Saturday, 01 November 2014

Membangun Hubungan yang Saling Menguatkan

Ayat bacaan: Ibrani 10:24-25
======================
“Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.”

saling menguatkanCukupkah kekuatan kita untuk menghadapi berbagai masalah hidup sendirian? Mungkin untuk sementara kita bisa berkata cukup, tapi untuk jangka waktu lama tentunya akan sangat sulit jika kita hanya sendirian. Dan Tuhan pun tidak pernah menciptakan manusia sebagai mahluk-mahluk individualis. Tuhan menciptakan manusia sebagai mahluk sosial yang harus saling terhubung dan terintegrasi agar dapat terus berjalan ke arah yang lebih baik. Tuhan bahkan menyatakan bahwa tidaklah baik apabila manusia itu sendirian. “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja..” (Kejadian 2:18). Itu artinya manusia memang diciptakan sebagai mahluk sosial yang saling terkait dengan sesamanya. Kita adalah bagian integral dari masyarakat majemuk. Ada saat ketika kita akan tahu bahwa kita butuh orang lain untuk bisa bertahan hidup. Lingkungan yang sulit, dunia yang jahat dan sebagainya setiap saat akan membuat kita semakin lama semakin lemah. Disaat seperti itu kita butuh teman-teman yang sanggup menguatkan, meneguhkan, mengingatkan dan menolong.

Ada waktu kita butuh dikuatkan, sebaliknya ada saat ketika kita bisa menguatkan. Tidak ada manusia yang sempurna, 100% kuat dan sanggup mengatasi segalanya sendirian. Bayangkan jika kita tidak memiliki teman-teman bisa saling dukung dan saling menasehati, memberi masukan, mengingatkan, menegur apabila kita melenceng dari kebenaran Firman Tuhan. Tentu kita akan jauh lebih kuat menghadapi segala problema yang hadir dalam hidup kita. Kemarin kita sudah melihat bahwa Tuhan sanggup memberi mukjizat kekuatan tanpa tergantung oleh situasi dan kondisi kepada orang-orang yang menggantungkan kekuatannya ke dalam Tuhan (Mazmur 84:6,8). Bahkan Tuhan siap mengubah lembah air mata untuk menjadi tempat sukacita bagi orang-orang seperti ini. (ay 7). Sebagai manusia kita pun butuh orang-orang di dunia ini yang secara langsung bisa bertemu dengan kita dan memberi dukungan moril atau bantuan lainnya agar kita bisa tetap bertahan. Sebuah pertemuan-pertemuan ibadah dimana kita sama-sama bersatu menyembah Tuhan sungguh baik dijadikan awal untuk saling mengenal satu sama lain. Sangat disayangkan jika kitamenganggap beribadah itu hanyalah kewajiban atau rutinitas semata. Alangkah ruginya jika kita hanya datang, duduk, diam, dengar dan lalu pulang. Itu sama saja dengan melewatkan sebuah kesempatan untuk membina hubungan dengan saudara-saudara seiman. Tidak ada satupun orang yang sanggup bertumbuh sendirian. Inilah yang diingatkan oleh Paulus. “Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.” (Ibrani 10:24-25). Paulus sungguh menyadari bahwa kita akan lemah dan jatuh jika kita tidak saling memperhatikan dan saling mendorong satu sama lain. Pertemuan-pertemuan ibadah janganlah hanya berpusat pada diri sendiri tanpa peduli orang-orang yang mungkin duduk di sekitar anda. Semakin dekat hari kedatangan Tuhan, maka seharusnya semakin giat pula kita untuk membangun hubungan erat dengan saudara-saudari kita sehingga dalam keakraban itu kita bisa saling menasihati dan mengingatkan.

Berkali-kali Alkitab mengisyaratkan agar kita bekerjasama satu sama lain untuk mencapai satu tujuan. Lihatlah sebuah contoh ketika ada orang lumpuh yang ingin menjumpai Yesus di Kapernaum seperti yang tertulis dalam Lukas 2:1-12. Begitu banyak orang mengerumuni Yesus, sehingga tidak mungkin si lumpuh bisa menerobos kerumunan. Tapi akhirnya dia mampu bertemu Yesus dan disembuhkan. Bagaimana ia melakukan itu? Lihatlah bahwa ada empat orang temannya menggotongnya ke atas atap dan menurunkan dirinya yang terbaring di atas tilam dari atas atap. That’s a wonderful teamwork. Bayangkan jika seandainya si lumpuh tidak punya teman. Dia tidak akan sempat bertemu muka dengan Yesus dan mendapat mukjizat kesembuhan. Ada banyak lagi kisah-kisah dimana kita melihat pentingnya sebuah kebersamaan yang positif diantara kita. Ketika Yesus mengutus murid-muridNya untuk mewartakan kabar gembira pun kita melihat mereka diutus bukan untuk berjalan sendirian, tapi berdua-dua atau berpasang-pasangan. (Markus 6:7). Iman kita akan gampang merosot dan melemah jika kita menghadapi masalah demi masalah sendirian. Tapi dengan adanya teman-teman yang saling berbagi, kita akan mampu bertahan dan tetap kuat. Betapa pentingnya sebuah kebersamaan yang saling bantu dan saling mengingatkan apalagi ketika waktu kedatangan Yesus buat kedua kalinya sudah semakin dekat.

“Sebab sama seperti pada satu tubuh kita mempunyai banyak anggota, tetapi tidak semua anggota itu mempunyai tugas yang sama, demikian juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus; tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain. Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita..”
(Roma 12:4-6). Ini adalah nasihat penting agar kita tetap sadar bahwa kita adalah bagian dari tubuh Kristus yang merupakan bagian integral yang tidak terpisahkan dari saudara-saudara seiman lainnya. Selain itu Tuhan juga mengingatkan bahwa kita harus saling mengasihi, karena Tuhan sendiri begitu mengasihi kita. (1 Yohanes 4:11). Kepedulian adalah merupakan bagian dari kasih yang seharusnya memenuhi hati orang percaya. Beban yang ditanggung manusia sesungguhnya tidak ringan dan lama kelamaan mampu membuat iman kita memudar. Orang bisa hilang pengharapan jika didera masalah terus menerus. Karena itu kita diwajibkan untuk saling tolong menolong, dan dengan demikian dikatakan itu artinya kita memenuhi perintah Yesus. “Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.” (Galatia 6:2). Jalin hubungan dengan anggota-anggota tubuh Kristus lainnya dalam persekutuan-persekutuan, baik di Gereja, di kantor, di sekolah, di lingkungan dan sebagainya. Jangan melewatkan waktu-waktu beribadah di Gereja dimana kita bisa berinteraksi dan bersatu dalam kesatuan untuk menyembah Tuhan dan menguatkan satu sama lain.

Ke Gereja seminggu sekali saja tidaklah cukup, apalagi jika anda masih belum memiliki satu Gereja pun untuk bertumbuh. Ke gereja saja tidak cukup apabila anda tidak membangun hubungan dengan saudara-saudari disana. Jika saat ini anda masih mengabaikan salah satu pesan penting Tuhan untuk memiliki iman yang terus bertumbuh, ambil satu Gereja dimana anda bisa bertumbuh dan berbuahlah disana. Ambil waktu untuk saling mengenal satu sama lain. Jadilah bagian yang baik dari sebuah tubuh Kristus, bersekutulah dalam doa, pujian dan penyembahan, dan hendaklah saling bantu, saling mengingatkan dan saling menasihati. Kita tidak akan kuat berjalan sendirian, teman kita pun demikian. Mari kita bersatu dalam kasih, saling menguatkan dalam persekutuan-persekutuan kita dimana Kristus bertahta di dalamnya.

Tidak ada manusia yang bisa tetap kuat seorang diri

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Incoming search terms:

0saves


If you enjoyed this post, please consider leaving a comment or subscribing to the RSS feed to have future articles delivered to your feed reader.

Related Posts to "Membangun Hubungan yang Saling Menguatkan"

Response on "Membangun Hubungan yang Saling Menguatkan"