sendiri.

Firman Tuhan dalam banyak kesempatan mengingatkan kita agar tidak bersikap seperti itu. Misalnya ayat ini: “Berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka. Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya, tetapi wai orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkatnya…Dan bilamana seorang dapat dialahkan, dua orang akan dapat bertahan. Tali tiga lembar tak mudah diputuskan.” (Pengkotbah 4:9-10,12). Cobalah ambil satu batang lidi dan patahkan, itu akan sangat mudah. Tapi jika anda diminta untuk mematahkan seikat sapu lidi, itu akan sangat sulit. Tidak hanya dalam berbagai aspek kehidupan hal ini berlaku, tapi juga dalam hal kerohanian. Kita butuh membangun hubungan yang kokoh dengan orang lain yang akan sangat bermanfaat bagi kita, kelompok/komunitas atau sesama manusia secara umum. selain itu juga akan bermanfaat untuk menyatakan terang Allah dan memperluas KerajaanNya di muka bumi ini.

Dunia yang kita hidupi ini bukanlah tempat mudah. Cepat atau lambat kekuatan kita akan habis. Kita akan mengalami kelelahan baik secara fisik, jiwa maupun rohani. Berbagai titik lemah kita pun rawan untuk menjadi santapan empuk baik oleh si jahat. Disaat seperti itulah kita butuh dukungan dari teman-teman terutama yang seiman agar kita bisa tetap kuat. Kalaupun sudah sempat jatuh kita akan punya kekuatan untuk kembali bangkit dengan adanya dukungan teman-teman.

Jika demikian kita perlu berada dalam sebuah komunitas dan/atau persekutuan yang baik. Sebuah komunitas yang baik adalah kumpulan orang-orang yang memiliki tujuan yang sama, berjalan ke arah yang sama, mengalami pertumbuhan bersama-sama dan berisi orang-orang yang saling peduli satu sama lain dan tidak mementingkan diri sendiri serta diarahkan kepada tujuan-tujuan yang positif, baik dan membangun. Itulah yang ideal. Saling menasihati, memberi masukan, menegur jika perlu, dan saling mengulurkan tangan untuk membantu, itu akan membuat kita semua bisa bertumbuh dengan baik dan dapat kembali bangkit dari keterpurukan. Dikala kita butuh ada teman, dikala teman butuh ada kita. Bukankah itu yang bisa membuat kita mampu merasakan damai sejahtera?

(bersambung)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply