Membaca Alkitab Atau Kitab Suci, Mulai Dari Mana?

Membaca Alkitab Atau Kitab Suci, Mulai Dari Mana? Tano Shirani Self Management, Faith and Spirituality

Ini pertanyaan banyak dari antara kita yang ingin sekali bisa secara rutin membaca Alkitab atau Kitab Suci. Ada yang sudah mencoba membaca dari Kitab Kejadian dengan tekad untuk terus hingga Kitab Wahyu, tetapi terhenti di tengah jalan. Banyak yang sudah berhenti ketika sampai ke Kitab Imamat. Ada juga yang mulai dengan baca Kitab Wahyu, dan karena pusing dengan berbagai simbol, akhirnya tidak lagi membaca. Yang lain, mulai dengan Injil Yohanes, dan menjadi putus asa juga dengan isinya yang sulit dipahami. Jadi, harus bagaimana?

Tips Untuk Pemula

Santo Hieronimus pernah berkata, “Tidak mengenal Kitab Suci berarti tidak mengenal Kristus.” Dengan dasar itu, berikut ini adalah sedikit usulan praktis. Prinsipnya, bacalah dari yang paling sederhana hingga yang paling sulit. Bagi pemula, baiklah mulai dengan Perjanjian Baru.


Ingat: kalau ada bagian yang sulit dipahami, tandai saja dulu, catat, lalu bisa “belajar” lebih jauh dengan baca buku atau tanya ke yang lebih tahu. Yang penting, kamu bisa menyelesaikan baca seluruh Perjanjian Baru terlebih dahulu. Catat juga “ayat-ayat favorit” atau “ayat-ayat yang paling menyentuh” bagimu. Ini akan ada banyak gunanya bagi hidupmu karena itulah sabda Tuhan yang hidup bagimu saat ini.

Urutan Buku Untuk Dibaca

Bayangkan dirimu sebagai orang yang hidup di abad pertama Masehi. Kamu adalah orang yang baru saja menjadi pengikut Yesus. Mulailah dengan membaca 1Tesalonika. Ini tulisan tertua dalam Perjanjian Baru. Orang zaman dulu menerima surat ini dari Paulus.


Karena ingin tahu lebih banyak tentang Yesus yang diwartakan oleh Paulus ini, bacalah Injil Markus. Ini adalah Injil yang pertama ditulis. Dengan bekal pemahaman dasar itu, bacalah Injil Matius, lalu Injil Lukas. Karena Lukas punya jilid lanjutannya, maka sesudah membaca Injil Lukas, bacalah Kisah Para Rasul supaya kamu punya gambaran bagaimana para pengikut Yesus berkembang. Barulah kamu bisa membaca Injil Yohanes. Setelah semuanya itu, bacalah 2Tesalonika.


Di tahap ini, kamu mungkin penasaran terhadap pergulatan jemaat Gereja pada masa itu. Bacalah 1Korintus, dan 2Korintus. Dalam konteks carut-marut jemaat, kamu juga jadi penasaran mengenai pergulatan para pelayan dalam jemaat. Bacalah 1Timotius dan 2Timotius. Untuk memperluas wawasan terkait dengan orang-orang tertentu, lanjutkan dengan membaca juga Titus dan Filemon.


Bayangkan bahwa sampai di sini, kamu sebagai pengikut Yesus di abad pertama itu sudah lebih tahu tentang kisah hidup Yesus, dan pergulatan jemaat, serta tokoh-tokoh tertentu di sana. Dengan ini, kamu sudah lebih siap untuk membaca yang lebih rumit. Bacalah berturut-turut Filipi, Kolose, Efesus. Setelah kamu selesai dengan yang berlabel “surat-surat Paulus,” bacalah surat-surat pastoral yang lain supaya gambaranmu tentang Gereja lebih luas lagi, yaitu 1Petrus, 2Petrus, Yakobus, Yudas.


Pada tahap ini, kamu sudah semakin siap untuk semakin puyeng dengan yang lebih rumit. Untuk pemanasan, bacalah 1Yohanes, 2Yohanes, 3Yohanes. Lalu bacalah dengan urutan ini, Ibrani, Galatia, Roma. Kamu akan merasakan bahwa persoalan teologis yang dibahas akan semakin sulit. Terus membaca. Jangan menyerah. Barulah setelah itu semua, kamu bisa membaca Wahyu.

Alternatif Lain

Kamu juga bisa mencoba membaca bersama. Misalnya, minta temanmu membacakan salah satu “surat” dari Perjanjian Baru. Lalu, kamu membacakan “surat” yang sama untuknya. Rasakan emosi yang ada dengan memberi intonasi khusus di bagian-bagian tertentu. Selamat mencoba!


Verbum Dei Manet in Aeternum! Sabda Allah Tetap Selamanya!


Sumber: Inspire.com

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply